
Kantor Berita Suara Palestina (SPNA) telah merampungkan kegiatan pemilihan anak asuh yatim Palestina. Pemilihan ini dilakukan di halaman sebuah madrasah di Gaza Utara dan dihadiri oleh lebih dari 320 anak yatim Palestina, serta ratusan warga dari wilayah setempat.
"Program santunan dari muslimin Indonesia untuk anak yatim Palestina ini adalah yang pertama kalinya terselenggara di Gaza," kata relawan Indonesia di Palestina, Abdillah Onim, kemarin. Maka tidak heran, begitu banyak energi, pikiran dan upaya yang dikerahkan demi kelancaran program ini, baik sebelum maupun di hari pelaksanaan kegiatan. Meski tidak mudah, namun pengaturan dan pengkoordinasian telah diupayakan semaksimal mungkin.
Dikatakan Onim, anak yatim adalah komunitas penting dalam masyarakat Palestina. Perang dan blokade berkepanjangan di Jalur Gaza, menyebabkan jumlah mereka terus meningkat. Berbagai dukungan dan perhatian tentu saja sangat berarti bagi yatim Palestina.
Terlebih, kata dia, menyantuni anak yatim adalah perkara yang sangat dianjurkan oleh Rasulullah SAW. Dalam sebuah hadis, beliu bersabda, “Saya dan orang yang menanggung anak yatim (kedudukannya) di surga seperti ini, saat itu Rasulullah memberi isyarat dengan jari telunjuk dan jari tengahnya seraya merenggankan keduanya,” (HR. Al-Bukhari).
Berpegang pada hadits di atas, aktivis kemanusiaa Indonesia untuk Palestina ini, berinisiatif mencetuskan program orang tua asuh untuk yatim Palestina ini. "Tidak lebih sebulan dari peluncuran program ini, telah terdaftar lebih dari 320 warga Indonesia yang bersedia menjadi orang tua asuh. Bahkan, ada di antara mereka yang bersedia menyantuni empat hingga lima anak yatim," ujarnya.
Pendataan anak yatim
Dua minggu sebelum pelaksanaan kegiatan, semua tim yang terlibat melakukan pendataan jumlah anak yatim yang terdapat di wilayah sasaran. Perlu diketahui, Gaza adalah sebuah wilayah yang hanya memiliki luas 367 Km persegi, namun dihuni oleh 2 juta jiwa. Tidak kurang dari 1,5 Juta diantaranya hidup di bawah garis kemiskinan. Banyak dari mereka tidak memiliki pekerjaan akibat blokade Israel yang telah berlangsung lebih dari satu dekade.
Pendataan anak yatim dilakukan mulai dari wilayah utara hingga selatan Jalur Gaza. Mayoritas dari mereka adalah anak-anak yang kehilangan ayah akibat agresi Israel. Setidaknya 99 persen dari mereka hidup di bawah garis kemiskinan. Maka, melalui program bertajuk 'Saya Orang Tua Asuh Yatim Palestina (Sosuyit)' ini, diharapkan dapat membantu anak-anak yatim Palestina dalam menjalani hidup mereka, serta semakin mempererat hubungan Muslim Indonesia dan Palestina.