
Fenomena hypebeast kian marak di kalangan anak-anak muda. Seperti pernah diulas Tirto sebelumnya, hypebeast adalah pengguna barang streetwear yang sedang populer saat diluncurkan. Dasar kemunculan tren ini adalah keinginan orang untuk tampil keren di kehidupan sehari-hari.
Menurut Urban Dictionary, mereka yang masuk dalam golongan ini akan melakukan apa saja untuk mendapatkan benda-benda yang diinginkan. Mereka rela menggesek kartu kredit untuk membeli barang eksklusif untuk menuruti keinginan mereka.
Meski tak semua, beberapa di antara mereka juga memilih untuk mengabaikan rasa suka-tidak suka mereka terhadap barang yang diincar, sebab yang terpenting bagi mereka adalah memakai outfit premium.
Di media sosial, gaya hidup hypebeast memicu kemunculan tantangan “How much is your outfit?” pada sekitar 2017 lalu di Amerika Serikat. Di tantangan ini, sekelompok anak muda yang gemar mengoleksi pakaian, sepatu, dan aksesoris mentereng itu akan membocorkan dana yang mereka kucurkan untuk penampilan sehari-hari mereka.
Tantangan ini kemudian masuk ke Indonesia pada 2018 dengan nama “Berapa harga outfit lo?” dan populer di media sosial, seperti Instagram dan Youtube. Di Instagram, pengguna akan mengunggah fotonya dan membocorkan jumlah duit yang mereka keluarkan untuk membeli segala yang mereka kenakan. Tak hanya pakaian, tapi juga sepatu, tas, serta aksesori seperti topi, gelang, sabuk, dan sebagainya.
Di platform Youtube, biasanya tantangan ditembakkan kepada orang-orang yang ditemui secara acak oleh sang pemilik akun di sebuah tempat tertentu. Setelah itu, para “korban” diminta untuk membeberkan harga dari outfit mereka, kemudian sang pemilik akun akan menghitung total harga pakaiannya.
Akihiro Nishi, Hirokazu Shirado, David G. Rand, dan Nicholas A. Christakis dari Universitas Yale (PDF, 2015) mengatakan bahwa fenomena terlihatnya kekayaan terlihat di hadapan masyarakat bisa menjadi faktor yang memperburuk ketidaksetaraan ekonomi.
Kesimpulan tersebut didapat setelah melakukan penelitian terhadap 1.462 subjek yang dibagi dalam 80 sesi permainan dan komunitas sosial skala kecil dengan tiga tingkat ketidaksetaraan ekonomi yang berbeda. Para responden pun akan menghadapi interaksi sosial untuk meningkatkan atau mengurangi kekayaan mereka.
“Dalam percobaan kami, kekayaan [yang tampak] akan menimbulkan kekuatan yang merusak; ia seperti mengurangi kerja sama dan memperlebar kesenjangan ekonomi,” ujar Nicholas A. Christakis, Direktur Yale Institute for Network Science (YINS).
Shirado, dkk. berpendapat bahwa kesenjangan kekayaan yang terlihat akan memicu proses neurologis dan psikologis yang melemahkan kerja sama sosial. Orang-orang akan menganggap status keuangan adalah sebuah kompetisi.
Penelitian itu diperkuat dengan artikel yang ditulis oleh Nicholas R. Buttrick dan Shigehiro Oishi dengan judul “The Psychological Consequences of Income Inequality” (PDF, 2017). Menurut Buttrick dan Oishi, ketimpangan itu akan memunculkan peningkatan persaingan dengan tujuan mendapatkan lebih banyak materi.
Untuk memperolehnya, mereka secara tak sadar akan mengeksploitasi diri mereka dengan bekerja lebih keras, merelakan waktu untuk bersenang-senang demi upah lembur, agar mendapat lebih banyak uang dan meningkatkan kelas sosial berdasarkan pola konsumsi mereka.
Buttrick dan Oishi dalam artikelnya pun membahas tentang studi berjudul “Income Inequality and Status Anxiety” (PDF, 2013) yang dilakukan oleh Marii Paskov, Klarita Gerxhani, dan Herman G. van de Werfhorst.
Pada penelitian tersebut, Paskov, dkk. menemukan bahwa responden dari negara dengan tingkat kesenjangan ekonomi mencolok cenderung berpikir bahwa status sosial merupakan hal yang penting. Semakin tinggi kemampuan finansial mereka, orang lain akan menaruh hormat dan rasa kagum terhadap kesuksesan itu. Hasil itu didapat dari Survei Sosial Eropa (ESS) pada 2002, 2004, 2006, 2008, dan 2010. Sampel dari penelitian tersebut adalah 26 negara di kawasan Eropa.
Dalam sebuah ulasan tentang ketimpangan sosial dan ekonomi di The New Yorker, ketimpangan pendapatan yang mencolok itu membuat orang bersaing secara emosional, bukan rasional. Keith Payne, seorang psikolog, mengatakan bahwa saat dirinya berada di kelas ekonomi rendah, ia adalah orang yang pemalu; malu dengan pakaian, cara berbicara, hingga cara potong rambutnya.
Baca juga artikel terkait PAKAIAN atau tulisan menarik lainnya Widia Primastika