icon-category Telco

Indonesia Sudah Siap Gelar 5G?

  • 28 Nov 2019 WIB
  • Bagikan :

    Ilustrasi (Unsplash)

    Uzone.id - Kemajuan teknologi dan adopsi digital di Indonesia akan menciptakan peluang yang semakin besar dalam beberapa tahun ke depan, terutama memasuki era Revolusi Industri 4.0. Salah satu teknologi yang tak bisa dihindari adalah kedatangan 5G ke Indonesia tak lama lagi.

    Teknologi 5G memiliki berbagai kelebihan dibanding 4G antara lain kecepatan hingga 50 kali lebih cepat, 10 kali lebih responsif, dan daya konektivitas yang jauh lebih rendah. Berbagai hal ini tersedia berkat kombinasi dari tiga fitur berikut – high throughput, latensi yang sangat rendah, dan konektivitas daya yang juga rendah.

    Peningkatan kecepatan, latensi rendah, dan konektivitas akan membantu operator telekomunikasi dalam menyelenggarakan koneksi Internet super cepat untuk streaming video berkualitas high-definition (HD), cloud gaming, serta konten interaktif berbasis augmented reality dan virtual reality (AR/VR) bagi pelanggannya.

    Merayakan HUT ke-8, IndoTelko, menggelar "Seminar Embarking 5G, a Pursuit to Digital Destiny" yang menghadirkan Keynote Speech dari Direktur Jenderal Sumber Daya Perangkat Pos dan Informatika Bapak Dr. Ir. Ismail, M.T dengan Pembicara Utama Ketua Umum Asosiasi Penyelenggara Telekomunikasi Seluruh Indonesia (ATSI) Ririek Adriansyah.

    Baca juga: Segini Harga Paket Internet 5G

    Selain itu  juga ada Sharing Speaker yakni Direktur Network Telkomsel Iskriono Windiarjanto, Chief Enterprise & SME Officer XL Axiata Feby Sallyanto, Director & Chief Innovation & Regulatory Officer Indosat Ooredoo Arief Musta’in, Deputy General Manager Technical Hutchison Tri Indonesia Irwan Radius, Direktur ICT Strategy & Marketing Huawei Indonesia Mohamad Rosidi, Head of Network Solution Ericsson Indonesia Ronni Nurmal, dan SVP Head of Sales APAC Region Mavenir Sam Saba.

    Direktur Jenderal Sumber Daya Perangkat Pos dan Informatika Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) Dr. Ir. Ismail, M.T menjelaskan instansinya sudah mempertimbangkan implementasi 5G di Indonesia. Namun, ada empat hal yang dipertimbangkan pemerintah sebelum menuju 5G, yaitu momentum yang tepat untuk masuk ke pasar, mendorong infrastructure sharing, meminta operator untuk menyiapkan business model yang inovatif dan bermanfaat buat masyarakat, serta terakhir kolaborasi dan perluasan.

    “Pemerintah tidak mau buru-buru, tetapi juga jangan telat. Lalu kami juga mendorong infrastructure sharing untuk menekan 40% cost karena 5G ini terkait akses jaringan. Sebelum 5G, kami ingin melihat formulasi demand, supply, dan ekosistemnya harus dipertimbangkan secara keseluruhan,” ujar Ismail.

    Ismail menegaskan, pemerintah tidak mau sekadar mengikuti tren 5G yang didorong pemanfaatannya oleh negara-negara produsen dari jaringan telekomunikasi generasi kelima ini.

    “Kita nggak mau 5G kalau nggak jadi tuan rumah. Market Indonesia besar, demandnya juga besar. Jangan sampai kita hanya belanja, dimanfaatkan, dan seterusnya tetapi tidak bisa jadi tuan rumah. Jangan hanya berdebat di dalam negeri, tetapi tidak melihat bahwa kita sebenarnya hanya bulan-bulanan global,” tegasnya.

    Berharap Insentif Pemerintah

    Ketua Umum Asosiasi Penyelenggara Telekomunikasi Seluruh Indonesia (ATSI) Ririek Adriansyah menyatakan seluruh operator telekomunikasi di Indonesia menyatakan kesiapannya menyediakan jaringan 5G bagi masyarakat maupun industri.

    Namun, mengingat investasi yang harus dikeluarkan untuk membangun jaringan 5G tidak murah, ATSI meminta pemerintah bisa membantu dengan memberikan insentif seperti yang dilakukan di negara lain.

    “Kami di ATSI mengharapkan adanya keringanan. Di tahap awal pengembangan misalnya kami diberikan BHP Holiday di 3 tahun pertama implementasi, sehingga kami terbantu membangunnya,” kata Ririek.

    Baca juga: Indonesia Baru Siap 5G Tahun 2022?

    Demi mempercepat proses pembangunan jaringan 5G, Ririek juga menilai pemerintah perlu melakukan sinkronisasi regulasi Pusat dan Daerah.

    “Operator kita sendiri sudah melakukan trial 5G tahun ini sampai tahun depan. Kami mengharapkan tender spektrum bisa dilakukan 2021, sehingga pembangunannya bisa kita lakukan setelah itu,” tegasnya.

    ATSI berharap, Indonesia tidak kehilangan momentum memanfaatkan 5G sehingga keinginan pemerintah melakukan revolusi industri 4.0 bisa terbantu dengan teknologi.

    Keniscayaan
     
    "Kehadiran 5G ke Indonesia tak bisa ditolak. Teknologi itu sebuah keniscayaan melihat pertumbuhan trafik dan penggunaan konten digital dari masyarakat Indonesia. Sekarang posisinya, bagaimana pemerintah memainkan peran agar teknologi diadopsi, tetapi ketahanan dan kedaulatan digital bisa dibangun atas 5G," ungkap Pendiri IndoTelko Forum Doni Ismanto Darwin.
     
    Doni mengharapkan, pemerintah mulai membangun roadmap yang lebih jelas dalam menghadapi 5G sehingga memberikan kepastian bisnis bagi semua ekosistem yaitu Device Network Application (DNA).
     
    "Kalau pasar global, 5G akan komersial di 2020. Indonesia rasanya tak mungkin tahun depan. Tetapi berikanlah roadmap ke semua ekosistem agar kita benar-benar bisa bangun bisnis dan ketahanan industri telekomunikasi yang ideal di era 5G," katanya.
     
    Doni mengingatkan, Indonesia telah masuk ke sebuah tatanan baru seiring jaringan broadband kian masif penetrasinya. "5G nanti akan makin banyak konten yang beragam dan kegunaanya untuk infrastruktur kritikal. Saya harapkan ketika membuat roadmap 5G itu mempertimbangkan ketahanan dan kedaulatan siber nasional," jelasnya.

    Terjangkau

    Direktur Network Telkomsel Iskriono Windiarjanto menilai dengan semakin rendahnya biaya yang dikeluarkan operator untuk menyediakan jaringan 5G maka layanan yang diberikan ke pelanggan bisa lebih terjangkau.

    “Oleh karena itu spektrum jangan mahal-mahal. Teknologi ini kan yang membuat lumayan mahal karena barang baru. Nanti kalau demand dan supply sudah berimbang, baru akan bisa kompetitif,” jelas Iskriono.

    Namun, Iskriono menegaskan Telkomsel tidak akan melewatkan kesempatan untuk menjadi operator 5G pertama di Indonesia demi mempertahankan penguasaan pangsa pasar selulernya di Indonesia.

    “Kalau kita bisa lebih dulu masuk, paling tidak 35-40% marketshare ada di tangan. Sehingga stimulus dari pemerintah untuk menekan biaya yang tinggi bisa menjadi salah satu solusi pengembangan 5G di Indonesia,” ungkapnya.

    Struktur Baru

    Director & Chief Innovation & Regulatory Officer Indosat Ooredoo Arief Musta’in, berpandangan masuknya 5G ke Indonesia berpotensi mengubah struktur industri telekomunikasi di negara ini.

    Tingginya biaya membangun jaringan infrastruktur yang dibutuhkan untuk 5G akan memunculkan investor atau pemain baru, atau mengkolaborasikan pemain-pemain lama seperti yang terjadi di negara lain yang sudah lebih dulu menerapkan 5G.

    “Industri ini akan semakin dinamis dengan hadirnya pemain baru. Oleh sebab itu beberapa perusahaan di luar negeri bergabung untuk mendevelop 5G ini agar infrastrukturnya bisa lebih ekonomis dengan cara sharing. Ketika spectrum mahal, investasinya mahal, maka operator akan berpikir bagaimana return of investment-nya, dan solusinya adalah sharing,” kata Arief.

    Pentingnya sharing cost untuk investasi 5G juga diamini dua petinggi operator seluler lainnya.

    Chief Enterprise & SME Officer XL Axiata Feby Sallyanto menyatakan perusahaannya sudah siap untuk menyediakan layanan 5G, namun diperlukan solusi win-win dari regulator agar biaya pembangunan jaringan bisa dikolaborasikan.

    “XL Axiata siap masuk ke 5G dengan menseleksi beberapa pasar yang cocok dan pas untuk penggunaan 5G ini. Kami berharap banyak pada regulator, karena semua operator ini tidak bisa pada tahap awal sudah memiliki business case yang mumpuni. Sehingga perlu dukungan pemerintah, dan win-win bagi semua pihak agar transisi 4G ke 5G bisa berjalan lancar,” ucapnya.

    Gambaran biaya investasi yang sangat tinggi dari menyediakan jaringan 5G tergambar secara jelas dalam paparan Deputy General Manager Technical Hutchison Tri Indonesia Irwan Radius.
     
    Dalam uji coba 5G yang dilakukan perusahaannya di Surabaya bekerjasama dengan Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) di Surabaya, ditemukan bahwa pemakaian frekuensi 5G yang tinggi tidak bisa mengcover area yang cukup luas.
     
    “Ternyata 5G pakai frekuensi tinggi tidak bisa jauh jangkauannya, hanya 150 meter dari tower. Bayangkan berapa BTS yang dibutuhkan untuk cover daerah yang luas. Sehingga kami berkesimpulan bahwa spektrum sharing bisa membuat transisi yang mulus dari 4G ke 5G,” kata Irwan.

    Ia juga mengusulkan kepada Kominfo untuk duduk bersama para petinggi Kementerian Perindustrian (Kemenperin) untuk menjaring kelompok industri yang siap menjadi pelanggan layanan 5G dari operator.

    “Alignment industry harus dipikirkan juga. Jangan sampai operator sudah bangun jaringan sedemikian rupa, tetapi market tidak memanfaatkannya secara maksimum. Ini butuh bantuan pemerintah untuk fasilitasi, jadi usernya sudah ketahuan siapa saja dan tidak sia-sia investasi yang dikeluarkan,” jelasnya.

    Kesiapan Vendor 5G

    Terkait prospek implementasi 5G di Indonesia, beberapa perusahaan vendor teknologi asing sepakat menyatakan Indonesia merupakan pasar yang sangat besar untuk digarap.

    Direktur ICT Strategy & Marketing Huawei Indonesia Mohamad Rosidi, menyebut 30 negara di dunia sudah mulai menerapkan 5G di industri telekomunikasinya. Huawei sendiri menyatakan kesiapannya untuk mendukung launching 5G di Indonesia.
     
    “Kami punya mulai dari device atau ponsel 5G nya, chipset, sampai perangkat end to end nya. Memang contoh kasus di negara lain, pemerintahnya memegang peranan penting dalam membuat open sharing. Karena pricing di end user 5G sangat sensitif,” jelas Rosidi.
     
    Ronni Nurmal, Head of Network Solution Ericsson Indonesia, percaya revolusi industri di Indonesia benar-benar akan terjadi dengan pemanfaatan 5G sebagai backbone.
     
    “Kolaborasi kami dengan perusahaan tambang di Swedia serta satu perusahaan pengelola pelabuhan di China berhasil menekan cost 20% sampai 70% dengan pemanfaatan 5G lewat automated drilling and blasting, serta logistik,” kata Ronni
     
    Sementara SVP Head of Sales APAC Region Mavenir Sam Saba menyebut perusahaannya menyediakan solusi OpenRAN berbasis 5G yang bisa diadopsi di perusahaan-perusahaan Indonesia.
     
    “Inovasi melalui pemanfaatan IT harus ada di dalam mindset, meskipun kami menilai pemanfaatan 5G baru akan dimulai di negara berkembang pada 2026. Namun, operator harus memulainya sekarang. Kami akan menyediakan solusi membuka intervace sehingga provider lain bisa menggunakannya bersama,” ungkap Saba.

    Cek informasi menarik lainnya di Google News

    Bantu kami agar dapat mengenal kalian lebih baik dengan mengisi survei di sini