
Pria 34 tahun bersepatu Nike Running orisinal itu berdiri di tepi ruas jalan Jakarta Pusat. Setiap pukul empat sore, ia memakai rompi biru dengan lambang Unit Pengelolaan Perparkiran Dishub DKI Jakarta.
Iwan, bukan nama sebenarnya, memilih meninggalkan pekerjaannya di sebuah hotel bintang tiga. Ia banting profesi sebagai juru parkir. Alasannya, kerja jukir adalah "kamu dapat uang tanpa tekanan."
"Enak jadi jukir," kata Iwan kepada reporter Tirto pada pertengahan November lalu.
Bekerja sebagai jukir, Iwan memulai jam kerjanya dari pukul empat sore hingga dua belas malam. Terkadang sampai pukul 3 dini hari—tergantung kemampuannya.
Bagi sebagian orang, pekerjaan ini kadang dicap "rendahan". Tetapi, jika Anda sedikit saja mau melebarkan telinga, penghasilannya sangat mungkin bikin kesengsem pekerja kantoran dari fresh graduate sebuah kampus mahal di Indonesia.
Sebagai jukir yang dikontrak UP Perparkiran selama setahun, Iwan dibayar sesuai upah minimum provinsi Jakarta sebesar Rp3,3 juta per bulan. Tetapi penghasilan ini bukan satu-satunya. Sumber pendapatan lain dari pemilik mobil yang membayar tunai tanpa struk parkir. Sehari ia bisa mengantongi Rp300 ribu atau Rp6 juta per bulan.
"Sebulan bisa Rp9 juta," katanya. "Orang sepele sih sama jukir."
Atasan Iwan adalah seseorang yang disebut pengawas, dan koordinator lapangan jukir. Pengawas bekerja untuk memantau kinerja jukir, sementara korlap bertugas mengumpulkan uang jukir untuk disetorkan ke rekening pemda.
Menurut pengakuan Iwan, pengawas yang dipekerjakan oleh UP Perparkiran adalah "orang setempat yang diberdayakan." Relasi ini membentuk apa yang dia bilang "saling memahami" soal pendapatan tambahan yang dia terima, yang lebih besar dari gaji bulanan.
Bila mesin parkir otomatis saja bisa diakali jukir, apalagi parkir yang memakai karcis. Misalnya, parkir di Gedung Olahraga Remaja Senen, Jakarta Pusat. Jukir mematok harga parkir sepeda motor Rp5.000 per hari tanpa memberikan karcis. Bahkan satu jam parkir tetap dikenakan biaya yang sama.
Begitu pula di GOR Bulungan, Jakarta Selatan. Jukir mematok sekali parkir motor dengan harga Rp3.000 dan mobil Rp7.000. Bahkan jukir bisa tak memberi karcis kepada konsumen.
Ada beragam alasan jukir sungkan memberikan karcis. Berdasarkan penelitian Forum Warga Kota Jakarta pada 2006 terhadap 56 juru parkir, 13 jukir mengatakan kepada pemilik kendaraan bahwa karcisnya habis, 19 jukir berkata karcisnya sulit atau merepotkan, 13 orang bilang tidak ada karcis, dan 4 jukir berkata si pemilik kendaraan tidak meminta karcis.
Prabowo Soenirman, anggota Komisi B bidang perekonomian DPRD Jakarta dari Fraksi Gerindra mengatakan penetapan setoran di muka menjadi problem utama penggelapan pendapatan retribusi parkir. UP Perparkiran menetapkan pendapatan minimal terhadap satu titik lokasi, padahal potensi pendapatan retribusi parkir "sangat besar."
Selain itu, ada potensi “main mata” antara korlap jukir dan asisten manajer (asmen) operasional UP Perparkiran. Celah itu terbuka karena "korlap parkir bisa membuat berita acara kepada asmen ketika pendapatan hariannya kecil."
"Korlap dan asmen itu tidak menutup kemungkinan terjadi penggelapan," tegas Soenirman.
Menurutnya, target pendapatan per bulan UP Perparkiran Rp9 miliar per bulan dinilai terlalu kecil. Harusnya, dengan pengelolaan off-street (parkir gedung), pemda mampu mendapatkan retribusi parkir antara Rp300 miliar sampai Rp400 miliar per tahun. Ini belum termasuk parkir tepi jalan umum (on-street).
"Anda bisa bayangkan: parkir di tepi jalan rumah sakit, GOR, terminal, dan PD Pasar Jaya," ujar Soenirman.
Ivan Valentino dari UP Perparkiran membenarkan bahwa "masih ada petugasnya yang nakal". Ia menilai bahwa mengubah tradisi dari uang tunai ke elektronik masih "perlu waktu." Ia mengklaim
Ia bilang "tak akan segan bertindak" terhadap petugas yang terlibat penggelapan uang parkir, dengan sanksi akan diberhentikan secara tak hormat.
"Kalau ketahuan enggak ada ampun. Enggak ada kompromi. Karena mempertaruhkan nama UP Perparkiran. Biar jera," kata Ivan.
Baca juga artikel terkait LAHAN PARKIR atau tulisan menarik lainnya Reja Hidayat