
Pada suatu waktu, pasangan suami istri Raden Sukemi dan Ida Ayu Nyoman Rai akhirnya mengontrak rumah di Pandean Gang IV nomor 40, yang masuk di kawasan Kampung Peneleh, Kecamatan Genteng, Surabaya.
Setelah pindah ke Surabaya, pasangan yang sebelumnya hanya punya seorang anak perempuan bernama Sukarmini ini akhirnya dikaruniai seorang anak laki-laki yang lahir pada 6 Juni 1901.
Anak laki-laki itu adalah Sukarno.
Sukarno tidak menghabiskan seluruh masa kecilnya di Peneleh atau Paneleh. Dia sempat tinggal di luar Surabaya, mengikuti sang ayah yang bertugas sebagai guru di Mojokerto. Di kota ini, Sukarno kecil sempat bersekolah di sekolah dasar Europe Lager School (ELS) hingga bisa berbahasa Belanda dan mengenal ilmu pengetahuan barat.
Belum selesai masa remajanya di sana, Sukarno kembali ke Surabaya. Ketika kembali ke kota pelabuhan yang ramai di Hindia Belanda itu, Raden Sukemi dan Nyoman Rai memilih tempat tinggal yang tidak jauh dari tempat Sukarno lahir, masih di Kampung Peneleh. Jarak rumah mereka yang lama dengan yang baru hanya berkisar satu kilometer.
"Berapa banyak yang diambil pemerintah Hindia Belanda dari negeri ini?" tanya Sukarno, masih dari autobiografinya. Alimin yang tahu jadi orang miskin ketika kecil menjawab, "VOC mencuri 1.800 Juta Gulden setiap tahun dari tanah ini."
Sukarno mengaku bahwa Alimin juga merupakan gurunya di masa muda. Meski belakangan jalan politiknya berbeda, Sukarno sangat menghormatinya. "Yang sama beratnya untuk dilupakan ialah kenyataan, bahwa dia adalah salah seorang perintis kemerdekaan," daku Sukarno.
Alimin, seperti juga Tan Malaka, adalah tokoh PKI 1926 yang menjadi Pahlawan Nasional kendati tak mendapat tempat semulia Jenderal Sudirman, Muhammad Yamin atau Pahlawan Nasional kebanyakan lainnya.
Semasa tinggal di Paneleh lagi, Sukarno setidaknya sudah menulis untuk surat kabar Oetoesan Hindia yang dipimpin Tjokroaminoto. Pada surat kabar itu, Sukarno memakai nama samaran. "Aku memilih Bima, yang berarti prajurit besar, juga memiliki arti keberanian dan kepahlawanan," tulis Sukarno dalam autobiografinya (2011:58). "Aku menulis lebih dari 500 artikel."
Di antara anak-anak kos yang ditampung keluarga Tjokro, Sukarno akhinya menjadi murid yang paling dekat dengan Tjokro. Kedekatan ini, salah satunya, karena Sukarno menjadi suami dari putri sulung Tjokro, Siti Oetari. Keduanya menikah ketika mereka masih berusia sangat muda.
Setelah menikah, Sukarno sempat cuti kuliah karena ia bekerja. Ketika Suharsikin sudah meninggal dunia pada 1921 dan Tjokroaminoto sendiri masuk penjara, Sukarno menjadi kepala keluarga bagi keluarga Tjokro. Dia juga mengurus anak-anak Tjokro yang masih kecil.
Pada tahun 1921, keluarga Tjokroaminoto pindah dari Peneleh ke Jalan Plampitan, antara Gang I dan II, masih di Kampung Peneleh. Di sekitar situ, saat ini terdapat dua jalan kecil: Jalan Guntur dan Jalan Megawati. Nama kedua jalan itu diambil dari nama dua anak Sukarno yang lahir dari rahim Fatmawati.
Sayang, hubungan Sukarno dengan Oetari tidak abadi. Setelah lulus HBS, Sukarno meninggalkan Surabaya untuk belajar di Technisch Hoge School Bandung — yang belakangan sejarahnya diteruskan Institut Teknologi Bandung (ITB). Setelah menjalani beberapa tahun perkuliahan di Bandung, Sukarno dan Oetari akhirnya bercerai pada 1922.
Kendati demikian, hubungan Sukarno dengan keluarga Tjokroaminoto terus baik. Menurut Adrian Perkasa, Sukarno bahkan pernah membelikan rumah untuk Oetari setelah Indonesia merdeka.
Setelah lulus sebagai ahli teknik bangunan, Sukarno sempat tinggal di Bandung sebelum diusir ke daerah pembuangan, seperti di Ende lalu Bengkulu, selama bertahun-tahun. Ketika Jepang menduduki Indonesia, barulah Sukarno tinggal di Jakarta.
Baca juga artikel terkait KAMPUNG PENELEH atau tulisan menarik lainnya Petrik Matanasi