
Uzone.id — Penggunaan AI makin
marak, semakin banyak juga pelaku kejahatan siber memanfaatkan popularitas
teknologi tersebut. Dalam laporan terbaru Kaspersky, jumlah serangan malware
yang menyamar sebagai aplikasi AI populer melonjak tajam dan kini semakin banyak
mengincar pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
"Lanskap ancaman terus berkembang dengan munculnya
jebakan-jebakan baru. Misalnya, selama empat bulan pertama tahun ini, solusi
kami untuk usaha kecil dan menengah mendeteksi ratusan serangan,” kata Vasily
Kolesnikov, Security Expert Kaspersky.
Angka tersebut meningkat hampir lima kali lipat dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Salah satu kawasan yang jadi target utama adalah Asia
Tenggara, termasuk di Indonesia. Kaspersky mencatat bahwa di Asia Tenggara, ada
lebih dari 1.800 serangan di paruh awal 2026 ini.
Malware paling banyak menyamar sebagai ChatGPT palsu yang
menyumbang sekitar 44 persen dari seluruh serangan. Disusul DeepSeek sebesar 33
persen dan Claude sekitar 11 persen.
Managing Director Kaspersky Asia Pasifik, Adrian Hia pun
mengingatkan bahwa lebih dari 90 persen bisnis di Asia Tenggara merupakan UMKM
sehingga kawasan ini akan terus menjadi target utama para pelaku ancaman siber.
"Para penjahat siber seringkali memandang UMKM sebagai
sasaran empuk, karena mereka memangsa potensi kelemahan keamanan yang mungkin
muncul akibat keterbatasan sumber daya yang dimiliki,” katanya.
Kaspersky menjelaskan sebagian besar file berbahaya yang
ditemukan merupakan Trojan, yaitu malware yang menyamar sebagai aplikasi atau
file yang terlihat aman agar pengguna mau menginstalnya.
Modusnya, mereka pura-pura menjadi aplikasi AI gratis lalu
akan meminta korban untuk segera memasang. Biasanya aplikasi ini hadir dalam
bentuk APK dan tersedia di situs non-resmi.
Setelah berhasil masuk ke perangkat korban, Trojan dapat menjalankan berbagai aksi berbahaya, mulai dari mengunduh malware lain, mencuri data, menghapus atau mengubah file, hingga mengambil alih sistem.
Selain memanfaatkan aplikasi AI, pelaku juga masih
menggunakan aplikasi perpesanan populer sebagai umpan, seperti Telegram hingga
Zoom.
Selama empat bulan pertama 2026 saja, Kaspersky memblokir
hampir 415 ribu serangan yang menyamar sebagai aplikasi seperti Telegram,
WhatsApp, Zoom, dan Microsoft Teams.
UMKM dinilai menjadi sasaran utama serangan siber karena
pada umumnya, pelaku usaha kecil dan menengah memiliki sumber daya keamanan
yang lebih terbatas dibandingkan perusahaan besar.
Rodion Pyanov, Product Manager Kaspersky Small Office
Security, mengatakan pelatihan keamanan siber bagi karyawan kini menjadi
kebutuhan yang tidak bisa diabaikan.
Selain itu, investasi pada keamanan siber kini menjadi
kebutuhan penting agar UMKM tetap dapat menjalankan bisnis dengan aman di
tengah meningkatnya ancaman digital.
"Sebagai tulang punggung ekonomi Asia Tenggara, UMKM
tidak boleh mengabaikan investasi dalam keamanan siber mereka. Hal terpenting
adalah menemukan solusi yang selaras dengan realitas operasional dan keuangan
mereka," tutup Adrian.