Digilife

Kaleidoskop 2020: 4 Teknologi Tercipta untuk Perangi Covid-19

  • 11 December 2020
  • Bagikan :

    Autonomous UVC Mobile Robot (AUMR) (Foto: Telkom University)

    Uzone.id - Pandemi virus corona baru (Covid-19) yang ikut menghantam segala sendi kehidupan masyarakat Indonesia, paling terasa adalah terjadi merosotnya sektor kesehatan dan ekonomi hingga mencapai titik nadir

    Namun, di sisi lain, pandemi justru tercipta teknologi hasil kolaborasi antar lembaga yang bergerak di bidang penelitian untuk memerangi Covid-19. 

    Berikut ini 4 teknologi yang hadir di Indonesia untuk digunakan dalam menangani Covid-19:

    1. Non-PCR diagnostic test/ Rapid Detection Test (RDT) Covid-19

    Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) bersama Konsorsium Riset dan Inovasi Covid-19, yang terdiri dari UGM, Unair, Hepatika Mataram, Universitas Mataram, ITB, Unpad dan sejumlah pelaku industri ikut mengembangkan RDT Kit.

    RDT Kit ini terdiri dari dua perangkat: RDT Kit untuk deteksi antibodi IgG/IgM, dan RDT Kit untuk deteksi antigen micro-chip.

    BACA JUGA: Segini Harga Planet Bumi Kalau Dijual

    RDT antibodi IgG/IgM bisa mendeteksi dengan cepat keberadaan virus Covid-19 dalam waktu cuma 5-10 menit dengan meneteskan darah atau serum pada alat RDT Kit IgG/IgM.

    RDT Kit didesain pakai platform teknologi imunokromatografi yang berbasis virus lokal Indonesia, sehingga diharapkan lebih sensitif dan lebih spesifik untuk orang Indonesia dibandingkan produk impor.

    Produk IgG/IgM yang dikembangkan hasil kerja sama BPPT, UGM, ITB, Unair, PT Hepatika /UNRAM.

    RDT ini mempunyai manfaat untuk deteksi antibodi IgM dan IgG orang terpapar Covid19 baik digunakan untuk OTG, ODP, PDP, Post Infeksi dan gambaran Herd Immunity.

    Alat ini mempunyai keunggulan praktis diaplikasikan, spesifik, tanpa alat, di mana saja, cepat paling lama 15 menit.

    2. Emergency Ventilator

    Kolaborasi antara BPPT, PT LEN, dan PT Polijaya menghasilkan Emergency Ventilator untuk membantu pasien Covid-19 yang alami gangguan pernapasan.

    Ventilator portabel ini pakai ambu bag, yakni alat untuk memompa oksigen. Cara kerja ambu bag dengan dipompa oleh alat mekanisme pakai motor listrik yang dikendalikan otomatis.

     

    3. Aplikasi Covid Track

    Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) membuat Aplikasi Mobile Covid Track untuk melindungi tenaga medis, dari potensi terkena paparan virus korona.

    Aplikasi berbasis android ini punya fitur melacak serta menganalisis pergerakan pasien ODP maupun PDP, dan mendata penyebaran dan ketersediaan Alat Pelindung Diri (APD).

    Aplikasi Covid Track akan melindungi tenaga medis, utamanya dokter praktek mandiri, ketika dokter tersebut hendak melakukan anamnesa terhadap seorang pasien yang berkunjung.

    Melalui aplikasi ini, ketika seorang dokter hendak melakukan anamnesa dan mulai mendata pasien yang berkunjung, maka berdasarkan NIK yang dimasukkan, maka dokter akan tahu apakah pasien tersebut sudah pernah terdata sebelumnya.

    Bila data menunjukkan bahwa pasien berstatus PDP atau bahkan konfirm positif, maka aplikasi akan mengirimkan notifikasi ke dokter, untuk mengambil tindakan preventif.

     

     

    4. Autonomous UVC Mobile Robot

    Autonomous UVC Mobile Robot (AUMR) merupakan sebuah alat Automatic Robotic hasil pengembangan Telkom University dan Balai Pengembangan Instrumentasi LIPI.

    Alat ini bisa mendeteksi dan mensterilkan Covid-19 di dalam ruangan dan bisa dipakai untuk merawat pasien yang terpapar virus sehingga ruangan bisa selalu steril untuk digunakan secara berkala dalam merawat pasien Covid-19.

    AUMR dipakai untuk desinfeksi dan sterilisasi pada ruang isolasi pasien terinfeksi dengan tanpa campur tangan manusia secara langsung, sehingga dapat meminimalisir penularan Covid-19 ke tenaga medis.

    Autonomous UVC Mobile Robot (Ultraviolet Type C) merupakan robot AUMR yang pertama yang digunakan di Indonesia. Alat serupa juga dipakai di beberapa negara, salah satunya Denmark.

    AUMR bisa dioperasikan hingga lima jam. Untuk sistem kerja UVC-nya bisa berlangsung sekitar satu jam.

    AUMR bisa digunakan dengan beberapa mode, seperti pakai remote control, dan autonomous control mode dengan melakukan line tracking atau laser range navigation.

    Robot ini juga dilengkapi sensor ultrasonic untuk menghindari menabrak benda di sekitarnya.

    AUMR bekerja dengan sinar UV dalam kisaran 200 nm dan 280 nm, yang bisa menyerap organisme biologi seperti DNA, RNA dan protein.

    Penyerapan tersebut akan menyebabkan pecahnya dinding sel protein dan tentunya kematian organisme tersebut.

    Penyerapan sinar UVC oleh DNA dan RNA khususnya basa timin diketahui menyebabkan inaktivasi untai ganda DNA atau RNA melalui pembentukan dimer timin. Jika dimer ini cukup diproduksi dalam DNA akibatnya proses replikasi DNA akan terganggu dan tentunya sel tidak dapat mereplikasi.

     

    VIDEO Samsung Galaxy A21s Review, Gak Sampe Rp3 Jutaan