
China secara resmi mengakhiri misi dan seluruh fasilitas penelitian orbital yang terdapat di stasiun luar angkasa Tiangong-2. Sebelumnya pada Jumat (19/7) lalu Tiangong-2 dilaporkan terbakar saat mengorbit dan jatuh di Samudera Pasifik bagian selatan.
Bereda dengan ISS, Tiangong-2 merupakan stasiun antariksa berukuran kecil yangmenjadi bagian dari misi orbit China tahun 2016. Misi ini bertujuan menguji sejumlah teknologi orital negeri Tirai Bambu tersebut.
Taikonaut (sebutan untuk astronaut China) diketahui telah mengunjungi Tiangong-2 secara ruting untuk melakukan percobaan, mengisi bahan bakar orbital, dan lainnya. Namun, Tiangong-2 tidak dilengkapi dengan sejumlah komponen seperti di Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS) milik Badan Antariksa Amerika Serikat (NASA).
Lihat juga:10 Fakta yang Jarang Terungkap di Misi Apollo 11 |
Sebelumnya, pada 2018 lalu, stasiun luar angkasa pertama China Tiangong-1 sempat jatuh ke permukaan Bumi akibat kehilangan kemampuannya untuk memperbaiki ketinggian.
Tiangong-1 memiliki ukuran yang cukup besar. Berat dari bangkai kendaraan ini berkisar di 9.500 kilogram dan bentuknya cukup padat.
Tiangong-1 sebenarnya dirancang untuk hanya digunakan hingga 2013 namun China memutuskan untuk memperpanjang penggunaannya. Sayangnya pada 2016, China mengumumkan mereka telah kehilangan kontak dengan Tiangong-1. Mereka juga kehilangan kendali atas satelit ini.