
Uzone.id - Krisis memori yang menghantam industri smartphone secara global mungkin bakal membuat HP entry-level bisa naik harga. Imbasnya, besar kemungkinan HP dengan harga sekitar Rp2 jutaan bakalan sulit ditemui di pasaran.
Dalam laporan terbaru Counterpoint bertajuk ‘Smartphone Market Outlook Tracker’, tekanan paling besar akibat krisis memori ini terjadi pada smartphone kelas bawah. Pasalnya, segmen ini sangat sensitif terhadap kenaikan biaya komponen, terutama memori yang digunakan untuk RAM dan penyimpanan internal.Proyeksi ini pun diperkuat oleh laporan Counterpoint Research Memory Service. Disebutkan bahwa harga untuk chip LPDDR4 atau LPDDR5 pada kuartal kedua 2026 diperkirakan naik sampai tiga kali lipat dibanding kuartal keempat 2025.
Counterpoint memprediksi kalau tekanan ini tidak akan selesai dalam waktu dekat. Perkiraannya, krisis memori masih berlanjut sampai paruh kedua 2027, karena industri semikonduktor membutuhkan investasi besar dan waktu panjang untuk menambah kapasitas produksi.
Di sini masalahnya. Pasokan memori untuk perangkat murah juga ikut menyusut. Pasokan LPDDR4 diperkirakan turun lebih dari 40 persen pada 2026, seiring pabrik chip mengalihkan kapasitas produksi ke HBM untuk kebutuhan AI dan server DRAM.
Padahal, LPDDR4 masih banyak digunakan buat HP entry-level, sehingga penurunan pasokan dan kenaikan harga membuat vendor makin sulit mempertahankan harga rendah.
Counterpoint bahkan menyebut, beberapa kelas harga murah berisiko terdorong keluar dari pasar karena sudah tidak lagi ekonomis untuk dipertahankan. Dengan kata lain, masalahnya bukan cuma harga yang naik, tapi pilihan model murah juga bisa makin sedikit.
Principal Analyst Counterpoint, Yang Wang mengatakan, produsen perangkat di segmen menengah ke bawah kini berada dalam posisi terjepit.
“Produsen perangkat di segmen kelas bawah dan menengah terjepit di antara kenaikan biaya yang tidak dapat diserap dan konsumen yang memiliki batas kemampuan bayar yang ketat,” jelas Yang Wang.
Artinya, vendor tidak punya banyak ruang untuk bergerak di segmen ini. Kalau harga dinaikkan terlalu tinggi, konsumen bisa menunda pembelian. Tapi kalau harga ditahan, margin keuntungan mereka makin tipis.
Tanda-tanda kenaikan harga juga sudah terlihat. Counterpoint mencatat harga grosir smartphone global naik 14 persen pada kuartal pertama 2026. Kenaikan ini diperkirakan terus berlanjut ketika stok lama yang disiapkan sebelum krisis mulai habis.
Pada periode yang sama, pasar smartphone global turun 3,1 persen secara tahunan. Ini menjadi penurunan pertama setelah sembilan kuartal berturut-turut mengalami pertumbuhan.
Meski begitu, performa kuartal pertama sebenarnya masih lebih baik dari perkiraan. Counterpoint menyebut, hal ini terjadi karena sejumlah produsen mempercepat pengiriman dan menghabiskan stok lama sebelum dampak kenaikan harga terasa lebih kuat.
Tidak semua vendor kena dampak yang sama
Counterpoint melihat dampak krisis memori tidak akan merata ke semua vendor. Segmen premium dinilai lebih tahan, sementara vendor yang banyak mengandalkan HP murah akan menghadapi tekanan lebih berat.
Apple dan Samsung disebut berada di posisi yang lebih kuat. Keduanya punya rantai pasok yang lebih stabil, margin lebih sehat, dan strategi premium yang sudah matang.
Apple mencetak rekor pendapatan kuartalan pada Maret tahun ini, didorong siklus penggantian iPhone 17 yang kuat. Counterpoint memperkirakan pengiriman iPhone akan relatif stabil pada 2026, lalu tumbuh 5 persen pada 2027.
Dengan pasokan memori yang lebih stabil dan margin yang lebih sehat, Apple tidak terlalu terdesak untuk langsung menaikkan harga. Kondisi ini juga bisa membuat Apple berada di posisi yang lebih baik untuk mengambil pangsa pasar rivalnya.
Samsung juga diperkirakan tak kalah kuat. Volume pengirimannya relatif stabil pada kuartal pertama, dan diproyeksikan hanya turun 4 persen pada 2026 berkat ketersediaan perangkat yang lebih stabil serta spesifikasi yang konsisten di seluruh portofolionya.
Sebaliknya, vendor China seperti Xiaomi dan Infinix, terkena dampak yang lebih besar.
Xiaomi mencatat penurunan 19 persen pada kuartal pertama. Bahkan untuk setahun penuh, pengirimannya diperkirakan bakal anjlok 28 persen, karena Xiaomi menghadapi tantangan besar soal kelayakan ekonomi di pasar entry-level.
Transsion, induk dari Infinix, Tecno, dan juga Itel, menjadi salah satu vendor yang paling rentan. Counterpoint menyebut, fokus perusahaan terhadap segmen HP murah sangat besar, sehingga pengirimannya diperkirakan turun 32 persen pada 2026.
Huawei menjadi pengecualian. Counterpoint mencatat Huawei tumbuh 1 persen secara tahunan pada kuartal pertama, menjadi salah satu dari sedikit brand China yang masih mencatat pertumbuhan. Hal ini terjadi karena Huawei sengaja menahan harga untuk merebut pangsa pasar di segmen bawah hingga menengah.
Di sisi lain, pasar smartphone bekas dan refurbished justru berpeluang menjadi salah satu pihak yang paling diuntungkan. Counterpoint memperkirakan pasar ini akan tumbuh 13 persen pada 2026.
Adapun, kondisi ini baru akan mulai pulih pada 2028 mendatang. Pemulihan ini didorong oleh normalisasi pasokan, permintaan yang tertahan, meredanya kekhawatiran geopolitik dan inflasi, serta gelombang upgrade besar berikutnya.
Peluncuran komersial jaringan 6G di pasar awal seperti China, Jepang, dan Korea Selatan juga disebut akan menjadi katalis tambahan. Selain itu, perangkat AI-native yang semakin matang juga bisa ikut mendorong siklus penggantian smartphone ke depannya.