
Sebelum 1951, Oei Wie Gwan adalah pemilik pabrik mercon di Rembang. Menurut Amen Budiman dan Ong Hok Ham dalam Rokok Kretek: lintasan sejarah dan artinya bagi pembangunan bangsa dan negara (1987), mercon bikinan Oei dipasarkan dengan merek "Leo" dan sangat terkenal di seluruh Jawa (hlm. 199). Ia memulai bisnis mercon pada 1930-an.
Dalam catatan Jongki Tio di buku Kota Semarang Dalam Kenangan (2000), mercon cap Leo dikirim juga ke luar negeri, bahkan mereknya masih dipakai meski pabriknya sudah tutup (hlm. 60).
Bisnis mercon tak selamanya benderang seperti percikan kembang api. Jika api salah menyala, pabrik mercon bisa meledak. Ada berita lawas di harian Bataviaasch Nieuwsblad (28/1/1938) yang menyebut pabrik mercon meledak di Rembang. “Pabrik kembang api Oei Wie Gwan di Rembang terbang ke udara sepuluh menit sebelum jam dua siang. Lima pekerja pabrik tewas seketika, 22 luka berat dan 14 luka ringan. Dari yang terluka berat, sembilan orang tewas di rumah sakit.”
Sebagai orang Tionghoa-Indonesia, Oei Wie Gwan terus berbisnis. Mau krisis atau perang, dia harus berbisnis. Perang Pasifik yang disertai pendudukan Jepang pun harus dia lalui.
Setelah Indonesia merdeka, Oei memulai langkah penting dalam hidupnya. Dia membeli sebuah pabrik rokok kretek kecil di Kudus pada 1951. Setelah mercon, Oei Wie Gwan mencoba peruntungan di bisnis rokok—tak jauh dari memproduksi barang yang harus dibakar.
Anak-anak Oei Wie Gwan kemudian tak hanya berbisnis rokok. Langkah mereka di dunia perbankan tentu menjadi perhatian. Di masa-masa setelah krisis moneter di Indonesia, menurut Borzuk dan Chng, Djarum membeli saham Bank Central Asia (BCA) yang sebelumnya dimiliki Liem Sioe Liong. BCA merupakan salah satu bank yang diambil alih pemerintah setelah dihantam krisis. Setelah beberapa tahun "dirawat" pemerintah, BCA kemudian dilepas lagi.
Djarum memilikinya melalui PT Dwimuria Investama Andalan, dengan saham lebih dari 50 persen. Djarum juga menguasai Global Digital International (GDI), sebuah perusahaan yang memiliki media daring bernama Kumparan.
Di bidang perhotelan, menurut Deddy Pakpahan dalam Potret industri properti nasional, 1997-2003 (2004: 292), lewat PT Cipta Karya Bumi Indah memiliki saham di Hotel Indonesia Kempinski (Eks Hotel Indonesia). Selain itu, Djarum cukup sukses memasarkan superblok dan pusat grosir WTC Mangga Dua.
Hingga saat ini, selain dikenal dengan beasiswanya, Djarum dikenal pula dengan bulu tangkisnya. Anak Oei Wie Gwan sudah aktif memajukan bulu tangkis sejak 1970-an. Liem Swie King, dalam autobiografinya, Panggil Aku King (2009), mengaku, dirinya diajak salah satu anggota keluarga Hartono untuk latihan bulu tangkis di klub Djarum Kudus (hlm. 27).
Usaha besar yang punya hari jadi mirip Hari Kartini ini terus bertahan hingga sekarang. Pemiliknya, Michael dan Robert bahkan termasuk orang-orang terkaya Indonesia. Tak heran, setelah meraih medali perunggu di cabang bridge pada Asian Games 2018, Michael mengaku uang bonusnya akan "dikembalikan" untuk pengembangan olahraga banting kartu itu.
Baca juga artikel terkait PERUSAHAAN ROKOK atau tulisan menarik lainnya Petrik Matanasi