Startup

Clubhouse Mulai Pede Garap Pasar Indonesia, Ini Buktinya

  • 16 November 2021
  • Bagikan :
    Clubhouse Mulai Pede Garap Pasar Indonesia, Ini Buktinya

     

    Uzone.id - Setelah lebih dari satu tahun netizen RI menjajal aplikasi Clubhouse, kini platform percakapan audio itu memberanikan diri untuk menggarap pasar Indonesia lebih serius lagi. Mereka percaya diri jika Clubhouse bisa menjadi salah satu aplikasi sosial yang bisa diandalkan oleh pengguna di Indonesia.

    Mereka juga menanggapi santai soal kompetisi dari media sosial besar yang turut mengadopsi percakapan audio. Menurut mereka, adopsi itu merupakan bukti jika tren percakapan audio cukup menjanjikan di masa depan.

    "Memasukkan audio ke platform mereka sama dengan misi mereka menggabungkan foto, video dan lainnya. Itu merupakan hal yang positif, menunjukkan konten audio tumbuh dengan pesat. Namun mereka yang bisa memenangkan pasar adalah perusahaan yang fokus di satu medium tersebut, dan yang membedakan pada akhirnya adalah komunitasnya," kata Paul Davison, Co-founder & CEO, Clubhouse, dalam konferensi audio di platform tersebut, Selasa, 16 November 2021.

    Baca juga: Clubhouse Tambah 13 Bahasa Baru, Ada Indonesia

    Oleh karena itu, mereka ingin mulai menggarap pasar-pasar yang potensial, salah satunya adalah Indonesia. Meski tidak memberikan jumlah pasti berapa pengguna Clubhouse di Indonesia, dia yakin jika penggunanya terus tumbuh, bahkan dari Indonesia.

    Data yang mereka paparkan, saat ini saja dalam kurun satu tahun ada lebih dari 10 juta pengguna baru. Dari angka tersebut, terdata ada satu miliar back channel message sejak Clubhouse meluncur pertama kali. Bahkan peningkatan jumlah room pun cukup signifikan, dari 300 ribu di awal kemunculan menjadi 700 ribu room setiap harinya saat ini.

    "Tim kami juga berkembang, hampir 100 orang. Yang menarik, satu pengguna di platform kami rata-rata mendengarkan konten selama 70 menit setiap harinya. Mereka tak hanya mendengarkan tapi juga berbicara," kata Paul, yang mengaku membuat Clubhouse bersama Rohan Seth karena sudah tak lagi muda dan tak ingin membangun aplikasi media sosial yang sama seperti lainnya.

    Baca juga: 3,8 Miliar Nomor Ponsel Pengguna ClubHouse Tak Laku Dijual Hacker

    Paul menyadari jika di awal kemunculannya, banyak hal yang terjadi, termasuk server yang sempat down karena satu room bisa dipenuhi 1000 lebih pendengar. Namun hal itu dianggap sebagai hal yang wajar bagi sebuah platform baru. Makanya, Clubhouse terus berbenah diri, termasuk membuat banyak fitur yang berguna.

    Beberapa fitur yang sudah mereka adopsi seperti Wave (raise hand untuk bertanya), back channel (direct message), payment, attachment untuk memberikan dokumen, clips yang bisa memotong waktu/klip audio jika diizinkan oleh host, backlink dan replay (hasil pembicaraan bisa disimpan dan putar berkali-kali, serta penggunaan bahasa lokal.

    "Kami harap fitur-fitur ini bisa di adopsi oleh pengguna di Indonesia. Bahkan di luar negeri para jurnalis banyak yang telah memanfaatkan Clubhouse untuk menyebarkan berita terkini. Apa yang terjadi di dunia kini dibicarakan di Clubhouse juga," ujar Paul.

    Bantu kami agar dapat mengenal kalian lebih baik dengan mengisi survei di sini