
Kalau kamu bertanya pada Lokita Pasaribu mengenai bujet terbesar untuk menggelar pernikahan, ia akan menjawab: menyewa gedung pernikahan.
Lokita mengeluarkan sekitar Rp200 juta untuk menyewa gedung. Acaranya digelar dua hari berturut-turut. Hari pertama adalah pesta adat Batak. Hari kedua giliran resepsi pernikahan yang mengundang teman-teman dan kerabat dari keluarga.
Menurut Lokita, memilih vendor pernikahan haruslah berdasarkan insting dan kenyamanan. Ia memilih tak selalu mengikuti review tentang bujet pernikahan, atau vendor mana yang memberikan servis terbaik. Jika instingnya sudah menjatuhkan pilihan, ia akan mengikutinya. Untuk gedung acara adat, misalnya. Biaya sewanya mencapai Rp85 juta, jauh di atas rencana bujet Lokita.
"Tapi kami merasa nyaman di sana. Di samping itu kedua orangtua saya sudah sepuh dan saya adalah anak perempuan terakhir yang menikah, sehingga kami sepakat memilih tempat terbaik. Uang bisa dicari,” kata Lokita yang menyelenggarakan acara adat di Maria Convention Hall Pulo Gadung, Jakarta Timur.
Resepsi Lokita diselenggarakan di Sari Pan Pacific Hotel, Jakarta Pusat. Hotel itu dipilih karena lokasi yang dianggap cukup strategis bagi para tamu yang tinggal di Jakarta dan sekitarnya. Dana yang dikeluarkan untuk menyewa area pesta sekitar Rp120 juta. Angka ini disepakati setelah melalui proses tawar menawar panjang.

Faktor-faktor pemilihan lokasi ini, juga didasari oleh kepribadian, pengalaman, kebutuhan, citra diri, hingga persepsi yang hendak dimunculkan. Maka tak usah heran jika, misalkan, pasangan orang yang suka mendaki gunung akan memilih lokasi luar ruangan, lengkap dengan foto-foto bertema petualangan.
Selain lokasi, katering juga mengambil porsi bujet yang besar. Calon pengantin pasti akan dengan hati-hati dalam memilih menu makanan, dan pasti pula mempertimbangkan perihal harga. Makanan hampir selalu dipacak sebagai inti dari sebuah pesta. Ada banyak anggapan: jika makanan di pesta itu buruk, maka itu adalah pesta yang gagal. Sehingga tak perlu heran kalau bujet untuk katering termasuk salah satu yang terbesar.
“Jenis makanan di pesta pernikahan sekarang lebih bervariasi. Dulu variasi dilakukan lewat stall atau pondokan nasi yang wajib ada di pernikahan orang Indonesia. Sekarang muncul berbagai kudapan berbentuk canape. Ada pula tumpeng mini di dalam pernikahan,” kata Ayunda.
Pebisnis katering pernikahan terus melakukan inovasi untuk menarik hati konsumen. Ini salah satunya dilakukan oleh Al’s Catering. Avanda Hanafiah dan Allesandra Hanafiah, pemilik katering, bercerita setidaknya mereka meluangkan waktu sekali dalam setahun untuk berlibur dan mencari inspirasi makanan.
Tiga minggu lalu Avanda menciptakan menu Happy Meal untuk pesta pernikahan. “Saya membayangkan konsep fast food. Tamu pesta seolah sedang membeli makanan. Kami akan memberi mereka burger, kentang, dan churros dalam kemasan berwarna hitam putih,” kata Avanda. Ada klien yang akan memesan menu ini untuk acara pernikahan beberapa bulan ke depan.
Lima tahun terakhir Al’s merasakan persaingan yang cukup ketat dari sesama pebisnis katering. Taktik mereka untuk bisa tetap bertahan adalah dengan memperbanyak variasi jenis makanan, dekorasi, dan servis. Mereka mempekerjakan desainer interior pernikahan dan ahli tata bunga.
"Jadi cara penyajian makanan akan disesuaikan dengan tema pesta pernikahan," ujar Avanda.
Baca juga artikel terkait PERNIKAHAN atau tulisan menarik lainnya Joan Aurelia