icon-category Sport

Jonatan Christie dan Mengapa Ia Memilih Buka Baju di Final Asian Games

  • 03 Sep 2018 WIB
  • Bagikan :

    "Kalau bisa selesainya jam satu, ya."

    Itu adalah hari ketiga setelah Jonatan Christie berstatus sebagai peraih medali emas Asian Games 2018, usai dirinya jadi yang terbaik di sektor tunggal putra cabang olahraga (cabor) bulu tangkis nomor perorangan. 

    Tapi, pukul setengah satu pada Jumat (31/9/2018) siang itu, Jonatan sudah siap dengan seragam latihannya. Dia akan melaksanakan latihan kedua di hari itu yang akan berlangsung pukul setelah dua. Oleh karenanya, dia meminta pada kami, awak kumparanSPORT, agar melakukan sesi wawancara dalam tempo setengah jam saja.

    Usai meraih medali emas, Jojo--begitu Jonatan biasa disapa--memang tak bisa bersantai-santai. Dia sudah harus kembali ke Pelatnas PBSI Cipayung untuk berlatih lagi dan menjalani rutinitas sebagai atlet. Selain itu, sosok kelahiran Jakarta tersebut juga disibukkan dengan agenda wawancara, meladeni berbagai media yang datang menghampiri.

     

     

    Lantas, selama 30 menit di lapangan Pelatnas PBSI itu, kami berbincang banyak hal. Jojo bercerita perihal betapa membanggakannya mendapat emas Asian Games, tentang selebrasi buka bajunya, hingga soal Taufik Hidayat. Dalam perbincangan itu pula, Jojo menunjukkan bahwa dia adalah salah satu atlet yang punya retorika bagus.

    Bersama kami, Jojo menceritakan banyak hal. Berikut petikan wawancaranya:

    Kesannya setelah jadi juara Asian Games?

    Pastinya, ya, cukup senang, cukup bangga juga. Ini salah satu berkat dari Tuhan, yang saya bilang sangat besar. Karena bisa dibilang Asian Games ini banyak pemain top dunia yang datang dan juga bisa dibilang saya underdog di turnamen ini. Makanya, saya bilang ini berkat Tuhan banget, karena memang enggak pernah terpikirkan sebelumnya bisa meraih medali emas.

    Apa kebangkitannya dari kekalahan lawan Chen Long di nomor beregu?

    Sebenarnya, bukan karena itu, ya. Ya, kami pasti belajarlah dari kekalahan. [Itu] mungkin bisa dibilang salah satunya, betul.

    Faktor apa yang akhirnya membuat Jojo percaya bisa jadi juara?

    Saya percaya kalau Tuhan sudah buka jalan, pasti enggak akan ada yang menutupnya. Itu saya yakin. Dan, sisanya saya hanya berjuang di setiap pertandingan. Siapa pun lawan saya, satu demi satu saya fokus untuk melewati step by step.

     

     

    Apa ada ritual khusus yang biasa dilakukan sebelum pertandingan?

    Kalau ritual khusus, paling saya berdoa. Kalau saya pribadi, ya, itu udah sebagai kewajiban untuk orang yang percaya, selalu meminta pertolongan dan bantuan Tuhan.

    Tentang selebrasi buka baju di final dan semifinal, apakah itu spontan? Atau sengaja?

    Sebenarnya itu benar-benar spontan. Jadi, saya pribadi nggak ada rencana untuk 'Oh, gue selebrasi harus buka baju' atau apa, enggak. Jadi, benar-benar itu secara spontan aja. Apalagi di semifinal itu 'kan cukup ketat, jadi, ya, emosional aja. Mengekspresikan rasa kemenangan itu dengan, ya, buka baju itu.

    Sebegitu pengaruhkah penonton-penonton yang ada di Istora [GBK] kepada performa Jojo selama Asian Games?

    Pastinya sangat-sangat berpengaruh. Terlebih lagi kan sebelum Asian Games berlangsung, mungkin kurang terlalu banyak [penonton], ya memang sudah banyak, tapi tidak sebanyak Asian Games ini. Nah, karena Asian Games ini juga jadi daya tarik masyarakat Indonesia banyak menyaksikan pertandingan, terlebih lagi di cabor bulu tangkis.

     

     

    Selain itu, apa kunci bisa mengalahkan Shi Yuqi dan Kenta Nishimoto di Asian Games, mengingat mereka adalah tunggal putra unggulan dunia?

    Itu memang kami kalau bertanding, terlebih saya melawan Kenta dan Shi Yuqi, selalu menang-kalah. Jadi, faktor siapa yang lebih siap di saat itu yang memang bisa membedakan hasil menang dan kalah. Mungkin, memang luck-nya saya lagi pas kemarin itu, jadi, ya saya bisa melaju hingga partai final kemarin.

    Dalam beberapa tahun terakhir, Jojo sering dielu-elukan sebagai penerus Taufik Hidayat. Ada beban enggak?

    Sebenarnya, masyarakat Indonesia seperti ini, ya. Jadi, saat kita di atas dinaikkan. Tapi, saya enggak jadi masalah tentang komentar itu. Saya juga bersyukur, mungkin mereka mengapresiasi apa yang sudah saya raih. 

    Tapi, itu enggak menjadi beban buat saya, justru lebih jadi motivasi. Dan, tujuan utama kami, tujuan saya dan tim tunggal putra, sebenarnya mau mengangkat nama tim tunggal putra Indonesia kembali lagi seperti zaman dulu.

     

     

    Untuk idola, Taufik Hidayat masuk sebagai idola Jojo?

    Untuk pemain Indonesia, Taufik Hidayat adalah salah satu idola saya.

    Selain itu?

    Di luar [negeri], mungkin ada Lin Dan.

     

     

    Sempat ketemu juga sama Lin Dan di Selandia Baru Terbuka [2018]?

    Iya, terakhir kalah. Head-to-head kami 4-2, keunggulan Lin Dan. Tapi, ya, yang saya senang. Dia idola saya dan dia sekarang bisa jadi rival saya.

    Setelah dapat medali emas Asian Games, dan Anthony [Ginting] sampai semifinal, apa harapan untuk Tunggal Putra Indonesia?

    Pasti harapannya bukan hanya saya dan Anthony, karena kami di tim banyak juga. Ada hampir tujuh sampai delapan pemain yang usianya kurang lebih sama dengan saya. Saya harap mereka secepatnya berprestasi juga. Dan kami sama-sama kembali menaikan nama tunggal putra Indonesia.

    Selepas Asian Games, Anda semakin banyak fans-nya. Sampai ada aksi #JojoChallenge di media sosial. Gimana tanggapannya?

    Ya, mungkin orang Indonesia, ya, apa yang viral dijadikan challenge. Ya, saya, sih, enggak masalah dengan hal itu. Kalau selama itu enggak digunakan yang negatif, sih, saya oke-oke aja. 

    Ada niat untuk bikin fanbase?

    Saya sudah ada, mereka buat sendiri.

     

     

    Seberapa besar pengaruh mereka untuk perkembangan karier Jojo?

    Pastinya besar banget. Dan dampaknya sungguh luar biasa. Apalagi, jangan lihat Jonatan saat ini, tapi gimana Jonatan dulu yang naik-turun. Di saat di bawah itu, peran mereka cukup besar, yang memotivasi saya. Dan di saat banyak orang yang enggak percaya sama saya, banyak orang yang mem-bully saya, fan-fan saya itu tetap setia, tetap mendukung, dan tetap semangatin saya.

    Apa yang bikin bisa bangkit dari tekanan-tekanan itu?

    Ya, mungkin dari komentar-komentar mereka yang selalu positif. Pelatih saya selalu kasih masukan, orang tua juga kasih masukan untuk saya. Itu salah satu yang membuat saya lebih mau membuktikan diri lagi kalau saya masih bisa.

    Kalau hobinya Jojo di luar bulu tangkis, apa?

    Di luar bulu tangkis, saya suka bermain video gim, saya suka berenang, dengerin musik, saya juga suka jalan-jalan, traveling.

     

    Bantu kami agar dapat mengenal kalian lebih baik dengan mengisi survei di sini