Home
/
ESG

Di Era AI, Anak Muda Belajar Memilih Masalah Sebelum Solusi

Samsung Solve for Tomorrow (SFT) 2026 mmasuki tahap semifinal, sebanyak 296 peserta dari 80 tim mengikuti pelatihan teknis AI Amplification.

Di Era AI, Anak Muda Belajar Memilih Masalah Sebelum Solusi

Samsung Solve For Tomorrow 2026 siap digelar (Foto: Dok Samsung)

Bagikan :

Uzone.id - Di tengah semakin mudahnya akses terhadap Artificial Intelligence (AI), kemampuan menggunakan teknologi tersebut ternyata bukan lagi satu-satunya bekal untuk menciptakan inovasi.

Tantangan yang lebih besar justru muncul sebelum teknologi digunakan: menemukan masalah yang tepat, memahami siapa yang membutuhkan solusi, hingga menentukan apakah AI memang menjadi jawaban yang relevan.

Hal tersebut menjadi salah satu pembelajaran yang ditekankan dalam Samsung Solve for Tomorrow (SFT) 2026. Memasuki tahap semifinal, sebanyak 296 peserta dari 80 tim mengikuti pelatihan teknis AI Amplification setelah melewati proses seleksi dari sekitar 4.000 pendaftar awal dan 2.600 peserta Design Thinking Workshop.



Program berbasis Science, Technology, Engineering and Mathematics (STEM) ini mendorong generasi muda untuk tidak sekadar memiliki ide atau mengikuti perkembangan teknologi, tetapi mampu mengubah persoalan di sekitar mereka menjadi solusi yang memiliki dampak.


Jangan Mulai dari Teknologinya

Di tengah tren AI yang semakin berkembang, ada kecenderungan untuk memulai proses inovasi dengan pertanyaan, “AI apa yang bisa digunakan?”

Samsung Solve for Tomorrow 2026 justru mengajak peserta memulai dari pertanyaan yang lebih mendasar: “Masalah apa yang ingin diselesaikan?”

Melalui AI Amplification, peserta terlebih dahulu belajar mengidentifikasi masalah, memahami pengguna yang terdampak, menentukan kebutuhan data, memilih pendekatan AI, serta menetapkan tujuan dan keluaran dari solusi yang akan dikembangkan.

Pendekatan tersebut menjadi penting karena sebuah teknologi belum tentu menjadi solusi hanya karena teknologi tersebut sedang berkembang.

Kebutuhan terhadap pola pikir semacam ini juga semakin relevan di dunia pendidikan. Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) turut mendorong pemanfaatan AI dan coding sebagai bagian dari transformasi pendidikan.




Dalam Pertemuan Menteri Pendidikan ASEAN ke-14, Kemendikdasmen menyampaikan bahwa AI dan coding telah diterapkan sebagai mata pelajaran pilihan mulai kelas lima SD. Penerapannya juga terus diperkuat melalui pelatihan guru serta penyediaan sarana dan prasarana.


Dari Ide Menjadi Solusi

Pembelajaran tersebut kemudian tidak berhenti di ruang kelas. Peserta langsung menerapkannya pada proyek masing-masing melalui sesi hands-on dan tanya jawab.

Mereka menganalisis permasalahan, menentukan kebutuhan data, memilih kategori AI, menetapkan tujuan dan output, sekaligus mempertimbangkan dampak dari solusi yang dikembangkan.

Dengan proses ini, peserta diajak melihat inovasi dari sudut pandang berbeda. Sebuah ide tidak lagi hanya dinilai dari apakah teknologinya bisa dibuat, tetapi juga apakah solusi tersebut benar-benar dibutuhkan oleh pengguna.

“Di awal, banyak peserta datang dengan ide dan langsung ingin menggunakan teknologi AI tertentu. Setelah mengikuti pembelajaran, mereka mulai memahami pertanyaan yang perlu dijawab terlebih dahulu: apa masalahnya, siapa penggunanya, data apa yang tersedia, dan apakah AI merupakan solusi yang tepat. Perubahan mindset ini sangat penting dalam mengembangkan solusi berbasis AI,” ujar Rahmat Fajri, AI Engineer.

Untuk pertama kalinya dalam penyelenggaraan Samsung Solve for Tomorrow di Indonesia, pelatihan teknis pada tahap semifinal juga dilakukan dengan format hybrid.

Pengajar memberikan pelatihan secara langsung dari kantor Samsung Indonesia, sementara peserta mengikuti pembelajaran secara online. Sebanyak 80 tim semifinalis mengikuti rangkaian pelatihan teknis AI Amplification pada 14, 15, 22, dan 23 Agustus 2026.

Bukan Cuma Belajar Membuat AI





Setelah memahami permasalahan dan cakupan solusi, peserta kemudian mempelajari AI development pipeline untuk mengembangkan prototype AI.

Materinya mencakup pengolahan data, pemilihan dan pengembangan model, evaluasi hasil, fine-tuning, hingga transfer learning. Peserta juga mempelajari bagaimana mengintegrasikan AI ke dalam produk melalui pendekatan Edge AI dan Cloud AI.

Pada sesi pertama, mereka diperkenalkan dengan berbagai teknologi dan pendekatan AI, mulai dari Artificial Intelligence, Machine Learning, Deep Learning, Generative AI, Computer Vision, Natural Language Processing (NLP), predictive AI, hingga sensor-based AI serta penerapannya dalam kehidupan sehari-hari.

Dengan demikian, peserta tidak hanya belajar bagaimana menggunakan atau mengembangkan AI, tetapi juga kapan teknologi tersebut memang dibutuhkan dan bagaimana menggunakannya untuk menghasilkan solusi yang relevan.

Kemampuan tersebut juga dipadukan dengan keterampilan nonteknis seperti problem solving, kolaborasi, kreativitas, dan komunikasi.


Dok: Samsung Indonesia


Sebab, inovasi tidak berhenti ketika sebuah prototype berhasil dibuat. Para peserta juga perlu memahami kebutuhan pengguna, bekerja dengan data, memilih teknologi yang sesuai, serta mampu menjelaskan solusi yang mereka kembangkan.

Mengubah Masalah Menjadi Inovasi

Pendekatan tersebut menjadi bagian dari upaya Samsung melalui Samsung Solve for Tomorrow untuk memberikan ruang kepada siswa dan mahasiswa dalam mengembangkan kemampuan STEM sekaligus keterampilan yang relevan dengan perkembangan teknologi, termasuk AI.

“Generasi muda punya potensi besar. Tugas kami adalah memberi mereka ruang, keterampilan STEM dan AI, dan kesempatan untuk menjawab tantangan nyata. Karena kami percaya, inovasi tidak lahir dari teknologi semata, tetapi dari keberanian untuk melihat masalah dengan cara yang berbeda,” ujar Anggi Paramita, Head of Corporate Marketing, Samsung Electronics Indonesia.

“Bukan sekadar bisa membuat, tapi tahu apa yang perlu dibuat. Melalui tahap semifinal ini, kami tidak hanya mematangkan ide para peserta, tetapi juga menyiapkan mereka menjadi penggerak inovasi masa depan,” lanjutnya.

Setelah menyelesaikan AI Amplification, para semifinalis selanjutnya akan mengikuti sesi mentoring bersama para mentor untuk menyempurnakan solusi mereka.

Peserta kemudian akan mengembangkan final paper, prototype, dan pitch video sebelum Samsung mengumumkan 10 tim terbaik dari masing-masing kategori Siswa dan Mahasiswa pada 7 Oktober 2026 untuk melaju ke babak final.

Perjalanan tersebut menunjukkan bahwa kemampuan AI tidak semata-mata soal seberapa jauh seseorang bisa menggunakan teknologi.

Lebih dari itu, peserta Samsung Solve for Tomorrow 2026 diajak untuk lebih peka melihat persoalan, memahami kebutuhan pengguna, mengolah data, dan menentukan teknologi yang tepat.

Dengan cara pandang tersebut, AI tidak lagi sekadar teknologi yang digunakan karena sedang populer. AI ditempatkan sebagai alat untuk mengubah masalah yang ditemukan di sekitar menjadi inovasi yang benar-benar relevan.

Susetyo Prihadi

Jurnalis

Lihat semua artikel →
populerRelated Article