
Pembatasan jumlah kendaraan melalui sistem ganjil genap berdasarkan pelat nomor dinilai kurang konsisten bila tujuannya untuk memperbaiki kualitas udara di Jakarta.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta Andono Warih mengatakan ganjil genap saat ini tak memberi dampak signifikan mengurangi jumlah kendaraan roda empat, sehingga emisi kendaraan yang beredar di jalanan tetap berkontribusi besar terhadap pencemaran udara.
"Karena sumber utama (polusi) ya kendaraan," kata Andono melalui telepon, Selasa (16/7).
Pada Minggu (14/7) Jakarta masih menjadi sebagai kota dengan kualitas udara terburuk. Data di situs pengamat kualitas udara airvisual.com, Jakarta berada di posisi pertama kota dengan kualitas udara terburuk.
Kualitas udara di Jakarta mencapai level 194 US Air Index Quality (AQI) yang mengindikasikan tidak sehat. Bahkan, kualitas udara Jakarta sempat menyentuh level sangat tidak sehat yakni 202 US AQI sekitar pukul 05.00 WIB pada hari yang sama.
Posisi Jakarta dengan kualitas udara yang buruk berada di atas Kota Krasnoyarsk, Rusia, kota Santiago di Chile, kota Dubai di Uni Emirat Arab, dan Sao Paulo di Brasil.