
Uzone.id - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, Bahlil Lahadalia, menetapkan kewajiban BBM dengan kandungan etanol 10 persen alias E10, Bagaimana kesiapan pabrikan Astra Honda Motor (AHM)?
Ahmad Muhibbuddin selaku General Manager Corporate Communication PT AHM menyebutkan produk motor buatan mereka diakui sudah bisa menggunakan BBM etanol 10 persen."Saat ini produk motor produksi AHM sudah dapat pakai bensin E10," ujar Muhib, sapaan akrabnya, singkat saat dihubungi Uzone.id.
Pabrikan sekaliber Honda motor memang tidak perlu dipertanyakan lagi soal kemampuan produknya dalam menenggak BBM terkandung etanol.
Karena di luar Indonesia, Honda sudah memiliki produk motor yang bahkan mampu meminum BBM terkandung etanol hingga 85 persen.
Motor ini diluncurkan di India dengan nama CB300F Flex Fuel, yang resmi dijual pada Oktober 2024 lalu.
"Di Honda, kami bertujuan untuk mencapai netralitas karbon untuk semua produk dan aktivitas perusahaan kami pada tahun 2050," ujar Tsutsumu Otani selaku President & CEO Honda Motorcycle & Scooter India dalam keterangan resminya.
Pada model standarnya, Honda CB300F bisa menggunakan bensin campuran etanol hingga 10 persen atau yang disebut sebagai E10. Namun dengan teknologi bahan bakar fleksibel di CB300F Flex Fuel, sangat memungkinkan untuk menggunakan campuran etanol E10 hingga E85 alias 85 persen campuran etanol.
Sayangnya saat ditanyakan mengenai apakah aman produk motor Honda keluaran lawas di Indonesia untuk menggunakan BBM etanol 10 persen, Muhib tidak menjawab.
Perlu diketahui, keputusan Bahlil mengenai implementasi E10 sudah disampaikan beberapa hari lalu. Menteri ESDM itu mengatakan Presiden Prabowo Subianto menyetujui mandatori campuran etanol 10 persen untuk BBM.
Alasannya, penggunaan etanol 10 persen adalah untuk mengurangi emisi karbon dan ketergantungan terhadap impor BBM.
Di sisi lain, Guru Besar Fakultas Teknik Mesin dan Dirgantara Institut Teknologi Bandung, Profesor Tri Yuswidjajanto mengatakan memang terdapat kekhawatiran mengenai etanol yang bisa merusak mesin. Menurutnya ini tidak berdasar, karena hanya berpengaruh terhadap tenaga mesin yang kecil sekali.
"Pengaruhnya terhadap tenaga mesin cuma sekitar 1 persen, tidak terasa, dan kendaraan tidak rusak," ungkapnya dikutip dari Antara.