
Gojek menyebut pendapatan terbesar mereka berasal dari transaksi pembayaran Gopay dan GoFood. Layanan transportasi online Goride hanya menyumbang kurang dari seperempat total transaksi di Gojek.
CEO Gojek Nadiem Makarim menyebut saat ini layanan pengataran makanan dan pembayaran telah menghasilkan US$2 miliar (Rp28,7 triliun) dan US$6,3 miliar (Rp90,4 triliun) per tahun.
Sehingga, perusahaan itu berencana untuk mendulang untung dari layanan pengantaran makanan dan keuangan. Gojek bahkan menyebut tak butuh agar layanan transportasi online miliknya memberikan keuntungan jika perusahaan itu melakukan IPO.
Namun, Nadiem tak menampik jasa besar layanan transportasi online bagi perkembangan perusahaannya. Bagi Gojek, layanan transportasi online adalah sumber awal pendapatan mereka, terutama untuk layanan ojek online. Sebab, itu adalah layanan yang paling sering dipakai dan yang paling banyak menarik pengguna bagi aplikasi mereka. Layanan ini juga menjadi sumber pendapatan utama bagi 2 juta pengemudi Gojek.
Layanan inilah yang menjadi tenaga bagi layanan Gojek lain seperti GoFood misalnya. Selain itu, layanan transportasi online menjadi alasan para pelanggan Gojek kembali menggunakan layanan tersebut. Sehingga, Gojek menggunakan strategi yang mengombinasikan daya tarik transportasi online dengan pendapatan yang diperoleh dari restoran dan toko yang mencari pelanggan.
Meski demikian, Nadiem menolak untuk membeberkan kapan perusahaan itu akan mendulang untung. Sehingga, diperkirakan hal itu tidak akan terjadi dalam waktu dekat. Nadiem hanya mengungkap kalau perusahaannya akan menginvestasikan ulang semua keuntungan untuk pertumbuhan pengguna. Sehingga mereka bisa mendapat potongan kue pasar yang lebih besar.
Dalam wawancara tersebut, Gojek menyebut telah mendapat suntikan US$500 juta dari Google. Hal ini membuat Gojek menjadi rekan terbesar Google di Asia Tenggara.
Startup asal Amerika Serikat yang menjadi pionir layanan transportasi online, sempat tercatat sebagai perusahaan privat terbesar di dunia. Namun, setelah Uber melepas saham perdananya, nilai saham perusahaan ini langsung terjun bebas.
Hal itu terjadi setelah Uber mengumumkan kalau mereka mengalami kerugian besar. Hal ini juga mengundang pertanyaan terhadap penilaian valuasi dari berbagai perusahaan unicorn transportasi online lainnya di berbagai belahan dunia.