
Bicara soal kuliner Yogyakarta lebih pas bicara gudeg. Tapi bukan warung lesehan yang sempat jadi perbincangan di media sosial gara-gara harganya yang keterlaluan itu.
Lini massa pencinta gudeg pun tak kalah ramai. Mereka kehilangan sosok Mbah Lindu, 97 tahun, yang berjualan gudeg sejak 1942 dengan resep yang tak berubah dari tahun ke tahun."Proses mengaduknya ini dinamakan hangudeg, ini cikal-bakal nama gudeg," kata dia. Kemudian, kata dia, para prajurit menemukan cita rasa yang semakin mantap ketika masakan ini terus dipanaskan, terus diudeg agar tidak gosong. "Karena terus diudeg jadilah namanya gudeg," kata dia.
Murdijati mengatakan gudeg disebutkan pula dalam Serat Centhini yang ditulis pada 1819-1823. Di situ gudeg disebut sebagai makanan rakyat di Jawa. Murdijati menuturkan gudeg menyebar ke sekitar Yogyakarta saat prajurit Mataram berjalan menuju Batavia.
"Saat geger VOC, mereka memasak gudeg dari nangka yang tumbuh di sepanjang jalan," kata dia.
Berita lainnya:
Nangka, Buah dan Bijinya Sama Bermanfaat
Nangka Makin Populer di Dunia Barat
Blueberry Coconut Slush
Berita Terkait: