.jpg%3Fdownload%3Dfalse%26resolution%3DHD&w=1920&q=75)
Uzone.id — Dikenal sebagai generasi yang melek digital, generasi Z dan generasi milenial punya kebiasaan unik, yaitu menyimpan menyimpan data pribadi secara digital salah satunya di perangkat pribadi seperti smartphone dan laptop.
Penelitian Kaspersky menunjukkan bahwa generasi Z dan milenial menyimpan hampir semua hal secara elektronik, sementara itu generasi di atas 55 tahun masih menyukai cara lama yaitu dengan menuliskannya di kertas/catatan.Hal ini berdasarkan studi yang dilakukan oleh pusat riset pasar Kaspersky pada November 2025 pada lebih dari 3.000 responden dari 15 negara yaitu Argentina, Chili, Cina, Jerman, India, Indonesia, Italia, Malaysia, Meksiko, Arab Saudi, Afrika Selatan, Spanyol, Turki, Inggris, dan Uni Emirat Arab.
Kaspersky juga menemukan kalau 84 persen responden mereka memang sering menyimpan data penting dalam format elektronik. Data tersebut mencakup berbagai hal sensitif, mulai dari KTP, kata sandi akun, informasi keuangan, data kesehatan, hingga arsip foto.
Bahkan untuk kalangan usia 18–34 tahun, 90 persen dari mereka lebih memilih penyimpanan digital dan hanya 16 persen yang secara umum masih mengandalkan penyimpanan fisik.
Dalam hal penyimpanan data digital, lebih dari setengahnya atau 56 persen menyimpan catatan penting di komputer atau perangkat keras (hard drive), 45 persen lainnya menggunakan solusi cloud, dan 20 persen dari mereka mempercayakan data mereka kepada layanan digital pemerintah.
Di Indonesia, sebanyak 61 persen lebih suka menyimpan data penting mereka di komputer dan sejenisnya, 61 persen lainnya juga menggunakan solusi cloud dan 14 persen mempercayakan data mereka kepada layanan digital pemerintah.
Lantas, apakah fenomena menyimpan data-data penting secara digital ini menjadi lebih aman? Atau justru bikin data-data tersebut semakin mudah dibobol?
Setiap metode penyimpanan memang punya kelebihan dan keterbatasannya masing-masing. Misalnya, jika menggunakan cara tradisional seperti catatan di buku atau di kertas, data-data tersebut bisa saja hilang atau rusak, sementara itu perangkat juga tidak selalu nyaman digunakan, begitupun dengan layanan cloud yang rentan terhadap akses tidak sah.
Karena itu, Kaspersky membagikan beberapa tips agar penyimpanan data digital tetap aman.
Pertama, salah satu yang paling penting adalah membuat strategi pencadangan. Metode yang cukup populer adalah strategi 3-2-1, yaitu memiliki tiga salinan data, menyimpannya di dua jenis media berbeda, dan satu salinan disimpan di lokasi terpisah, seperti cloud.
Untuk data yang sangat sensitif seperti kata sandi, ID dan informasi detail soal keuangan, pengguna disarankan menggunakan solusi khusus seperti password manager yang memiliki fitur penyimpanan aman.
“Kita semua tahu bahwa pencadangan itu penting, tetapi sebagian besar dari kita tidak pernah melakukannya karena kita mencoba mencadangkan semuanya sekaligus dan itu menjadi sangat merepotkan. Pendekatan yang lebih cerdas? Terapkan pencadangan seperti alur kerja lainnya. Beri tag pada file Anda – penting, kritikal, prioritas rendah,” kata Marina Titova, Wakil Presiden untuk Bisnis Konsumen Kaspersky.
Kedua, penting juga untuk melindungi akun dengan baik. Meski 98 persen responden sudah melakukan langkah pengamanan, masih ada 36 persen yang menggunakan kata sandi sederhana. Hal ini tentu berisiko karena mudah diretas dengan metode brute force.
Sebagai solusi, aktifkan autentikasi dua faktor (2FA) atau gunakan teknologi passkey yang lebih aman untuk melindungi data-data ini.
Langkah lainnya adalah mengaktifkan pencadangan otomatis seperti iCloud, Google Drive, atau OneDrive yang bisa dimanfaatkan untuk mempermudah proses ini.