
Uzone.id - Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta sedang berusaha mengurai kemacetan di persimpangan jalan dengan mengandalkan lampu merah pintar. Dengan mengandalkan teknologi artificial intelligence (AI) kira-kira bagaimana cara kerjanya?
Kepala Dinas Pehubungan (Dishub) DKI Jakarta Syafrin Liputo mengatakan data dari TomTom Traffic Index menunjukkan kemacetan di Jakarta tidak ada perbaikan yang signifikan. Oleh karenanya, Dishub sedang mencoba mencari solusi baru."Terakhir tahun 2023 data menunjukkan bahwa tingkat kemacetan Jakarta secara overall dihitung secara utuh sepanjang tahun itu di angka 53 persen. Melihat data ini, kita mencoba memetakan apa yang menjadi akar permasalahan kemacetan Jakarta tidak turun signifikan dibandingkan dengan kota-kota lain di dunia," ujar Syafrin dikutip dari Youtube Pemprov DKI Jakarta.
"Kemudian kita melihat bahwa salah satu akar permasalahan kota Jakarta adalah pengaturan lampu lalu lintasnya yang kita masih statis," lanjutnya.
Menurut Syafrin, pada lampu merah statis, pengendara yang berhenti di salah satu simpang jalan yang ramai mungkin bisa tertahan lampu merah lebih lama.
Sedangkan di sisi jalan lain yang lebih sedikit lalu lintasnya, justru bisa lebih lama menyala lampu hijaunya.
"Ini menyebabkan inefisiensi ruang di setiap persimpangan yang ada di Jakarta. Kendaraan yang padat diberikan waktu hijau sedikit, sementara simpang yang sepi diberikan waktu hijau yang panjang. Ini yang menyebabkan antrean begitu masif. Oleh sebab itu, kita melihat ini yang harus diatasi," sebutnya.
Dishub DKI Jakarta pun telah menghadirkan Intelligent Traffic Control System (ITCS) yang menggunakan basis AI.
"Dengan ITCS banyak fitur yang bisa dimanfaatkan oleh daerah. Tapi saat ini kita masih fokus ke dalam 3 fitur. Yang pertama adalah fitur adaptif. Jadi keseluruhan traffic itu dipotret, kemudian dianalisis, kemudian dikembalikan dalam bentuk waktu hijau yang sifatnya realtime sesuai dengan kebutuhan di lapangan," ungkapnya.
Syafrin menyebutkan fitur kedua adalah responsif, di mana ITCS akan menganalisis dan menghitung berapa maksimum kebutuhan lampu hijau di suatu kaki persimpangan.
Yang ketiga, sistem ITCS juga bisa memberikan jalan untuk kendaraan darurat agar lebih cepat sampai ke tujuan.
"Dengan ITCS ini, kita bisa memberikan VIP route kepada kendaraan yang sifatnya khusus seperti ambulans dan pemadam kebakaran, kemudian dia bisa bergerak dengan cepat ke tujuan," papar Syafrin.
"Tentu dengan intelligent transport system, maka kemudian ITCS ini bisa memprediksi, menghitung secara realtime berapa total kebutuhan green light di simpang, kemudian otomatis akan didistribusikan secara normal. Dalam artian kebutuhan waktu (lampu lampu) hijau yang panjang diberikan kepada kaki persimpangan dengan volume lalu lintas tinggi. Begitu di kaki persimpangan volume lalu lintas rendah, otomatis akan diberikan waktu hijau lebih sedikit," terangnya.
Sebenarnya wacana lampu merah yang terintegrasi dengan AI ini bukan wacana baru, Pemprov DKI Jakarta sudah merencanakannya sejak beberapa bulan lalu.
Sayangnya belum ada kejelasan di mana lampu merah ini akan dipasang terlebih dahulu dan kapan implementasinya dari pemerintah.
Namun berdasarkan berita sebelumnya, Pemprov DKI Jakarta berniat untuk memasang ITCS di 25 lokasi hingga akhir tahun 2025.
Harapannya hingga lima tahun ke depan, teknologi pintar ini bisa terpasang di 321 persimpangan di DKI Jakarta.