Auto

China Penguasa Pasar Mobil Indonesia setelah Jepang

  • 16 July 2018
  • Bagikan :

    Bayang-bayang kelam merek China di Indonesia mulai cerah setelah pemain baru, Wuling, datang membawa perubahan besar. Perusahaan otomotif asal negeri tirai bambu itu menjadi penguasa penjualan mobil terbesar ke-2 di Indonesia setelah Jepang.

    Pada semester pertama tahun ini, berdasarkan data wholesales Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), penjualan mobil di Indonesia mencapai 553.757 unit. Representatif Jepang, ada 12 merek, menguasai pasar sampai 97,5 persen (539.885 unit).

    Kubu China, yang diisi Wuling, Sokonindo, dan Faw, meraup 1,6 persen (8.675 unit). Penyumbang terbesar buat grup China adalah Wuling yang mencatatkan penjualan 8.120 unit, diikuti Sokonindo yang masih mengandalkan pikap dengan hasil 269 unit, dan Faw 161 unit di segmen komersial.

    Pada hasil total tahun lalu, China berhasil loncat dari posisi buncit ke-3 yang dihuni kubu Korea Selatan. Pada semester satu tahun ini, manufaktur China semakin besar sampai bisa menggeser merek Eropa yang sudah cukup lama bertengger di posisi dua.

    Hasil bagus kubu China, 8.675 unit, dimotori oleh Wuling yang semakin banyak menjual Confero S serta mulai menumpuk pesanan Cortez 1.5L. Potensi kubu China membesar terbuka lebar sebab Sokonindo berencana merilis resmi model baru DFSK Glory 580.

    Merek China meningkat, namun merek Eropa berkutat dengan urusannya, salah satunya Mercedes-Benz. Dari 10 merek Eropa cuma sanggup menjual 3.907 unit pada semester satu 2018. Padahal, pada periode yang sama tahun lalu, merek Eropa bisa menjual sampai 5.690 unit.

    Faktor utama penjualan kubu Eropa melemah sebab Mercedez-Benz tidak lagi menyetor data ke Gaikindo yang berujung pada pemecatan Mercedez-Benz dari Gaikindo pada Februari lalu.

    KPPU soroti setoran data APM ke Gaikindo

    Gaikindo akhirnya menentukan sikap mengeluarkan Mercedes-Benz Indonesia dan Mercedez-Benz Distribution Indonesia dari keanggotaan karena tidak mau menyerahkan data penjualan. Menurut Gaikindo tidak adil buat 40 anggota lainnya bila hanya Mercedez-Benz yang tidak melakukannya.

    Namun sebaliknya, pengumpulan data penjualan para Agen Pemegang Merek (APM) oleh Gaikindo saat ini sedang dipantau oleh Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) yang baru saja memiliki 9 anggota baru untuk masa bakti 2018-2023.

    KPPU berpendapat pengumpulan data yang dilakukan sesama pengusaha berpotensi menciptakan praktek negatif. Rekomendasi KPPU, agar para APM tidak menyerahkan data penjualan ke Gaikindo.

    Gaikindo yang sudah pernah mendiskusikan tentang pengumpulan data penjualan ke anggota lama KPPU menyatakan punya landasan hukum melakukannya, yaitu Peraturan Menteri Keuangan Nomor 79 Tahun 2013. Gaikindo merupakan asosiasi yang kepengurusannya berasal dari perwakilan anggotanya sendiri.

    Antisipasi merek China

    Menurut Sekretaris Jendral Gaikindo Kukuh Kumara, penjualan deras Wuling, yang kini berada di peringkat 9 dari 10 merek terlaris di Indonesia, bukan sesuatu yang bikin kaget. Dia menilai prestasi itu dampak keseriusan investasi yang sudah dilakukan.

    "Itu sesuatu kewajaran, mengenai keseriusan dia. Dibanding Korea Selatan kan ragu-ragu," kata Kukuh saat dihubungi CNNIndonesia.com.

    Produsen dan pemegang merek Wuling, SGMW Motor Indonesia, telah mengucurkan investasi sebesar Rp9,6 triliun untuk beroperasi di Indonesia. Sebagian besar investasi itu dialokasikan pada pembangunan pabrik di lahan seluas 60 hektar di Bekasi, Jawa Barat.

    Pabrik diseting berkapasitas 120.000 unit per tahun dan memiliki area konsentrasi pabrik penyuplai komponen untuk memangkas biaya logistik. Inilah bukti niat jangka panjang pemain baru China, tidak seperti para seniornya.

    Kukuh mengatakan denah pabrik Wuling yang memiliki lahan khusus buat produsen komponen bisa ditiru investor baru lainnya yang ingin mencicipi otomotif dalam negeri. Dia menjelaskan sudah pernah mewacanakan soal hal itu kepada Kementerian Perindustrian.

    Idenya yaitu pemerintah menyediakan lahan untuk disewa investor, misalnya selama 50 tahun. Tujuannya agar besar investasi yang disiapkan tidak habis banyak untuk membeli lahan. Sekitar 30 persen dari seluruh investasi digunakan untuk membeli lahan.

    "Jadi konsentrasi lahan, siapapun yang mau investasi bisa. Pemerintah menyediakan, nanti disewa. Pemerintah menyediakan hak guna bangunan. Jadi dia bisa menggunakan modal investasi lahan untuk alat sehingga bisa ekspor dan berbuat lebih banyak," ucap Kukuh.

    Hasil penjualan nasional semester I 2018:

    Jepang 539.885 unit
    China 8.675 unit
    Eropa dan AS 3.907 unit
    India 538 unit
    Korea 739 unit
    Malaysia 13 unit

    Hasil penjualan nasional 2017:

    Jepang 1.060.010 unit
    Eropa dan AS 10.695 unit
    China 5.418 unit
    Korea Selatan 2.108 unit
    India 1.065 unit
    Malaysia 12 unit

    Berita Terkait