Home
/
ESG

Inovasi Kampung di Jaksel: Sulap ‘Gotham City’ Jadi Smart Village

Dari lingkungan yang dianggap sebagai 'Gotham City', RT 11 RW 7 Gandaria Utara bertransformasi menjadi Smart Green Safe Village 5.0.

Inovasi Kampung di Jaksel: Sulap ‘Gotham City’ Jadi Smart Village

Bagikan :

Highlight Artikel

  • Transformasi RT 11 RW 7 Gandaria Utara dari julukan “Gotham City” menjadi kawasan Smart Green Safe Village 5.0 berbasis teknologi.
  • Inisiatif perubahan diprakarsai oleh Ketua RT Imam Basori, berfokus pada keamanan digital, pengelolaan sampah, dan ketahanan pangan.
  • Implementasi program keamanan digital “Bang Jali” dengan e-Gate otomatis, CCTV yang dipantau warga, dan panic button darurat berhasil menekan angka kriminalitas, termasuk kasus pencurian motor menjadi nol.
  • Pengelolaan sampah mandiri melalui “Komling” dan “Komposter Mandiri” serta program ketahanan pangan dengan kolam ikan dan kebun sayur, semua tanpa iuran warga, menunjukkan pemberdayaan ekonomi dan lingkungan.
Uzone.id — Berawal dari lingkungan yang dulu dijuluki warga sebagai "Gotham City", sebuah kampung di Jakarta Selatan, tepatnya di RT 11 RW 7 Kelurahan Gandaria Utara, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan kini berubah menjadi kawasan berbasis teknologi.

Diprakarsai sang Ketua RT Imam Basori, desa tersebut kini berubah dan mengusung konsep Smart Green Safe Village 5.0: From Security to Sustainability dengan sistem keamanan digital, pengelolaan sampah mandiri, hingga ketahanan pangan yang dikelola langsung oleh warganya.

Melalui konsep ini, masyarakat RT 11 RW 7 menggabungkan aspek keamanan, kebersihan lingkungan, hingga pemberdayaan ekonomi warga dalam satu ekosistem yang saling terhubung.

Awal Mula Perubahan Kampung

Lalu, bagaimana awalnya kampung ini bisa menjadi smart village?

Berawal dari keinginan warga RT 11 RW 7 yang melihat kondisi lingkungan yang memprihatinkan, dimana orang-orang melihat RT tersebut sebagai RT yang paling terbelakang.

“Jadi dulu itu masyarakat itu dipandang sebelah mata ya, selalu dibuat seperti RT yang paling terbelakang. Jadi saya punya semangat biar untuk mengubah seperti itu. Jadi dari kondisi awal saya yang harus kita lakukan mulai sampai dari tahap sekarang ini, yang saya lakukan adalah pertama adalah SDM-nya masyarakat,” kata Iman saat dikunjungi oleh Tim Uzone.id, dikutip Sabtu, (26/07).

Iman menjelaskan bahwa masyarakat mereka membangun semuanya dari nol, dari kampung yang terasa sebagai Gotham City hingga menjadi perkampungan yang hangat, melek teknologi namun dengan kekeluargaan yang sangat kuat.

“Jadi kita membangun lingkungan di sini ini, kalau dulu kondisi awal menurut warga lain itu seperti Gotham City lah di awalnya. Jadi saya punya semangat, punya semangatnya saya berharap bisa mengubah lingkungan sini 180 derajat,” tambahnya.

Membangun Fondasi Sosial dan Gotong Royong

Langkah pertama dan cukup vital yang dilakukan oleh warga di lingkungan ini adalah untuk memperbaiki hubungan antarwarga.

Imam menyebut bahwa mereka rutin menggelar pertemuan bulanan, merayakan ulang tahun warga bersama, hingga mengadakan makan bersama hasil panen program ketahanan pangan.

Menurutnya, pendekatan emosional menjadi fondasi agar masyarakat mau terlibat dalam setiap program.

“Jadi kita menyatu, tidak ada perbedaan, tidak ada gap. Jadi semua sama posisinya, sama rata, sama rasa. Jadi jangan menganggap Jabatan Ketua RT itu sesuatu yang paling tinggi ataupun seperti hal yang harus dihormati,” tambahnya.

Ia juga menerapkan transparansi penuh terhadap penggunaan dana operasional RT sehingga seluruh warga mengetahui anggaran digunakan untuk apa saja.

Langkah selanjutnya adalah dengan mulai mengajak warga dalam bergotong royong, termasuk dalam program-program yang bermanfaat bagi masyarakat.

Salah satunya adalah dengan menjadikan tempat pembuangan sampah menjadi balai warga. 

Melalui gotong royong, lokasi tersebut disulap menjadi pos satkamling, ruang aspirasi warga, hingga tempat berkumpul masyarakat.

Berbagai perlengkapan seperti kursi, tenda, kipas angin, hingga pengeras suara juga disediakan sehingga warga tak perlu lagi menyewa ketika menggelar acara. Menariknya, seluruh pembangunan dilakukan tanpa iuran warga.

"Dana operasional RT sebesar Rp2,5 juta kami maksimalkan untuk lingkungan. Filosofinya sederhana, dari warga, oleh warga, dan untuk warga," jelas Imam.

Inovasi Teknologi: Program Bang Jali

Setelah pondasi sosial terbentuk, barulah inovasi teknologi diterapkan melalui program Bang Jali (Bareng Jaga Lingkungan). Program ini memiliki pilar pertama berupa sistem keamanan digital yang terdiri dari e-Gate otomatis di empat titik, 16 CCTV yang dapat dipantau warga melalui aplikasi, panic button darurat, patroli satkamling, aplikasi monitoring warga, dan pembagian GPS gratis untuk kendaraan.


Salah satu yang cukup menarik adalah portal otomatis atau e-gate yang mulai aktif setiap pukul 00.00 hingga 05.30 WIB. E-Gate ini bermanfaat untuk mendeteksi dini siapa saja yang masuk ke lingkungan.

"Tujuannya bukan membatasi orang, tetapi melakukan deteksi dini agar potensi kriminal bisa dicegah," katanya.

Hasilnya pun sudah terlihat, dimana Iman menjelaskan kalau saat ini sudah tidak ada lagi kasus pencurian motor di lingkungan mereka.

"Alhamdulillah sampai sekarang zero aksi curanmor," ujarnya.

Bagi warga dari RT lain yang masih berada di kawasan tersebut tetap diberikan akses secara gratis dengan sistem registrasi sebelumnya.

Kemudian ada juga 16 CCTV yang bisa dipantau oleh warga di aplikasi smartphone mereka. Mereka bisa melihat kondisi lingkungan secara real-time, termasuk memantau aktivitas anak-anak yang sedang bermain.

Namun, warga hanya diberikan akses untuk melihat siaran kamera tanpa dapat merekam video.

"Kalau anak sedang main di mana jadi mudah dipantau. Tujuan utamanya memberi rasa aman sekaligus nyaman," jelasnya.

Selain CCTV, warga juga memiliki panic button. Tombol ini dapat digunakan saat terjadi kondisi darurat seperti pencurian, kebakaran hingga warga yang membutuhkan pertolongan medis.

 




Jika seluruh tombol ditekan bersamaan, sistem akan memberikan sinyal agar portal lingkungan ditutup sehingga akses keluar-masuk dapat diblokade sementara.

Solusi Pengelolaan Sampah Mandiri

Setelah keamanan, program berlanjut ke persoalan sampah. Imam menilai persoalan sampah Jakarta harus diselesaikan dari sumbernya, yaitu rumah tangga.

Karena itu lahirlah Komling (Kompos Keliling).

Alih-alih membuang sampah sendiri, relawan yang merupakan warga setempat akan berkeliling setiap sore menggunakan kendaraan khusus sambil memutar jingle yang diciptakan sendiri oleh Imam.

Begitu lagu diputar, warga langsung mengetahui petugas kompos telah datang dan menyiapkan sampah organik mereka.




"Saya sengaja buat jingle supaya masyarakat langsung ingat, sama seperti suara penjual es krim. Begitu lagunya terdengar, warga sudah siap mengeluarkan sampah dapur," katanya.

Sampah organik tersebut kemudian diolah menggunakan komposter yang mampu mengubah limbah menjadi pupuk hanya dalam waktu sekitar enam jam.

Sampah-sampah ini kemudian akan ditampung di Koma (Komposter Mandiri) yang mampu menampung hingga 100 kilogram sampah organik.

Fasilitas ini digunakan saat volume sampah meningkat, misalnya setelah acara warga atau hajatan. Sementara botol plastik dan kaleng dipadatkan menggunakan alat bernama Smart Geprek sehingga memiliki nilai jual lebih tinggi.

Hasil penjualannya kembali digunakan untuk pengembangan lingkungan.

Program Ketahanan Pangan Komunitas

Program lain yang dikembangkan adalah ketahanan pangan. Saat ini terdapat enam kolam ikan berisi nila, lele, dan bawal yang dapat dimanfaatkan warga.

Hasil panen digunakan untuk acara makan bersama maupun dibagikan kepada warga yang membutuhkan. Kompos hasil pengolahan sampah juga dimanfaatkan untuk lomba menanam sayur menjelang HUT RI.

Setiap kepala keluarga mendapatkan bibit tanaman agar bisa mengembangkan kebun kecil di rumah masing-masing.

 

FAQ Artikel

Apa itu "Smart Green Safe Village 5.0" di RT 11 RW 7 Gandaria Utara?

Ini adalah konsep yang menggabungkan sistem keamanan digital, pengelolaan sampah mandiri, dan ketahanan pangan yang dikelola warga, mengubah kampung yang dulunya dijuluki "Gotham City" menjadi kawasan berbasis teknologi.

Siapa yang memprakarsai perubahan di RT 11 RW 7?

Perubahan dan konsep Smart Green Safe Village 5.0 ini diprakarsai oleh Ketua RT Imam Basori.

Bagaimana RT 11 RW 7 membangun fondasi sosial antarwarga?

Mereka rutin menggelar pertemuan bulanan, merayakan ulang tahun warga bersama, mengadakan makan bersama hasil panen program ketahanan pangan, dan menerapkan transparansi penuh terhadap penggunaan dana operasional RT untuk membangun kedekatan dan kepercayaan.

Apa saja fitur keamanan digital dalam program "Bang Jali"?

Program "Bang Jali" meliputi e-Gate otomatis di empat titik, 16 CCTV yang dapat dipantau warga via aplikasi, panic button darurat, patroli satkamling, aplikasi monitoring warga, dan pembagian GPS gratis untuk kendaraan.

Bagaimana sistem pengelolaan sampah di RT 11 RW 7 bekerja?

Sistem ini dinamakan Komling (Kompos Keliling), di mana relawan mengumpulkan sampah organik setiap sore. Sampah diolah menggunakan komposter menjadi pupuk dalam waktu singkat, dan botol plastik/kaleng dipadatkan dengan "Smart Geprek" untuk meningkatkan nilai jual.

Apa tujuan utama dari program ketahanan pangan di RT 11 RW 7?

Program ini bertujuan menyediakan sumber makanan mandiri bagi warga melalui enam kolam ikan (nila, lele, bawal) dan lomba menanam sayur dengan bibit yang dibagikan ke setiap kepala keluarga. Hasil panen digunakan untuk acara makan bersama atau dibagikan kepada yang membutuhkan.

Vina Insyani

Jurnalis

Lihat semua artikel →
populerRelated Article