icon-category Travel

Changi dan Soekarno Hatta Dua Bandara Terpadat

  • 13 Jun 2016 WIB
  • Bagikan :
    | June 13, 2016 11:00 am

    Asosiasi Transportasi Udara Internasional (IATA) menilai Indonesia memiliki potensi industri penerbangan yang sangat besar. Pada 2034, Indonesia diprediksi masuk enam besar kelompok negara untuk perjalanan udara tertinggi, dengan jumlah penumpang mencapai 270 juta orang per tahun.

    Badan usaha milik negara (BUMN) penyedia layanan navigasi penerbangan, AirNav Indonesia, melalukan sejumlah persiapan. Beberapa di antaranya adalah merestrukturisasi ruang udara, merevitalisasi alat produksi, melakukan sinergi dengan perencanaan pengembangan bandara, serta penyempurnaan manual dan prosedur operasional.

    Sejak satu dekade terakhir, industri penerbangan berkembang pesat. Lima tahun lalu, pertumbuhan penumpang bahkan mencapai dua kali lipat dari pertumbuhan ekonomi. “Pertumbuhan penumpang ini tentu berdampak pada meningkatnya lalu lintas penerbangan,” kata Direktur Utama AirNav Indonesia, Bambang Tjahjono kepada wartawan Katadata, Maria Yuniar Ardhiati, dalam wawancara tertulis, Jumat, 3 Juni 2016.

    Berapa jumlah penerbangan domestik dan internasional saat ini, terutama untuk Bandara Soekarno Hatta?

    Jika dilihat secara keseluruhan, traffic movement domestik dan internasional Bandara Soekarno Hatta sebanyak 1,43 juta pada tahun lalu. Pada tahun 2013 tercatat 1,33 juta movement dan jumlah ini naik menjadi 1,42 juta di tahun 2014. Dalam laporan kinerja tahun 2015, di Indonesia ada 146,1 juta rute penerbangan dalam negeri. Sedangkan penerbangan luar negeri 91,4 juta rute. Traffic yang mengalami peningkatan signifikan ada di empat lokasi, yaitu, Makassar, Yogyakarta, Halim Perdanakusuma, dan Pontianak.

    Jika dibandingkan dengan negara lain, tingkat kepadatan lalu-lintas udara di Indonesia menyaingi negara mana?

    Dua bandara terpadat adalah Changi dan Soekarno Hatta. Sebagai perbandingan, jumlah movement per hari di Changi adalah 970 take off – landing. Sementara itu di Soekarno Hatta mencapai 1.200 take off-landing per hari.

    Dengan kepadatan penerbangan saat ini, apakah jumlah pemandu lalu lintas udara atau air traffic controller (ATC) yang bertugas sudah ideal?

    Berdasarkan data per Maret 2016, sebanyak 41 persen dari 3.407 sumber daya manusia (SDM) AirNav adalah ATC. Untuk kondisi saat ini, SDM yang ada masih dapat memenuhi kebutuhan layanan navigasi penerbangan. Namun untuk ke depannya, pertumbuhan penerbangan tentu membuat kebutuhan SDM semakin tinggi. Belum lagi sejumlah ATC memasuki usia pensiun. Pada 2019 kami membutuhkan 1.963 orang ATC. Maka dalam kurun waktu empat tahun, jumlah ATC diusahakan bertambah sebanyak 417 orang untuk mencapai ideal.

    Komponen apa saja yang harus dipertimbangan agar jumlah ATC ideal dengan angka penerbangan?

    Sesuai dengan Peraturan Direktur Jenderal Perhubungan Udara Nomor KP 28 Tahun 2015 tentang Pedoman Teknis Operasional Pemandu Lalu-lintas Penerbangan, ada tiga komponen penghitungan korelasi antara jumlah penerbangan dan ATC. Ketiganya adalah jumlah shift, working position, serta movement pesawat.

    Apa saja yang diupayakan AirNAv Indonesia untuk memenuhi kebutuhan dalam sisi infrastruktur dan sumber daya?

    Dalam bidang infrastruktur, AirNav menjalin kerja sama dengan konsultan dari Amerika Serikat, yaitu MITRE Corporation untuk memodernisasi sistem navigasi. Kami namakan Indonesia Modernization Air Navigation System (IMANS). Sementara itu di sisi SDM, selain penambahan kuantitas dan kualitas, kami juga telah menandatangani kerja sama dengan lembaga pelatihan asal Prancis, Ecole Nationale de L’aviation Civile (ENAC).

    Kerja sama dilakukan dalam bidang pendidikan magister serta pelatihan singkat manajemen pelayanan navigasi penerbangan. Sebelumnya, AirNav Indonesia juga menjalin hubungan dengan penyelenggara pelayanan navigasi asal Inggris Raya, NATS, untuk memberikan pelatihan kepada ATC AirNav Indonesia.

    Beberapa waktu lalu terjadi kecelakaan maupun insiden di Bandara Halim Perdanakusuma (senggolan pesawat Batik Air dengan Transnusa) serta Bandara Soekarno Hatta (dua pesawat Lion Air bersenggolan). Apa yang luput dari pantauan ATC ketika itu?

    Kecelakaan Batik Air dan Transnusa bukan hanya disebabkan oleh satu faktor, tapi berbagai faktor. Dari sisi prosedur dan layanan navigasi, AirNav memastikan layanan di Halim sesuai regulasi. Jangan lupa, Halim juga melayani VVIP, jadi layanan yang kami berikan maksimal. Untuk lebih jelasnya, kami tunggu hasil Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) saja.

    KNKT telah mengambil semua berkas standar operasional prosedur (SOP) ATC. Selain itu, KNKT juga melakukan pemeriksaan fakta lapangan dan situasi kerja di lingkungan ATC Bandara Halim Perdanakusuma.

    Cek informasi menarik lainnya di Google News

    Bantu kami agar dapat mengenal kalian lebih baik dengan mengisi survei di sini