Dear Prabowo, Ini Syaratnya Motor Listrik Nasional Mau Sukses di RI
.jpg&w=3840&q=75)
Uzone.id - Rencana pemerintah untuk meluncurkan motor listrik nasional bisa menjadi titik balik penting bagi kebangkitan industri manufaktur Indonesia. Jika digarap dengan serius dan melibatkan industri dalam negeri, proyek ini punya potensi besar untuk memperkuat fondasi ekonomi nasional.
Analis Kebijakan Ekonomi Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), Ajib Hamdani, menilai langkah yang digagas Presiden Prabowo Subianto ini adalah momentum krusial untuk mendorong reindustrialisasi.Menurutnya, Indonesia saat ini sangat membutuhkan "motor penggerak" baru agar sektor manufaktur kembali berjaya menjadi tulang punggung perekonomian.
“Hal ini tentunya menjadi angin segar agar sektor manufaktur bisa kembali terdorong dan menjadi lokomotif penggerak perekonomian nasional, serta menjadi sektor penyerap tenaga kerja yang berkualitas,” ujar Ajib melalui keterangan di Jakarta, dikutip dari Antara.
Optimisme Ajib bukan tanpa syarat. Ia mengingatkan bahwa keberhasilan program motor listrik nasional sangat bergantung pada eksekusinya. Proyek ini tidak boleh hanya berhenti pada perakitan saja, melainkan harus membangun rantai pasok yang solid di dalam negeri.
“Untuk bisa disebut sebagai motor listrik nasional dan memberikan dampak trickle down effect untuk industri kecil menengah, produk ini minimal harus memenuhi dua unsur. Pertama, mempunyai Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) lebih dari 50 persen termasuk IP lokal, misalnya chassis, body pack, wiring, dan lainnya,” jelas Ajib.
Selain itu, Ajib menekankan pentingnya pelibatan industri kecil dan menengah (IKM), koperasi, hingga pelaku usaha komponen otomotif. Dengan melibatkan IKM, manfaat ekonomi dari proyek ini bakal tersebar luas, mulai dari investasi hingga terciptanya lapangan kerja baru.
Jika ekosistem ini berhasil dibangun, motor listrik nasional bisa memberikan efek berganda (multiplier effect) bagi ekonomi.
Mulai dari relevansi ekonomi, kendaraan dapat dirancang sesuai kebutuhan masyarakat Indonesia, sehingga mendukung aktivitas ekonomi produktif sehari-hari.
Kemudian manfaat ramah lingkungan, penggunaan motor listrik bisa memangkas emisi gas buang hingga lebih dari 95 persen dibanding motor berbahan bakar fosil, sejalan dengan komitmen transisi energi pemerintah.
Ditambah lagi adanya efisiensi subsidi, dengan lebih dari 145 juta sepeda motor yang beredar di Indonesia, transisi ke motor listrik dapat mengurangi beban subsidi energi yang selama ini ditanggung negara.
Ajib kembali menegaskan pemerintah harus memastikan motor listrik nasional lahir dari kemampuan industri domestik yang sesungguhnya. Program ini tidak boleh hanya sekadar memasang merek lokal pada produk yang komponennya mayoritas masih impor.
“Kalau Indonesia benar-benar bisa memproduksi motor listrik nasional, ini akan menjadi momentum reindustrialisasi untuk membangun ekosistem ekonomi domestik yang kuat dan mendorong pertumbuhan ekonomi di atas 6 persen,” tutup Ajib.
Jika seluruh elemen ini terwujud, motor listrik nasional tak hanya menjadi simbol kemandirian otomotif, tetapi juga fondasi masa depan ekonomi Indonesia yang lebih berdaya saing.

