
Foto ilustrasi: dok. Business Standard
Uzone.id – Selama ini, kalau bicara Selat Hormuz, yang langsung terbayang biasanya minyak. Wajar, karena jalur sempit di Timur Tengah itu memang jadi salah satu “urat nadi” distribusi energi global. Tapi di balik kapal tanker dan isu geopolitik, ada ancaman lain yang jauh lebih senyap, dan mungkin dampaknya lebih luas: kabel internet bawah laut.
Di era sekarang, internet bukan lagi sekadar soal browsing atau media sosial. Ia sudah jadi fondasi dari hampir semua aktivitas, mulai dari transaksi keuangan, logistik global, sampai komunikasi antarnegara.Dan menariknya, lebih dari 95 persen trafik internet dunia justru tidak lewat satelit, melainkan melalui kabel serat optik yang membentang di dasar laut.
Nah, Selat Hormuz adalah salah satu titik krusial dari jaringan ini.
Jalur sempit, beban berat
Di kawasan sekitar Hormuz, ada beberapa sistem kabel besar yang menopang konektivitas global. Sebut saja FALCON, Europe India Gateway (EIG), hingga Gulf Bridge International (GBI).
Kabel-kabel ini menghubungkan Timur Tengah dengan Eropa dan Asia Selatan, jalur yang juga dilalui sebagian trafik data dari Asia, termasuk Indonesia.
Dari situs Badan Nasional Pengelola Perbatasan Republik Indonesia (BNPP RI), Kelompok Ahli BNPP Hamidin mencatat, lokasi kabel-kabel ini berada di perairan yang relatif dangkal, sekitar 50–100 meter. Sebagai perbandingan, kabel trans-Atlantik bisa berada di kedalaman ribuan meter. Artinya, risiko gangguan di Hormuz jauh lebih tinggi.
Gangguan ini bisa datang dari hal “sepele” seperti jangkar kapal yang terseret atau aktivitas penangkapan ikan. Tapi dalam konteks konflik, seperti ketegangan antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel, risikonya naik level.
Kabel bawah laut kini mulai dilihat sebagai target strategis.
Perang modern: putuskan koneksi, lumpuhkan lawan
Di era perang modern, menghancurkan infrastruktur tidak selalu berarti mengebom kota atau pangkalan militer. Memutus komunikasi digital bisa jadi jauh lebih efektif.
Tanpa koneksi yang stabil:
Inilah yang sering disebut sebagai bagian dari “perang hibrida”, di mana serangan tidak selalu terlihat, tapi efeknya terasa luas.
Kalau kabel di Selat Hormuz benar-benar terputus dalam skala besar, dunia memang tidak langsung offline. Tapi yang terjadi adalah perlambatan masif. Internet tetap ada, tapi jadi lambat, tidak stabil, dan mahal.
Banyak yang mengira satelit bisa jadi backup utama kalau kabel laut bermasalah. Sayangnya, realitanya tidak sesederhana itu.
Kapasitas satelit saat ini hanya mampu menampung sebagian kecil dari total trafik global. Selain itu, latency-nya jauh lebih tinggi dibanding kabel fiber optik. Jadi, untuk kebutuhan real-time seperti transaksi finansial atau cloud computing, satelit belum bisa sepenuhnya menggantikan kabel laut.
Artinya, kalau kabel di Hormuz terganggu, dunia harus “muter jauh” lewat jalur lain, yang otomatis bikin koneksi lebih lambat.
Dampaknya ke Indonesia: tidak langsung, tapi nyata
Sekilas, konflik di Timur Tengah terasa jauh dari Indonesia. Tapi dalam ekosistem digital global, semua saling terhubung.
Sebagian jalur data Indonesia ke Eropa masih melewati rute Barat, yang terhubung ke kawasan Timur Tengah. Kalau jalur ini terganggu, trafik harus dialihkan ke rute alternatif, misalnya lewat Pasifik, yang jaraknya lebih panjang.
Berikut beberapa efek yang sangat mungkin terjadi:
Belum lagi dampak tidak langsung dari sisi energi. Kalau konflik di Hormuz mengganggu distribusi minyak, harga energi global bisa melonjak. Ini ujung-ujungnya berimbas ke biaya logistik dan operasional di dalam negeri.
Yang menarik, kabel bawah laut ini sering luput dari perhatian publik. Tidak seperti BTS atau menara telekomunikasi yang terlihat jelas, kabel ini tersembunyi di dasar laut—tapi justru jadi tulang punggung internet dunia.
Negara-negara maju bahkan sudah mulai menganggapnya sebagai bagian dari infrastruktur strategis. Mereka mengembangkan sistem pemantauan bawah laut, termasuk drone dan kendaraan tanpa awak, untuk menjaga kabel-kabel ini tetap aman.
Bagi Indonesia, ini jadi pengingat penting. Sebagai negara kepulauan dengan ribuan kilometer kabel laut, baik domestik maupun internasional, perlindungan terhadap infrastruktur ini tidak bisa dianggap remeh.
Dunia bisa “gelap”, tapi tidak seketika
Jadi, apakah dunia benar-benar bisa “gelap” kalau kabel di Selat Hormuz putus? Menurut BNPP, tidak langsung gelap total, tapi efeknya bisa sangat terasa. Internet akan tetap ada, tapi dalam kondisi “lambat, mahal, dan tidak stabil”.
Dan di dunia yang semakin bergantung pada konektivitas real-time, itu sudah cukup untuk menciptakan gangguan besar, baik di level individu, bisnis, maupun negara.
Di tengah konflik global yang terus bergerak, ancaman seperti ini mungkin tidak terdengar dramatis. Tidak ada ledakan besar, tidak ada visual yang viral. Tapi dampaknya bisa merambat ke mana-mana, diam-diam.
Karena di era digital, memutus kabel bukan sekadar soal jaringan. Itu soal memutus denyut komunikasi dunia.