icon-category Travel

Golden Sunrise Gunung Prau, Dataran Tinggi Dieng

  • 31 Mar 2018 WIB
Bagikan :

Dataran Tinggi Dieng memang masih kurang terdengar populer dibandingkan dengan Yogyakarta atau Bali. Terletak di wilayah Kabupaten Banjarnegara dan Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah, dataran ini memiliki ketinggian sekitar 2000 meter diatas permukaan laut.

Tentu suhu udara disini cukup sejuk pada siang hari dan lumayan dingin pada malam hari. Sebagai daerah yang mulai berkembang menjadi daerah wisata, Dieng menawarkan berbagai objek wisata seperti Candi Arjuna, Telaga Warna, Kawah Sikidang, Bukit Sikunir dan yang terutama Gunung Prau. Dijamin gak akan bosen deh kalo dateng kesini. 

Nah, kali ini saya gak akan bahas tentang jalan-jalan ala turis ya. Tapi saya akan bercerita tentang pengalaman saya dan teman- teman saat liburan akhir tahun mendaki Gunung Prau, Dieng.

Mungkin ada beberapa pertanyaan yang akan muncul ketika mendengar ada tempat yang belum pernah kalian kunjungi. Pertanyaan pertama, "Gimana sih cara untuk bisa ke kesini?". Ada 2 cara bisa sampai ke Gunung Prau atau Dieng dari Jakarta atau kota-kota besar lain di Jawa. \

Saya memilih perjalanan dengan menggunakan bus dari Terminal Lebak Bulus, Jakarta menuju Terminal Mendolo, Wonosobo. Lama perjalanan 10-12 jam jika tidak macet. Harga tiket berkisar dari 100 ribu rupiah - 120 ribu rupiah tergantung kelas dan PO bus yang kalian pilih.

Kalo mau nyaman sih tinggal pilih bus yang eksekutif, kalo mau irit? ya tinggal pilih aja yang bisnis atau ekonomi. Sesampai di Terminal Mendolo dilanjutkan dengan mikro bus jurusan Wonosobo - Dieng dengan kisaran harga 20 ribu rupiah. Lama perjalanannya sendiri hanya 1 jam, dan langsung deh sampai Dieng.

Cara lainnya yaitu menggunakan kereta api, kalo dari Jakarta bisa dari Stasiun Senen atau Stasiun Gambir dan turun di Stasiun Purwokerto. Lalu melanjutkan perjalanan dengan mikro bus ke Terminal Mendolo dan diteruskan lagi ke Dieng.

Sepanjang perjalanan kalian tidak akan bosan karena pemandangan bentang alam pegunungan yang luar biasa. Pertanyaan kedua, "Apa aja yang dipersiapkan untuk mendaki Gunung Prau?". Nah, ini yang penting.

Kami memang berencana camping di Gunung Prau hanya 2 hari 1 malam. Jadi, tentu barang-barang yang kita bawa sudah dipersiapkan khusus untuk mendaki. Kami membawa tenda, jaket tebal, sepatu trekking, kompor portabel, P3K dan juga perbekalan alias konsumsi.

Walaupun Gunung Prau termasuk kategori gunung yang ramah untuk didaki, tidak ada salahnya jika kita selalu mempersiapkan segala kemungkinan untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan, ya kan. Gunung Prau sendiri memiliki beberapa jalur pendakian yang bisa dipilih seperti Jalur Dieng dan Patak Banteng.

Kami sendiri memilih jalur Dieng karena lebih mudah, mengingat umur yang udah gak muda lagi he-he. Kalau kalian ingin yang lebih menantang bisa memilih jalur Patak Banteng. img-20161218-wa0000 Sebelum mendaki, kita diwajibkan untuk mendaftar dulu di Basecamp pendakian. Inget loh, Wajib! Disini kita di data dan membayar retribusi sebesar 10 ribu rupiah. Setelah mendaftar baru lah kita bisa mendaki. Perlu waktu 2-3 jam untuk mendaki Gunung Prau dari Basecamp ke Puncak Prau (2.565 mdpl). Sepanjang perjalanan kami tak bosan karena disuguhi pemandangan yang sangat indah. Mulai dari perkebunan warga, hutan pinus dan pemandangan bukit-bukit yang hijau. Bukit Hijau img Setelah sampai di tempat yang cocok untuk mendirikan tenda, kami beristirahat sambil menikmati bekal yang sudah kami bawa. Oiya, di atas atau puncak Gunung Prau tidak ada sumber mata air, jadi bawa perbekalan air yang cukup ya, dan hemat-hemat air. img-20161218-wa0036 Karena hari mulai gelap dan kabut mulai turun menutupi puncak, kami segera mendirikan tenda agar bisa beristirahat. Sebenarnya waktu terbaik untuk mendaki gunung-gunung di Indonesia adalah saat musim kemarau, bulan April-September, karena langit cerah dan tentu saja tidak hujan. Memang kami kurang beruntung, mendaki di Bulan Desember ya resikonya terpaksa saat malam meringkuk di dalam Sleeping Bag karena cuaca gerimis dan angin kencang. Untungnya sih masih dapat sinyal handphone, jadi gak bete di tenda semalaman he-he. Setelah memejamkan mata sejenak, dan pagi mulai menjelang. Kami bersiap-siap dengan merebus mie instan dan menyeduh kopi. Entah mengapa, saat di gunung kenikmatan mie instan rebus tiada duanya. Perut sudah terisi dan kantuk mulai hilang, saatnya melanjutkan trekking mencari spot yang pas untuk menikmati Golden Sunrise Gunung Prau. img-20161218-wa0004Pemandangan Gunung Prau dengan latar Gunung Sindoro, Gunung Sumbing, Gunung Merbabu dan Gunung Merapi. Kami beruntung masih bisa diberikan kesempatan melihat Sunrise karena cuaca saat pagi hari cukup cerah. Pemandangan yang terpampang luar biasa menakjubkan dimana terlihat jejeran gunung-gunung yang seakan berbaris. Ini memang bukan pertama kali saya mendaki gunung, sebelumnya saya sudah pernah mendaki beberapa gunung di Jawa. Rasa takjub dan syukur selalu saya panjatkan kepada Tuhan karena telah menciptakan keindahan yang tiada duanya. Terlebih lagi keindahan ini dianugerahkan pada negara kita tercinta Indonesia. Saya Berfoto di Gunung Prau PicGaya dulu, biar kayak foto model kalender warteg. Urusan jeprat-jepret ambil foto, dan menikmati pemandangan sudah selesai. Saatnya kembali ke tenda untuk berbenah dan packing. Eits, jangan lupa ya! Sampah yang kalian bawa jangan ditinggal, wajib kalian bawa turun agar kebersihan dan ekosistem di Gunung Prau tetap terjaga. Permasalahan ini terjadi dihampir semua tempat wisata di Indonesia. Sangat disayangkan masih banyak pendaki dan wisatawan yang tidak peduli dengan kebersihan. Pesan saya buat kalian yang akan kesana, bawa turun sampahmu yaaa. Supaya bumi dan alam kita terjaga, karena ini semua titipan untuk anak cucu kita.


 

Cek informasi menarik lainnya di Google News

Bantu kami agar dapat mengenal kalian lebih baik dengan mengisi survei di sini