Ekonomi Digital RI Bisa Tembus Rp6.423 Triliun, Ini Kata Dirut Telkom
Ekonomi digital Indonesia diproyeksikan mencapai >USD360 miliar pada 2030, didukung infrastruktur dan kolaborasi ekosistem.
Foto: Uzone.id
Highlight Artikel
Highlight Artikel
- Ekonomi digital Indonesia diproyeksikan tumbuh pesat, diperkirakan mencapai lebih dari USD360 miliar pada tahun 2030.
- Pertumbuhan ini menuntut fondasi infrastruktur digital yang kuat, meliputi konektivitas, pusat data, komputasi, dan infrastruktur internasional.
- Perkembangan kecerdasan buatan (AI) meningkatkan kebutuhan konektivitas secara signifikan, diperkirakan hingga 10 kali lipat.
Nusa Dua, Bali, Uzone.id – Ekonomi digital Indonesia masih menyimpan peluang pertumbuhan yang besar dalam beberapa tahun ke depan. Direktur Utama Telkom Indonesia Dian Siswarini menyampaikan prediksi nilai ekonomi digital Indonesia dapat mencapai lebih dari USD360 miliar pada 2030, atau setara Rp6.423,912 triliun.
Menurut Dian, pertumbuhan ekonomi digital tersebut membuat Indonesia memiliki posisi strategis di kawasan Asia Pasifik. Indonesia bukan hanya memiliki pasar digital yang besar, tetapi juga tingkat adopsi digital masyarakat yang terus berkembang."Nilai ekonomi digital Indonesia diperkirakan terus meningkat dan diproyeksikan mencapai lebih dari USD360 miliar pada 2030,” ujar Dian dalam konferensi pers BATIC 2026 di The Westin Hotel, Nusa Dua, Bali pada Selasa (25/8).
Dengan potensi tersebut, kebutuhan terhadap infrastruktur digital juga akan semakin besar. Konektivitas, pusat data, komputasi, hingga infrastruktur internasional akan menjadi fondasi yang menentukan apakah pertumbuhan ekonomi digital tersebut dapat diwujudkan secara optimal.
Dian mengatakan Indonesia memiliki peluang untuk menjadi salah satu pesaing utama negara lain di kawasan Asia Pasifik yang saat ini juga agresif berinvestasi pada teknologi, termasuk kecerdasan buatan atau AI. Namun, besarnya pasar saja tidak cukup.
"Ini akan menjadikan Indonesia sebagai salah satu pasar digital yang paling prospektif di kawasan [Asia Pasifik],” lanjutnya.
Tak cukup hanya punya pasar digital besar
Menurut Dian, tantangan Indonesia ke depan adalah menerjemahkan potensi ekonomi digital tersebut menjadi kemampuan digital yang nyata.
Hal tersebut mencakup pembangunan konektivitas hingga infrastruktur internasional yang mampu menopang kebutuhan ekonomi digital dalam jangka panjang.
"Tetapi potensi tersebut hanya akan tetap menjadi potensi apabila kita tidak bisa menerjemahkannya menjadi kemampuan digital yang nyata, mulai dari connectivity hingga international infrastructure,” kata Dian lagi.
Kebutuhan tersebut semakin relevan seiring transformasi digital yang terjadi di berbagai sektor. Tidak hanya perusahaan teknologi, tetapi pemerintah, BUMN, pemerintah daerah, perusahaan swasta, hingga UMKM juga semakin bergantung pada infrastruktur digital.
Artinya, pertumbuhan ekonomi digital tidak hanya akan meningkatkan jumlah pengguna layanan digital, tetapi juga mendorong kebutuhan terhadap jaringan dan infrastruktur dengan kapasitas yang semakin besar.
Di sisi lain, perkembangan AI ikut mempercepat kebutuhan tersebut. TelkomGroup melihat pertumbuhan kebutuhan konektivitas untuk AI dan compute meningkat sangat cepat.
Direktur Wholesale & International Service Telkom Indonesia Budi Satria Dharma Purba mengatakan, kebutuhan konektivitas untuk AI dan compute bahkan bisa mencapai sekitar 10 kali lipat dibandingkan sebelumnya.
"Dengan pertumbuhan AI yang cukup tinggi saat ini, kebutuhan connectivity juga meningkat sangat cepat. Bahkan untuk kebutuhan AI dan compute, kebutuhan konektivitasnya bisa mencapai sekitar 10 kali lipat dibandingkan sebelumnya," tambah Budi pada kesempatan yang sama.
Kondisi tersebut membuat pembangunan infrastruktur digital harus berpacu dengan pertumbuhan permintaan. Bagi Indonesia, situasi ini menjadi tantangan sekaligus peluang untuk memperkuat konektivitas dan infrastruktur digital nasional.
Menurut Budi, kebutuhan tersebut pula yang membuat Telin terus konsisten berinvestasi pada infrastruktur konektivitas internasional, khususnya kabel laut.
Forum seperti BATIC menjadi salah satu ruang bagi Telin untuk mempertemukan operator global, pelanggan, dan mitra dalam membangun kolaborasi serta infrastruktur yang mampu menjawab kebutuhan konektivitas ke depan.
BATIC 2026 jadi ruang bertemunya ekosistem digital
Dalam konteks tersebut, penyelenggaraan BATIC 2026 menjadi relevan. Forum yang memasuki tahun ke-11 ini mempertemukan pelaku industri dari berbagai negara untuk membahas perkembangan konektivitas dan ekosistem digital.
BATIC 2026 diikuti lebih dari 2.700 peserta dari 67 negara. Jumlah ini meningkat dibandingkan tahun sebelumnya yang mencatat sekitar 1.800 peserta dari 55 negara.
Dian mengatakan perkembangan BATIC menunjukkan semakin besarnya kebutuhan terhadap kolaborasi antar-pelaku industri.
"Namun membangun daya saing digital bukan hanya persoalan siapa yang paling besar atau siapa yang paling cepat dalam berinvestasi pada pembangunan digital. Yang jauh lebih penting adalah bagaimana kita membangun the whole ecosystem,” tutur Dian.
Menurut Dian, ekosistem menjadi faktor penting karena pertumbuhan ekonomi digital tidak dapat dibangun oleh satu perusahaan atau satu sektor saja.
Tanpa kolaborasi antara penyedia konektivitas, perusahaan teknologi, pemerintah, cloud provider, pemain data center, hingga pelaku industri lainnya, peluang ekonomi digital akan sulit diterjemahkan menjadi nilai ekonomi yang berkelanjutan.
Semangat tersebut menjadi salah satu fokus BATIC 2026 melalui tema ecosystem dan connected progress. Telin juga menghadirkan BATIC Series yang secara khusus membahas bisnis enterprise, memperluas ruang diskusi dari sekadar konektivitas menuju kebutuhan digital perusahaan.
BATIC juga menjadi bagian dari ambisi TelkomGroup untuk tidak hanya bermain di pasar domestik, tetapi menghubungkan Indonesia dengan ekosistem digital global.
Pertumbuhan jumlah peserta menjadi salah satu indikatornya. Tahun ini, peserta datang dari 67 negara, termasuk Amerika Latin. Ribuan business meeting juga tercatat melalui sistem BATIC.
Dian menilai tingginya partisipasi tersebut menunjukkan potensi kolaborasi yang dapat tercipta melalui forum tersebut.
"Kita juga bukan hanya ingin menjadi penyedia layanan di Indonesia, tetapi juga di tingkat regional dan menghubungkan Indonesia dengan the rest of the world,” pungkas Dian.
FAQ Artikel
Berapa proyeksi nilai ekonomi digital Indonesia pada tahun 2030?
Nilai ekonomi digital Indonesia diperkirakan akan mencapai lebih dari USD360 miliar pada tahun 2030, menurut Direktur Utama Telkom Indonesia Dian Siswarini.
Infrastruktur digital apa saja yang penting untuk mendukung pertumbuhan ini?
Konektivitas, pusat data, komputasi, dan infrastruktur internasional akan menjadi fondasi krusial untuk mengoptimalkan pertumbuhan ekonomi digital.
Bagaimana perkembangan kecerdasan buatan (AI) memengaruhi kebutuhan konektivitas?
Perkembangan AI sangat mempercepat kebutuhan konektivitas, bahkan bisa meningkat hingga 10 kali lipat dibandingkan sebelumnya, kata Direktur Wholesale & International Service Telkom Indonesia Budi Satria Dharma Purba.
Mengapa kolaborasi dalam ekosistem digital sangat penting?
Kolaborasi antar-pelaku industri, seperti penyedia konektivitas, perusahaan teknologi, pemerintah, dan pemain data center, penting agar peluang ekonomi digital dapat diterjemahkan menjadi nilai yang berkelanjutan.
Apa peran forum BATIC 2026 dalam ekosistem digital?
BATIC 2026 adalah forum yang mempertemukan operator global, pelanggan, dan mitra untuk membangun kolaborasi serta infrastruktur yang menjawab kebutuhan konektivitas masa depan dan menghubungkan Indonesia dengan ekosistem digital global.


