icon-category Digilife

Diboikot Gara-gara Podcast ‘Sesat’ Soal Pandemi, Spotify Rugi Rp28 Triliun

  • 31 Jan 2022 WIB
Bagikan :

Uzone.id – Spotify sedang jadi sorotan karena dianggap membiarkan konten podcast yang berbau misinformasi dan informasi sesat soal pandemi Covid-19 tetap bertengger di dalam platformnya. Gara-gara ini, muncul aksi boikot dari musisi dan membuat saham perusahaan anjlok.

Kapitalisasi pasar Spotify merosot hingga USD2,1 miliar atau setara Rp28,7 miliar selama tiga hari pada pekan kemarin. Hal ini dipicu ketika penyanyi rock Neil Young menendang lagu-lagunya dari Spotify sebagai bentuk protes terhadap podcast Joe Rogan.

Saham Spotify anjlok 6 persen dari 26-28 Januari 2022. Mengutip Variety, penutupan saham Spotify pada 27 Januari kemarin pada level terendah selama 19 bulan dengan nilai USD171,32 per lembar saham.

Nah, merosotnya saham Spotify ini terjadi setelah Young secara terang-terangan meminta perusahaan untuk menyingkirkan semua lagu-lagunya.

Baca juga: Drama di Balik Podcast 'Sesat' Covid-19 dan Pemboikotan Spotify

“Spotify bisa memiliki [konten] Rogan atau Young. Tidak bisa dua-duanya,” ungkapnya.

Kemudian Spotify mengikuti kemauan Young dan menghapus lagu-lagunya pada 26 Januari 2022.

“Spotify menjadi sumber yang sangat merusak melalui misinformasi dan kebohongan publik mengenai Covid-19,” tulis Young.

Serial podcast ‘The Joe Rogan Experience’ yang dipandu oleh host Joe Rogan belakangan dianggap menyebarkan misinformasi dan informasi sesat soal Covid-19, di mana di dalamnya ia mewawancarai Dr. Robert Malone, spesialisasi penyakit menular.

Sayangnya, Malone ini memang dikenal sebagai dokter yang anti-vaksin di Amerika. Malone sendiri sudah diblokir di Twitter.

Spotify sendiri sebagai platform kala itu tidak melakukan apa-apa, alias membiarkan podcast Rogan tetap ada.

Baca juga: Spotify jadi 'Juara Bertahan' di Pasar Streaming Musik Dunia

CEO Spotify, Daniel Ek, mengatakan kalau selama ini pada dasarnya layanannya merangkul para kreator dengan opini beragam, termasuk para individu di Spotify dengan pandangan yang berbeda, bahkan bertentangan dengan dirinya secara pribadi.

“Kami tahu kami memiliki peran penting dalam mendukung ekspresi para kreator selagi menyeimbangkannya dengan keselamatan para pengguna,” tutur Ek dalam pernyataannya.

Ia melanjutkan, “melalui peran ini, penting bagi saya bahwa kami tidak mengambil posisi sebagai sensor konten, tentunya sambil memastikan agar tetap ada aturan di dalam ruang serta konsekuensi bagi mereka yang melanggarnya.”

Sebagai solusi, Spotify pada Minggu (30/1) mengatakan akan memberikan label dan keterangan tambahan di materi apapun –khususnya podcast– yang menyebut atau membahas Covid-19 di dalamnya, serta mengarahkan pengguna ke situs kesehatan publik untuk informasi lebih lanjut.

Biar gak ketinggalan informasi menarik lainnya, ikuti kami di channel Google News dan Whatsapp berikut ini.

Bantu kami agar dapat mengenal kalian lebih baik dengan mengisi survei di sini