
Uzone.id - Kesepakatan damai antara Amerika Serikat (AS) dan Iran membawa angin segar bagi pasar energi global.
Rencana pembukaan kembali Selat Hormuz sebagai jalur utama pengiriman energi telah memicu penurunan harga minyak mentah secara signifikan.Pasar merespons positif kepastian pasokan energi ini, yang terlihat dari penurunan harga minyak pada Selasa (16/6/2026) ke level terendah dalam tiga bulan terakhir:
Sebagai perbandingan, sebelum ketegangan pecah pada 28 Februari, harga Brent berada di level USD72,48 per barel dan WTI di angka USD67,02 per barel.
Direktur Energy Futures Mizuho, Bob Yawger, menyebutkan bahwa tren penurunan ini terjadi karena asumsi pasar bahwa Selat Hormuz akan segera beroperasi kembali.
Dampak pada Harga BBM di Indonesia
Penurunan harga minyak dunia ini berdampak langsung pada mekanisme harga BBM non-subsidi di Indonesia.
Kementerian ESDM menegaskan bahwa harga produk non-subsidi—baik Pertamax maupun BBM swasta—mengikuti mekanisme pasar (harga keekonomian).
Juru Bicara Kementerian ESDM, Dwi Anggia, dalam konferensi pers, menegaskan bahwa penyesuaian harga ke tingkat keekonomian bersifat mutlak demi keberlangsungan pengadaan energi nasional.
"Ketika harga minyak dunia turun, harga BBM non-subsidi dipastikan akan ikut turun. Sebaliknya, saat harga minyak dunia naik, penyesuaian harga tetap harus dilakukan agar keberlanjutan energi nasional terjaga," jelas Dwi, dikutip Uzone.id