Ideafest 2026: AI Cuma Alat Pendukung, Ide Kreatif Tetap Milik Manusia
Melalui tema ini, IdeaFest menyerukan kembali kualitas dan naluri kreasi yang tidak bisa digantikan oleh teknologi, khususnya AI.

Uzone.id — Penggunaan AI di
berbagai industri saat ini terus memunculkan kekhawatiran kalau peran manusia
sebentar lagi tergeser oleh teknologi ini. Tapi meskipun sekarang banyak
perusahaan yang sudah mengadopsi AI, tapi AI dinilai tidak bisa menggantikan
peran manusia sampai kapanpun.
Tak hanya itu, alih-alih menggeser peran manusia, teknologi justru seharusnya menjadi alat yang membantu manusia bekerja lebih efektif, sementara manusia tetap memegang peran utama dalam menentukan arah dan penggunaan teknologi tersebut.
Hal ini ingin yang disampaikan oleh Ovidia Nomia, SVP Head
of Corporate Communications Indosat Ooredoo Hutchison melalui pagelaran
festival kreatif terbesar se-Indonesia ini. Menurutnya, manusia berperan untuk
mengendalikan dan memimpin teknologi.
“Jadi kita memang pengen membawa bahwa human needs to be
in the loop. Human needs to lead. Dan kenapa human becomes human is
because we have a heart,” kata Ovidia.
Maka dari itu, pada akhirnya agar teknologi tetap
terkendali, mereka tetap membutuhkan manusia.
“At the end of the day, technology needs a heart. And
where does the heart come from? It's from human. Teknologi adalah sebuah
medium saja, kalau bukan manusia yang menjalankan, tidak akan ada yang bisa,”
tutur Ovidia.
Untuk menghadapi perkembangan teknologi yang semakin pesat,
Indosat menaruh perhatian besar pada pengembangan talenta digital dan AI di
Indonesia. Perusahaan menargetkan dapat membantu mencetak hingga 2 juta talenta
Indonesia pada 2030 melalui berbagai program pengembangan kemampuan AI.
Dalam waktu dekat, Indosat juga menargetkan pelatihan kemampuan AI bagi 27.000 orang hingga akhir tahun ini.
Pengembangan talenta menjadi penting karena Indonesia tidak
hanya didorong menjadi pengguna teknologi AI, tetapi juga mampu ikut
menciptakan dan mengembangkan teknologi tersebut.
Apalagi selama ini, Indonesia dikenal sebagai pasar yang
cepat mengadopsi berbagai teknologi baru. Ketika muncul perangkat, platform,
atau layanan digital baru, masyarakat Indonesia relatif cepat menggunakannya.
“Indonesia jangan hanya menjadi pengguna, tetapi juga harus
memiliki kemampuan untuk menciptakan teknologi,” ujar Ovidia.
Tema “Rehumanize” yang diangkat IdeaFest 2026 sendiri
menjadi refleksi terhadap hubungan manusia dengan teknologi yang semakin dekat.
Tahun ini, Ideafest 2026 membawa lebih dari 500 pembicara dari berbagai
industri dan menjadi pertemuan bagi komunitas-komunitas kreatif di Indonesia
dan mengajak semua kalangan untuk bertukar ide hingga inovasi secara tatap muka
(offline).

