icon-category Digilife

Jokowi Ancang-ancang Bangun Metaverse

  • 16 Dec 2021 WIB
  • Bagikan :
    Presiden RI Jokowi (Foto: Sekretariat Kabinet)

    Uzone.id - Presiden RI Joko Widodo telah meresmikan Gerakan Akselerasi Generasi Digital, salah satunya melalui Pembentukan Merah Putih Fund.

    Menurut Menteri BUMN Erick Tohir, ini merupakan terobosan untuk membangun roadmap dan ekosistem digital kita sendiri.

    "Terobosan ini harus kita lakukan, karena kita sedang menghadapi dunia baru, tantangan baru. Kita butuh superhero baru, yaitu founders startup asli Indonesia, guna memastikan ekosistem kita yang akan menang," tutur Eric Tohir di akun Instagram @erickthohir, miliknya.

    BACA JUGA: Google Ancam Pecat Karyawan yang Ogah Patuhi Aturan Vaksin

    Jokowi sendiri telah meresmikan Gerakan Akselerasi Generasi Digital di Jakarta Convention Center (JCC) di Jakarta, pada Rabu (15/12/2021).

    Dalam pidatonya, Jokowi mengatakan bahwa Indonesia memiliki potensi, memiliki pasar digital yang berkembang dan sangat besar sekali.

    Menurutnya, pada tahun 2019 sebesar USD40 miliar. Tahun 2020 masuk ke angka USD47 miliar. Lalu tahun 2021 naik 49 persen menjadi 70, kurang lebih USD70 miliar.

    "Dan diperkirakan nanti di tahun 2025, 146 billion US dollar. Sangat besar sekali. Ini dipercepat karena adanya pandemi. Jadi pertumbuhan pasar digital kita dipercepat karena pandemi," kata Jokowi.

    Menurutnya, logistik juga naik 60 persen, ini akibat penggunaan delivery, e-groceries sehingga naik 60 persen. Konsumen digital juga naik 10,2 persen.

    "Ini yang konsumen barunya, tambahan konsumen barunya 10,2 persen. Transaksi e-money juga naik 55 persen per Oktober 2021. Semuanya naik, naik, naik, naik. Volume transaksi e-money dibandingkan tahun yang lalu per Oktober juga naik 31 persen," terang Jokowi.

    BACA JUGA: VIDEO: Review DJI Action 2, Cocok Nih Buat Liburan Outdoor!

    Apa yang ingin disampaikan oleh Jokowi dari fakta tersebut?

    "Potensi pasarnya ini besar, jangan yang ngambil nanti orang lain. Dan kita sekarang ini memiliki 2.319 start-up. Semakin hari semakin tambah, tambah, tambah terus. Kita memiliki satu decacorn. Kita memiliki tujuh unicorn, dan banyak sekali soonicorn yang nanti akan terus didorong agar naik menjadi unicorn dan decacorn," ucap dia.

    Mau tidak mau, kata Jokowi, kita semua harus siap atas kemajuan digital dunia. Dirinya ingat pada tahun 2016 bertemu dengan Mark Zuckerberg di Amerika.

    Jokowi Bertemu Mark Zuckerberg

    Dalam pidato, Jokowi juga menceritakan dirinya pernah bertemu dengan Mark Zuckerberg. Dia mengaku diajak main pingpong pakai oculus oleh pendiri Facebook itu.

    “Presiden Jokowi, ini nanti dalam 10-15 tahun lagi akan muncul seperti kita main pingpong ini," kenang Jokowi.

    Selanjutnya, Jokowi menjelaskan bahwa setiap orang nanti bisa beli lahan virtual, bisa bangun bisnis virtualnya sendiri, dan juga akan ada mal virtual, gim virtual, kantor virtual, wisata virtual.

    "Saya saat itu belum bisa membayangkan seperti apa sebetulnya. Tapi sekarang saya bisa ngerti betul bahwa kemajuan digital ini tidak bisa kita cegah lagi dan sudah masuk ke tadi yang saya sampaikan," tuturnya.

    Dia menyampaikan, perusahaan-perusahaan besar juga berlomba, perusahaan dunia, untuk membangun Metaverse. Facebook yang sudah berubah menjadi Meta, Epic Game, Roblox, Microsoft, semuanya masuk ke sana semuanya.

    Sehingga, kata Jokowi, perlu disiapkan strategi negara kita. Negara kita perlu menyiapkan sebuah strategi agar kita tidak tertinggal jauh oleh negara-negara lain.

    "Sehingga saya sampaikan kepada Menteri dan BUMN pada yang lain juga, waktu kita tidak banyak untuk bisa mengejar itu. Dan negara ini akan maju kalau kita bisa melompat dan waktunya hanya dua tahun. Bagaimana, yang paling sulit memang bagaimana menyiapkan talenta digital dalam jumlah yang besar, mendatangkan mentor-mentor yang memiliki kualifikasi yang baik," ujarnya.

     

     

    Cek informasi menarik lainnya di Google News

    Bantu kami agar dapat mengenal kalian lebih baik dengan mengisi survei di sini