ChatGPT Hadirkan ‘Mode Belajar’, Tak Lagi Kasih Jawaban Instan

Ilustrasi ChatGPT (Foto: AI generated-content)
Uzone.id - OpenAI sadar, ChatGPT bukan cuma dipakai buat bekerja atau oleh kalangan profesional saja. ChatGPT juga semakin dekat dengan keseharian para remaja untuk belajar, seperti mencari informasi, mengembangkan ide, sampai mengekspresikan kreativitas.
OpenAI menyebut hampir sembilan dari sepuluh remaja menggunakan ChatGPT setiap minggunya. Penggunaannya juga bukan sebatas untuk mengerjakan tugas, tetapi juga mencari informasi, membangun keterampilan, dan meningkatkan produktivitas.Makanya, OpenAI menghadirkan pengalaman ChatGPT yang disesuaikan untuk pengguna remaja. Sejumlah fitur baru pun dihadirkan untuk mendukung proses belajar sekaligus memberikan perlindungan sesuai usianya.
Salah satu fiturnya adalah Mode Belajar. Dalam mode ini, ChatGPT tidak langsung memberikan jawaban akhir, tapi membimbing pengguna untuk memahami materinya terlebih dahulu secara bertahap.
ChatGPT dapat memberikan pertanyaan panduan, menyesuaikan penjelasan dengan tingkat pemahaman pengguna, serta memecah topik yang rumit menjadi bagian-bagian yang lebih mudah dipelajari.
Pengguna juga dapat mengunggah materi pelajaran sebagai referensi. ChatGPT kemudian dapat mengolahnya menjadi latihan soal, kuis, atau simulasi ujian untuk membantu pengguna mengetahui bagian mana yang masih perlu dipelajari lebih dalam.
Misalnya, pengguna dapat meminta ChatGPT menjelaskan suatu topik sesuai jenjang kelas, kemudian memberikan pertanyaan panduan tanpa langsung membocorkan jawabannya.
Dengan pendekatan tersebut, OpenAI ingin ChatGPT tetap digunakan sebagai alat bantu belajar, bukan sekadar mesin pencari jawaban yang instan. Pengguna tetap didorong untuk mencoba, menilai informasi, dan berpikir secara mandiri.
OpenAI juga menambahkan pengingat istirahat untuk remaja yang menggunakan ChatGPT dalam waktu lama. Nantinya, ChatGPT dapat meminta pengguna berhenti sejenak sebelum melanjutkan percakapan.
Fitur ini ditujukan untuk menjaga keseimbangan penggunaan teknologi. OpenAI ingin remaja tetap melihat AI sebagai pelengkap aktivitas belajar, berkarya, dan berinteraksi di dunia nyata.
Selain fitur belajar, OpenAI menghadirkan Pengawasan Orang Tua. Lewat fitur ini, orang tua atau wali dapat menautkan akunnya dengan akun ChatGPT yang digunakan anak.
Setelah terhubung, orang tua dapat menetapkan jam tenang, mengelola akses ke Mode Suara dan pembuatan gambar, mengurangi paparan terhadap konten sensitif, serta menjadikan Mode Belajar sebagai pengaturan bawaan untuk setiap percakapan baru.
Untuk mengaktifkannya, orang tua dapat membuka menu Pengaturan, memilih Pengawasan Orang Tua, kemudian menekan Tambahkan anggota keluarga. Undangan akan dikirim melalui email atau nomor telepon yang terhubung dengan akun anak.
Setelah undangan diterima, orang tua dan remaja dapat meninjau pengaturannya bersama. Namun, penautan akun ini tidak memberikan akses kepada orang tua untuk membaca atau memantau percakapan anak secara terus-menerus.
ChatGPT turut dibekali perlindungan yang disesuaikan dengan usia pengguna. Saat percakapan berkaitan dengan keselamatan, kesehatan mental, atau topik sensitif lainnya, sistem akan memberikan respons secara lebih hati-hati.
Dalam situasi tertentu, ChatGPT juga dapat mendorong pengguna untuk mencari dukungan dari orang tua, wali, atau orang dewasa lain yang dipercaya.
Sebagai informasi, ChatGPT ditujukan untuk pengguna berusia minimal 13 tahun. Pengguna berusia 13 hingga 18 tahun tetap memerlukan persetujuan orang tua atau wali.
Sementara untuk kegiatan belajar yang melibatkan anak berusia di bawah 13 tahun, OpenAI menyarankan penggunaan ChatGPT dilakukan oleh orang dewasa sebagai pendamping.

