
Tiga tahun lalu ada berita, seorang pelari di acara half-marathon ambruk di tengah-tengah acara. Setelah dilakukan pemeriksaan, ternyata laki-laki berusia 45 tahun ini mengalami dehidrasi akibat kurang minum pada saat berlari di bawah teriknya matahari. Tak cuma pada kasus ini saja, sudah banyak laporan kasus orang meninggal dunia atau ambruk akibat dehidrasi serius. Karena itu, bahaya dehidrasi tidak bisa disepelekan.
Dehidrasi dapat disebabkan oleh berbagai hal. Pada anak-anak, biasanya dehidrasi disebabkan oleh diare berat dan muntah-muntah. Sedangkan pada dasarnya lansia memiliki jumlah cairan yang lebih sedikit sehingga lebih rentan mengalami dehidrasi.
Keringat yang berlebihan pada saat olahraga juga dapat menyebabkan dehidrasi. Jika ditambah dengan kondisi lingkungan yang panas dan lembap, maka akan semakin memperbanyak jumlah cairan yang hilang.
Beberapa penyakit tertentu juga dapat menyebabkan kondisi dehidrasi seperti diabetes melitus, penyakit yang ringan seperti infeksi paru, dan luka bakar.
Keseimbangan cairan negatif yang menyebabkan dehidrasi terjadi karena kurangnya asupan cairan, meningkatnya pengeluaran cairan (baik oleh karena diare, keringat, atau urine), serta berpindahnya cairan dalam tubuh (pengumpulan cairan di dalam rongga perut atau rongga paru). Berkurangnya jumlah total cairan tubuh (total body water) menyebabkan berkurangnya volume cairan di dalam sel tubuh dan di pembuluh darah.
Gejala-gejala bahaya dehidrasi akan muncul ketika jumlah cairan di dalam pembuluh darah semakin berkurang sehingga menyebabkan syok hipovolemik dan berakhir pada gagal organ dan kematian. Ketika terjadi syok, aliran darah menuju ke organ akan berkurang sehingga sel-sel tubuh kekurangan oksigen dan nutrisi yang dibutuhkan. Akibatnya, organ-organ tubuh menjadi mati.
Ginjal dan otak merupakan contoh organ yang paling sering mengalami gangguan ketika seseorang mengalami dehidrasi yang berat.
Dehidrasi dapat menyebabkan gagal ginjal akut yang apabila tidak ditangani dengan cepat dapat menyebabkan kerusakan ginjal berat dan berakhir pada gagal ginjal kronis yang membutuhkan cuci darah setiap minggu.
Ketika dehidrasi menyebabkan kerusakan pada otak, pasien akan mengalami penurunan kesadaran dan kerusakan otak permanen. Hal inilah yang terjadi pada pelari usia 45 tahun yang tadi diceritakan. Dari semua bagian otaknya, hanya menyisakan batang otak yang masih dapat bekerja dengan baik.
Selain itu, keseimbangan elektrolit dapat terganggu ketika terjadi dehidrasi. Bisa terjadi kekurangan atau bahkan kelebihan elektrolit, tergantung dari penyebab dehidrasi. Gangguan keseimbangan elektrolit ini dapat menyebabkan gangguan saraf seperti kejang.
Orang yang mengalami dehidrasi biasanya akan merasakan rasa haus yang berat, mulut kering, kencing semakin jarang dan warna kencing berwarna cokelat tua dan pekat, serta muncul rasa lemas luar biasa dan pusing.
Pada kondisi yang berat dapat menyebabkan pasien mengalami disorientasi alias linglung, mata menjadi cekung, kulit kering, demam, tekanan darah menurun, laju nadi meningkat, hingga mengalami penurunan kesadaran.
Pencegahan merupakan hal paling penting untuk dehidrasi. Perhatikan langkah-langkah pencegahan berikut ini, ya.
The post Jangan Disepelekan, Dehidrasi Bisa Sebabkan Kerusakan Organ Berat! appeared first on Hello Sehat.