
Uzone.id - Pasar otomotif Australia baru saja mencatatkan sejarah baru. Berdasarkan data yang dirilis oleh Federal Chamber of Automotive Industries (FCAI), China berhasil melengserkan Jepang sebagai negara pengekspor mobil terbesar ke Negeri Kanguru.
Momen penting ini, yang terjadi pada Februari 2026, menandai berakhirnya dominasi impor Jepang yang telah berlangsung selama 28 tahun sejak 1998.Pergeseran drastis ini menunjukkan semakin sengitnya persaingan antara pabrikan mobil Jepang dan China di kancah global.
Pada Februari 2026, impor kendaraan dari China mencapai angka 22.300 unit, yang setara dengan 25 persen pangsa pasar.
Volume ini melampaui raihan Jepang yang mencatatkan 21.600 unit, serta Thailand yang berada di posisi ketiga dengan 19.400 unit.
Pendorong Utama: Elektrifikasi dan Harga Kompetitif
Kenaikan impor yang masif dari China didorong oleh perubahan preferensi konsumen Australia yang beralih ke opsi kendaraan yang lebih terjangkau, khususnya model kendaraan listrik (EV) dan plug-in hybrid (PHEV).
Konsumen di Australia dikenal cepat mengadopsi mobil-mobil asal China, didorong oleh harga yang kompetitif, kelengkapan fitur teknologi, dan tren elektrifikasi yang sedang berkembang.
Beberapa merek China menunjukkan kinerja luar biasa:
Australia sendiri merupakan pasar yang sangat strategis karena tidak lagi memiliki basis produksi kendaraan domestik.
Ketiadaan tarif impor, ditambah minat besar terhadap SUV dan kendaraan niaga ringan, menjadikan pasar Australia incaran merek-merek global.
Sejak 2020, setidaknya sembilan merek China baru telah memasuki pasar, sehingga saat ini terdapat lebih dari selusin merek, termasuk MG Motor, BYD, GWM, dan Chery.
Dengan penjualan EV yang terus meningkat—mencapai sekitar 103.000 unit sepanjang tahun lalu, di mana mobil China memegang pangsa yang signifikan.
Para analis memprediksi bahwa pabrikan China berpotensi menguasai 40 persen dari total pasar mobil baru di Australia pada tahun 2030, asalkan tren inovasi teknologi dan harga yang kompetitif ini terus berlanjut.