
-
Hedi Hidayat adalah suporter fanatik Persib. Pria 25 tahun ini tak pernah melewatkan laga kandang maupun tandang tim kesayangannya. Maka saat Polda Metro Jaya melarang suporter Persib dari luar Jakarta menyaksikan laga Persija vs Persib di Gelora Bung Karno (GBK), Hedi tak memperdulikannya.
Jauh hari sebelum laga digelar, Hedi sudah mengantongi tiket VIP Barat GBK. Selasa (9/7/2019), Hedi sudah ada di Jakarta, lantas menginap di kediaman kerabatnya di kawasan Cawang, Jakarta Timur.
Rabu pagi (10/7/2019), ia pun segera bergegas menuju Stadion Utama GBK--yang berjarak lebih kurang 11 kilometer dari rumah kerabatnya--dengan menunggang motor bersama Rendra, rekannya. Sebelum berangkat, Hedi menyimpan dompet dan KTP di rumah kerabatnya, demi menghindari pemeriksaan petugas keamanan.
Hedi mengaku tak mendapat kendala saat masuk hingga duduk di tribun VIP barat. Di tribun itulah, Hedi tahu jika banyak pendukung Persib yang juga datang ke Stadion Utama GBK.
"Di tribun ada bobotoh juga entah itu dari mana. Yang jelas, ada yang saya hafal orang itu, tapi memilih cuek saja,” kata Hedi saat menceritakan kisahnya kepada reporter Tirto, Kamis (11/7/2019).
Cuek yang dimaksud Hedi bukan berarti tak ramah. Sikap masa bodoh memang harus ia lakukan agar aman menyaksikan laga tersebut dari dekat.
Menjelang laga usai, Hedi mulai ketakutan. Beberapa suporter Persija mulai memperhatikan gerak-geriknya. Sekitar menit ke-85, pikiran Hedi kalut dan dia memutuskan meninggalkan tribun. Hedi tambah risau lantaran ia baru sadar, fotonya tersebar viral di stories akun instagram @memejakmania.
"Apalin," begitu keterangan yang dibubuhkan akun tersebut di atas foto Hedi.
Hedi pasrah. Ia siap menanggung apa pun bahaya akibat “kebandelannya” ngotot ke GBK.
"Sudah gemeteran. Kalau lanjut nonton saya juga pasti enggak tenang karena harus pura-pura menatap ke bawah nahan euforia tiap Persib nyerang," terangnya.
Saat keluar stadion dan sampai di tangga zona 11, Hedi dan Rendra, kawannya, dirangkul empat koordinator lapangan The Jakmania. Mereka mengawal Hedi agar tak dikeroyok suporter lain sampai keluar stadion.
Sang korlap yang tak Hedi ketahui namanya itu lantas memintanya agar tidak melanggar aturan di lain waktu. Hedi lantas dibebaskan saat keluar dari kawasan GBK.
"Mungkin mereka sudah mengamati saya. Mereka tampak dewasa, enggak koar-koar," kata Hedi.
Kejadian ini bikin Hedi mulai berpikir, "itu away rival terakhir saya nembusin diri ke GBK. Kalau main di luar Jakarta, pasti mau [datang], tapi kalau untuk di GBK Persib vs Persija, saya enggak mau lagi," pungkas Hedi, menyesali kenekatannya.
Apa yang dikatakan Hedi diakui Aspal, seorang Korlap Jakmania. Kemarin, mereka mengevakuasi 9 hingga 10 suporter Persib yang nekat nonton pertandingan di GBK.
"Kami amankan agar terhindar dari hal-hal yang tidak diinginkan," ungkap Aspal.
Momentum-momentum di atas seharusnya bisa disikapi dengan lebih baik oleh stakeholder terkait. Sayang, sejauh ini kebijakan-kebijakan dibikin justru belum menunjukkan tanda-tanda menuju arah lebih baik.
Beberapa langkah yang ditempuh kepolisian, operator kompetisi, dan panpel saat laga terakhir Persija vs Persib memang patut mendapat apresiasi. Misalnya, saat panpel dan petugas keamanan menstrerilkan halaman utama GBK dari suporter yang tak memiliki tiket. Langkah ini mampu meminimalisir orang yang tak berkepentingan untuk masuk dalam kerumunan.
Namun demikian, ada beberapa kebijakan yang tidak berorientasi mencabut akar masalah. Salah satu yang tampak jelas adalah pilihan menyortir suporter berdasarkan domisili KTP.
“Tadi disepakati untuk penonton hanya dari Jakarta, dari [suporter] Persija,” ujar Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Argo Yuwono.
Alih-alih mengatasi, kebijakan tersebut justru menjadi masalah baru bagi sebagian suporter. Tidak hanya untuk Bobotoh yang dilarang hadir, tapi juga bagi sebagian the Jakmania.
Ari Rahmansyah misal, salah seorang suporter Persija asal Brebes yang menjadi tumbal atas kebijakan itu. Ari datang ke stadion tanpa membawa atribut Persija. Kondisi itu bikin dia sempat digeledah petugas. Ari lantas dilarang masuk ke stadion karena domisili di-KTP-nya masih Brebes, padahal Ari mendaku sebagai suporter berat Macan Kemayoran.
“11 Tahun mungkin aku nonton Persija terus, tapi cuma dari TV karena jauh dan tidak punya uang. Sejak tahun lalu lulus SMK, tanggal 6 kemarin pindah ke Jakarta, ditawari kerjaan. Niatnya sekalian kesempatan nonton Persija untuk pertama [hari ini]. Tapi malah enggak boleh masuk,” ujarnya dengan wajah muram, Rabu (10/7/2019).
Keluhan serupa disampaikan Maulana, seorang suporter yang tak sengaja berpapasan dengan saya di sekitar Pintu Masuk 1 GBK.
"Belum lama di sini, dari Tasikmalaya. Belum punya kenalan [sesama Jakmania], jadi susah mau masuk. Tadi sial [ketahuan dari luar Jakarta]. Pengen banget lihat langsung Bruno Matos padahal," tuturnya pasrah.
Kegagalan sejumlah Jakmania masuk ke stadion ini mesti dibaca sebagai usaha untuk meredam jatuhnya korban. Ari atau Maulana berhak untuk kecewa, tapi melihat relatif aman dan damainya laga Persija vs Persib, mereka pantas dihargai karena secara tak langsung menjadi bagian dari mitigasi jatuhnya korban.
Masih banyak pekerjaan rumah untuk memastikan rivalitas kedua klub ini tidak lagi memakan korban. Jakmania sudah memulainya dengan konkrit kemarin, para bobotoh patut mengapresiasnya, dan apresiasi terbaik yang bisa diberikan adalah dengan melakukan hal serupa.
Baca juga artikel terkait LIGA 1 2019 atau tulisan menarik lainnya Herdanang Ahmad Fauzan