
Google menjelaskan soal platform layanan gim streaming Stadia mereka. Menurut mereka, layanan ini bukan layanan berlangganan seperti streaming film atau musik. Pengguna tak bisa mengakses semua gim yang ada, tapi diharuskan membeli gim yang akan dimainkan. Tapi, pengguna masih bisa memainkan gim itu jika sudah tak berlangganan lagi.
Stadia sendiri adalah platform komputasi awan untuk gim dari Google. Platform cloud gaming service memungkinkan pengguna dapat berlayanan dan membeli gim yang ingin dimainkan namun tidak memiliki fisik software dari gim itu. Gim tersimpan di dalam cloud milik Google.
Dilansir dari ExtremeTech, sistem berlangganan di Google Stadia berbeda dengan konsep berlangganan Netflix ataupun Spotify dimana pelanggan bisa mengakses semua judul lagu dan film. Platform ini lebih mirip dengan berlangganan PlayStation Plus atau XBox Live Gold.
Jika pengguna berhenti berlangganan Stadia Pro, mereka masih tetap bisa mengakses gim yang telah dibeli. Tapi, tentu saja pengguna akan kehilangan akses untuk bermain gim yang dibeli jika kemungkinan terburuk Google menutup Stadia.
Dalam laman FAQ Google, mereka lebih lanjut menjelaskan bahwa jika suatu saat gim yang telah dibeli oleh pengguna tidak tersedia lagi untuk pembelian yang baru, mereka akan masih tetap bisa mengakses gim tersebut.
Berlangganan Google Stadia akan membutuhkan biaya langganan sebesar USD 9,99 atau sekitar Rp 140 ribu setiap bulan. Dan jika ingin mengakses Stadia di dalam televisi, pengguna diwajibkan menggunakan alat Stadia Controller dan Chromecast Ultra yang masing-masing bernilai seharga USD 69 atau sekitar Rp 964 ribu.