Home
/
News

Fenomena Kelas Menengah Ngehe Indonesia Dibahas di Sydney

Fenomena Kelas Menengah Ngehe Indonesia Dibahas di Sydney

Bagikan :
| May 24, 2016 07:57 am

Memperingati 108 tahun Kebangkitan Nasional (20 Mei 1908) dan 18 tahun Reformasi (21 Mei 1998), Forum Indonesia Berdiskusi untuk Edukasi (IDE) Sydney bekerja sama dengan PPIA di NSW mengadakan diskusi bertajuk “Kelas Menengah Ngehe: Membedah Isu Kesenjangan Ekonomi dan Sosial di Indonesia”, Sabtu (21/5) di Rupert Myers Theatre, Universitas New South Wales, Sydney.

Menurut rilis yang diterima ABC Australia Plus Indonesia, dalam diskusi ini, Koordinator Forum IDE Joanita Wibowo yang juga mahasiswa Universitas Sydney bertindak sebagai moderator.

Diskusi berlangsung dua jam dan dihadiri puluhan mahasiswa dan masyarakat Indonesia yang berdomisili di kota Sydney dan sekitarnya. Diskusi menghadirkan dua pembicara, antara lain Agung Wasono, Direktur Eksekutif Lembaga Analisa Ekonomi Politik dan Kebijakan Publik (LANSKAP), yang juga merupakan mahasiswa aktif di Universitas New South Wales dan Salut Muhidin, Dosen Senior di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Macquarie.

Dalam paparannya Agung menjelaskan definisi masyarakat kelas menengah serta memberikan gambaran mengenai kesenjangan ekonomi di Indonesia. Seperti contoh, dia menyebutkan di Indonesia jumlah kekayaan 40 orang terkaya setara dengan jumlah kekayaan 60 juta orang termiskin.

Agung juga menekankan sangatlah penting dalam menentukan batas garis kemiskinan secara tepat karena akan berdampak luas, khususnya terkait dengan kebijakan yang diambil pemerintah.

“Menyandang status sebagai negara kelas menengah merupakan tantangan tersendiri bagi Indonesia dan pemerintah tidak boleh tinggal diam dalam menyikapi hal ini,” ujar Agung dalam presentasinya.

Selain itu, Agung mengingatkan bahaya jebakan kelas menengah (middle income trap) yang mungkin akan dialami oleh Indonesia jika tidak dapat segera naik kelas, dari negara berpendapatan menengah menjadi negara berpendapatan menengah ke atas.

Di akhir paparannya, Agung memberikan beberapa upaya yang bisa dilakukan pemerintah Indonesia agar terhindar dari jebakan tersebut, antara lain meningkatkan investasi di bidang pembangunan manusia, menjamin kepastian dan kemudahan berbisnis, melakukan reformasi pajak, serta meningkatkan pembangunan infrastruktur fisik secara merata guna menunjang kegiatan ekonomi.

Pembicara kedua Salut Muhidin, memfokuskan pemaparannya mengenai fenomena kesenjangan sosial dalam kaitannya dengan isu modal manusia (human capital) yang berdampak pada kelas menengah di Indonesia.

BERITA TERKAIT




Republika

Jurnalis

Lihat semua artikel →
populerRelated Article