
Uzone.id — Penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro oleh pasukan militer Amerika Serikat pada Sabtu dini hari waktu setempat, (03/01) ternyata melibatkan serangan dari ruang siber.
Hal ini diungkap oleh Presiden AS Donald Trump sendiri. Ia mengungkap kalau pihaknya menggunakan tim peretas untuk memadamkan listrik ibu kota Venezuela, Caracas yang membuat operasi penangkapan Maduro semakin mulus.“Saat itu begitu gelap, lampu-lampu di Caracas sebagian besar dimatikan karena keahlian tertentu yang kami miliki. Suasana sangat gelap dan mematikan,” kata Donald Trump dalam konferensi pers di Mar-a-Lago, dikutip dari The Telegraph, Senin, (05/01).
Komando siber, komando ruang angkasa dan komando tempur Amerika Serikat bergabung dalam serangan ini untuk menciptakan efek beragam sehingga memastikan bahwa lebih dari 150 pesawat, drone, dan helikopter mereka dapat mendekati ibu kota Venezuela tanpa terdeteksi.
Selanjutnya, pesawat dan helikopter militer AS menjalankan misinya untuk menyerang situs-situs militer Venezuela tanpa intervensi serta menangkap Maduro.
Pemadaman ini berlangsung selama beberapa jam, bahkan sebelum militer AS membongkar dan menonaktifkan sistem udara Venezuela demi memastikan jalur penangkapan Maduro lancar tanpa hambatan.
Tak hanya menonaktifkan sistem udara saja, pemadaman juga menyebabkan internet di Caracas turut padam. Hal ini disampaikan oleh grup pelacak konektivitas, NetBlocks.
Alp Toker, pendiri NetBlocks, mengatakan kalau serangan siber berkontribusi pada gangguan ini dimana serangan tersebut bersifat tertarget.
Pengakuan Trump terkait keterlibatan serangan siber dalam serangan tersebut menjadi pertama kalinya bagi sejarah AS. Ini menjadi salah satu pengakuan serangan siber paling blak-blakan yang dilakukan pemerintah AS ke negara lain.
Padahal, operasi-operasi semacam ini biasanya dilakukan sangat rahasia, dan AS dianggap sebagai salah satu negara paling maju dalam operasi siber secara global.
Serangan melibatkan peretas siber AS bukan pertama kalinya dialami oleh Maduro. Sebelumnya, CIA telah melakukan penyerangan pada tahun terakhir masa jabatan pertama Trump. Akibat dari serangan tersebut menyebabkan jaringan komputer Maduro padam.
Selain itu, beberapa minggu sebelum peristiwa penyerangan ini, serangan siber juga terjadi dan menargetkan infrastruktur Venezuela, termasuk perusahaan minyak dan gas nasional PDVSA (Petróleos de Venezuela, S.A.).
Venezuela sempat menuduh pemerintah AS dalam kejadian tersebut namun pemerintahan Trump belum memberikan komentar publik mengenai keterlibatan AS dalam serangan yang terjadi beberapa minggu sebelum serangan utama dilakukan.