Home
/
Automotive

Indonesia dan Malaysia Kolaborasi Bikin Baterai Mobil Listrik

Indonesia dan Malaysia berkolaborasi dalam proyek 'Baterai Nusantara' untuk membuat baterai kendaraan listrik, bertujuan memperkuat kemandirian ASEAN.

Indonesia dan Malaysia  Kolaborasi Bikin Baterai Mobil Listrik

Bagikan :

Highlight Artikel

  • Indonesia dan Malaysia berkolaborasi dalam proyek 'Baterai Nusantara' untuk memproduksi baterai kendaraan listrik.
  • Inisiatif ini bertujuan memperkuat posisi ASEAN sebagai produsen baterai mandiri dan mengamankan rantai pasok regional.
  • Indonesia berperan menyediakan material baterai (katoda), sementara Malaysia memiliki fasilitas pilot untuk produksi sel baterai.
  • Indonesia perlu segera memiliki fasilitas pilot plant sendiri sebagai jembatan riset dan industrialisasi komersial.
Uzone.id Proyek 'Baterai Nusantara' bakal segera terwujud, hasil kolaborasi Indonesia dan Malaysia, untuk membuat bareng baterai kendaraan listrik (EV).

Profesor Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) sekaligus Founder National Battery Research Institute (NBRI), Evvy Kartini, menekankan bahwa inisiatif ini bertujuan memperkuat posisi ASEAN sebagai pemain mandiri. 



Peran Indonesia dan Malaysia dalam Kolaborasi Baterai

Ia menyoroti bagaimana kedua negara dapat saling melengkapi keunggulan masing-masing untuk menciptakan ekosistem yang terintegrasi.

"Indonesia memiliki potensi untuk berkontribusi dari sisi material baterai, khususnya pengembangan katoda. Sementara itu, Malaysia memiliki fasilitas pilot yang dapat digunakan untuk memproduksi sel baterai," ujar Evvy, dikutip dari Antara.

Dalam skema kolaborasi Baterai Nusantara, Indonesia berperan sebagai penyedia material yang kemudian dikirim ke Malaysia untuk menjalani pemrosesan menjadi baterai jadi. 

Produk hasil kerja sama ini bahkan sudah dipamerkan di Malaysia dengan dukungan kementerian terkait, menandakan langkah konkret dari kemitraan tersebut.

Misi Utama dan Tantangan Proyek Baterai Nusantara

Lebih dari sekadar mengejar angka output produksi, misi utama proyek ini adalah mengamankan rantai pasok regional. Evvy menegaskan pentingnya otonomi kawasan dalam sektor ini. 

"Kita juga ingin mencoba bagaimana di ASEAN ini tidak tergantung juga. Jadi punya baterai ASEAN sendiri," ungkapnya.

Namun, Evvy mengakui bahwa tantangan masih ada, terutama dalam hal penguatan riset dan kapasitas produksi di tiap negara. Ia menekankan perlunya Indonesia segera memiliki fasilitas pilot plant sendiri. 

Fasilitas ini krusial sebagai jembatan antara hasil riset di skala laboratorium dengan kebutuhan industrialisasi komersial.

"Pilot itu kita tidak perlu langsung membuat gigawatt hour. Kita perlu bridging antara material ini ke sana," tambah Evvy.



Kehadiran pilot plant di Indonesia akan memungkinkan pengujian teknologi yang lebih masif sebelum benar-benar masuk ke jalur produksi massal. 

Dengan menyatukan kekuatan riset, ketersediaan material, fasilitas manufaktur, dan besarnya pasar kendaraan listrik di ASEAN, proyek ini diharapkan mampu mengubah wajah kawasan—dari sekadar basis produksi mobil listrik menjadi pusat pengembangan teknologi baterai yang berdikari.

FAQ Artikel

Apa itu Proyek 'Baterai Nusantara'?

Proyek 'Baterai Nusantara' adalah inisiatif kolaborasi antara Indonesia dan Malaysia untuk memproduksi baterai kendaraan listrik (EV) secara bersama-sama, dengan tujuan memperkuat posisi ASEAN sebagai pemain mandiri.

Siapa tokoh di balik inisiatif 'Baterai Nusantara'?

Profesor Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) sekaligus Founder National Battery Research Institute (NBRI), Evvy Kartini, adalah salah satu tokoh yang menekankan inisiatif ini.

Bagaimana peran Indonesia dan Malaysia dalam kolaborasi ini?

Indonesia berpotensi berkontribusi dari sisi material baterai, khususnya pengembangan katoda. Sementara itu, Malaysia memiliki fasilitas pilot yang dapat digunakan untuk memproduksi sel baterai.

Apa misi utama dari Proyek Baterai Nusantara?

Misi utama proyek ini adalah mengamankan rantai pasok regional dan mencapai otonomi kawasan dalam sektor baterai, agar ASEAN tidak tergantung pada pihak luar.

Tantangan apa yang masih dihadapi Indonesia dalam proyek ini?

Tantangan utama adalah penguatan riset dan kapasitas produksi, khususnya perlunya Indonesia segera memiliki fasilitas pilot plant sendiri sebagai jembatan antara hasil riset laboratorium dengan industrialisasi komersial.

Bagja Pratama

Jurnalis

Lihat semua artikel →
populerRelated Article