icon-category Startup

Dari 1.000, Cuma 150 Startup yang Berhasil, Miris atau Wajar?

  • 17 Oct 2019 WIB
  • Bagikan :

    Ilustrasi. (Foto: Freepik)

    Uzone.id - Beberapa tahun belakangan, masyarakat Indonesia lagi getol mendirikan startup alias perusahaan perintis. Buktinya, pada 2019, Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) mencatat ada 1.018 startup berbasis finansial, e-commerce, sampai agribisnis di Tanah Air.

    Ironisnya banyak startup yang tumbang walaupun mempunyai dukungan sumber daya manusia dan modal yang cukup.

    Baca juga: Waduh, 42 Persen Cyberbullying Terjadi di Instagram

    Menurut Deputi Infrastruktur Bekraf Hari Santosa Sungkari, bahwa banyak startup yang tumbang adalah fenomena wajar.

    “Startup banyak yang tumbang? Biasa. Selama saya empat tahun di Bekraf, ada 1.000 startup yang kita bina, mungkin yang jadi baru 150. Itu normal-normal saja,” ungkap Hari dalam diskusi bertema Berkolaborasi Menghadapi Titik Jenuh Komunitas Startup di Indonesia oleh DreamHub di Jakarta, Rabu (16/10).

    Baca juga: Catat Nih, 5 Tips Bangun Startup di Indonesia

    Menurutnya, startup yang mengadapi titik jenuh adalah startup yang tidak mengerti bisnis model. Karena itu, Hari mengatakan, “Kita harus mencetak startup yang profitable sustainable, dan mengacu pada masalah.”

    Mendirikan startup berdasarkan masalah bisa membuat startup tetap bertahan hidup. “Kalau dimulai dari masalah, konsumen akan dengan rela membayar,” ungkap Hari.

    Baca juga: Udah Kebanyakan, E-Commerce di Indonesia Dinilai Hadapi Titik Jenuh

    Sementara itu, Associate Venturra Discovery Karissa Adelaide mengatakan bahwa ekosistem startup di Indonesia masih menyimpan banyak potensi dan kesempatan berkembang yang luas.

    Kolaborasi dan komitmen dari seluruh pemangku kepentingan juga diperlukan untuk membangun ekosistem startup sehingga menghasilkan inovasi, solusi yang dapat diterima oleh pasar, dan model bisnis yang berkelanjutan.

    Bantu kami agar dapat mengenal kalian lebih baik dengan mengisi survei di sini