
Tak ada raungan gitar saat Hari Moekti berdiri di panggung besar di Stadion Gelora Bung Karno pada suatu hari di bulan Mei, 2015 silam. Tak ada pula untaian syair bertema percintaan muda-mudi, seperti kerap ia nyanyikan pada dekade 1980-an.
Di panggung megah itu, mulut Hari cuma sibuk menyerukan tegaknya khilafah di bumi Indonesia.
"Hanya insan mulia yang selalu dapat bersama dalam satu tujuan menegakkan khalifah dan khilafah. Allahu Akbar..." pekik Hari Moekti di hadapan ribuan orang kala itu.
Hari Moekti memang sudah cukup lama meninggalkan gemerlap dunia tarik suara. Dia memilih hijrah menekuni ilmu agama hingga akhirnya dikenal sebagai penceramah.
Perjalanan hijrah Hari Moekti tak lepas dari kegelisahannya saat masih mengeluti dunia tarik suara.
Dalam sebuah acara, Hari mengaku kehidupannya sebagai musisi dipenuhi oleh kegelisahan.
"Salat enggak pernah puas, terkenal enggak pernah puas," ujar Hari Moekti seperti direkam oleh akun YouTube Vertizone TV.
Dalam selimut kegelisahan itu, pelantun tembang Hanya Satu Kata ini mengaku didatangi seorang pendakwah yang tak ia sebutkan namanya.
Hari Moekti bercerita peristiwa itu terjadi pada 1995. Pendakwah yang mendatanginya mengaku diutus oleh seorang ulama dari Timur Tengah.
Sang pendakwah lalu menasihati Hari soal kehidupan. Salah satunya soal kebiasaan-kebiasaan baik yang dilakukan Hari.
Proses Hijrah
Hari menuturkan dalam acara tersebut, pendakwah itu menyatakan kebiasaan baik yang ia lakukan salah.
"Mati aku," kata Hari mengingat reaksinya saat mendengar pernyataan pendakwah tersebut.
"Padahal saya itu santunan, anak yatim, sunatan massal. Pokoknya, orang perlu uang, saya kasih."
Hari juga mengaku tersinggung dengan nasihat pendakwah itu. Namun, kata Hari, dari ketersinggungan itu dia justru disadarkan bahwa Allah menyayanginya.
"Orang-orang yang tersinggung oleh ayat-ayat Allah yang disampaikan khatib, mubalig, dan yang saya sampaikan ke mas Hari, itu berarti mas Hari dalam kasih sayang Allah," tutur Hari menirukan ucapan pendakwah tersebut.
|
Massa pendukung Hizbut Tahrir Indonesia yang mengusung ideologi Khilafah. (AFP PHOTO / ADEK BERRY)
|
Hari pun tak pernah secara tegas membeberkan hal itu, hingga pada Rabu, 19 Juli 2017, pemerintah membubarkan HTI dengan mencabut badan hukumnya.
HTI dianggap mengusung ideologi yang bertentangan dengan NKRI dan Pancasila.
Direktur Jenderal Administrasi Hukum Umum (Dirjen AHU) Kemkumham, Freddy Harris mengatakan walaupun dalam AD/ART mencantumkan Pancasila sebagai ideologi untuk badan hukum perkumpulannya, namun dalam fakta di lapangan, kegiatan dan aktivitas HTI banyak yang bertentangan dengan Pancasila dan jiwa NKRI.
"Mereka mengingkari AD/ART sendiri, serta dengan masukan dari instansi terkait lainnya, maka ha-hal tersebut juga menjadi pertimbangan pencabutan SK Badan Hukum HTI," ujar dia saat itu.
HTI sendiri masih berusaha melawan keputusan tersebut. Juru bicara HTI Ismail Yusanto menyatakan tengah merencanakan mengajukan banding setelah gugatan mereka ditolak oleh majelis hakim Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) DKI Jakarta, pada Mei lalu.
Tetapi perlawanan yang dilakukan HTI tak bisa lagi disaksikan oleh Hari Moekti. Minggu malam kemarin, Allah telah memanggil Hari ke tempat peristirahatan terakhir.
Dia meninggal dunia di Rumah Sakit Dustira, Cimahi, Bandung, Jawa Barat, sekitar pukul 20.49 WIB, pada usia 61 tahun.