icon-category Travel

Kehangatan Teh 'Badui' di Thaif

  • 24 Sep 2017 WIB
Bagikan :

Sebagai negara padang pasir, Arab Saudi dikenal gersang dan panas. Namun siapa sangka di jazirah ini terdapat sebuah kawasan yang dingin, laiknya Puncak (Bogor), Jawa Barat.

Kawasan itu bernama Thaif, sebuah kota bersejarah. Daerah pegunungan yang jadi rujukan destinasi wisata ini begitu populer di kalangan peziarah atau jemaah haji (umrah).

Thaif memang menyimpang kisahnya sendiri, kisah beratnya perjuangan Nabi Muhammad SAW kala hijrah dari Kota Makkah.

Setelah merasakan berbagai siksa dan derita yang dilancarkan kaum Quraisy pada waktu itu, Rasulullah pun hijrah ke Thaif. Beliau ditemani Zaid bin Haritsah. Kedatangan Nabi ke Thaif dalam rangka mencari perlindungan dan dukungan dari Bani Tsaqif, serta mengharap agar mereka dapat menerima risalah kenabian.

DR Muhammad Sa’id Ramadhan al-Buthy dalam Sirah Nabawiyah-nya, menuturkan, setibanya di Thaif, Rasulullah menuju ke tempat para pemuka Bani Tsaqif, mendakwahkan Islam dan mengajak mereka agar beriman kepada Allah.

“Akan tetapi ajakan beliau itu ditolak mentah-mentah dan dijawab dengan kasar. Rasulullah SAW kemudian bangkit meninggalkan mereka seraya berharap agar mereka menyembunyikan berita kedatangan ini dari kaum Quraisy. Tetapi mereka pun menolaknya,” tutur al-Buthy.

Mereka lalu mengerahkan para penjahat dan budak untuk mencerca dan melempari Rasulullah dengan dengan batu sehingga terluka. Zaid bin Haritsah yang berusaha melindungi beliau kewalahan. Kepala Zaid juga terluka dan bercucuran darah.

Rasulullah SAW dan Zaid kemudian beranjak pergi dan sampai di kebun milik Uqbah bin Rabi’ah. Para penjahat dan budak yang mengejar pun berhenti dan kembali. Kejadian ini diperhatikan oleh dua anak Rabi’ah yang sedang berada di kebun.

Al-Buthy melanjutkan, setelah merasa tenang di bawah naungan pohon anggur, Rasulullah berdoa, “Ya Allah, kepada-Mu aku mengadukan kelemahanku, kurangnya kesanggupanku, dan ketidakberdayaanku berhadapan dengan manusia. Wahai Dzat yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang, Engkaulah pelindung bagi si lemah dan Engkau jualah Pelindungku. Kepada siapakah diriku hendak Engkau serahkan?”

Mendengar doa Rasulullah itu, timbullah perasaan iba di hati dua orang anak lelaki Rabi’ah si pemilik kebun. Mereka memanggil pelayannya, seorang Nasrani bernama Addas, kemudian diperintahkan, “Ambillah buah anggur dan berikan kepada orang itu!”

Ketika Addas meletakkan anggur itu di hadapan Rasulullah dan berkata, “Makanlah.” Nabi SAW mengulurkan tangannya seraya mengucapkan, “Bismillah” kemudian memakannya.

Mendengar ucapan beliau, Addas berkata, “Demi Allah, kata-kata itu tidak pernah diucapkan oleh penduduk daerah ini.”

Rasulullah bertanya, “Kamu dari daerah mana dan apa agamamu?”

“Saya seorang Nasrani dari daerah Ninawa (kini Maushil),” jawab Addas.

“Apakah kamu dari negeri seorang shalih bernama Yunus anak Mathius? Yunus bin Mathius adalah saudaraku. Ia seorang Nabi dan aku pun seorang Nabi,” terang Muhammad SAW.

Seketika itu juga Addas berlutut di hadapan Rasulullah lalu mencium kepalanya, kedua tangannya, dan kedua kaki beliau.

Kisah indah di kebun kurma Rabi’ah ini begitu masyhur, segendang sepenarian dengan keberadaan Thaif yang turut mewarnai bermulanya peradaban Islam.

Secangkir teh ‘Badui’

Untuk menjejakkan kaki ke Thaif, baik melalui Jeddah atau Madinah, peziarah atau jemaah akan melalui Jalan Raya Hada. Sore itu, Tim Media Center Haji (MCH) Daker Airport berniat mengunjungi kota sejuk ini. Mereka adalah MCH Daker Airport Abdul Basyir, anggota Tim MCH Chairul Akhmad dan Sarmoko Saridi, serta Ketua Sektor 1 Daker Airport Koen Ismoyo.

Perjalanan dimulai dari Kota Jeddah. Rencana semula adalah berkunjung ke Mekkah untuk Tawaf Wada di Masjidil Haram. Mumpun masih ada kesempatan, tak ada salahnya mampir di Thaif terlebih dahulu. Jarak Jeddah ke Thaif sekitar 171 kilometer dengan perkiraan waktu tempuh 2 jam 10 menit. Sementara jarak Thaif ke Makkah sekitar 91 kilometer, ditempuh dalam waktu 1 jam 20 menit.

Mobil Hiace yang membawa empat penumpang itu berlari kencang usai berbelok ke kanan di sebuah pertigaan jalan raya yang menghubungkan Jeddah-Mekkah. Jalan menuju Thaif tampak sepi dan lengang. Tak banyak kendaraan yang lalu di jalan lebar nan mulus ini.

Yang nampak di kiri-kanan hanyalah gunung-gunung berbatu dan hamparan pasir. Sesekali memang terdapat perkampungan, juga bangunan dengan jarak yang cukup jauh antara satu tempat dengan tempat berikutnya.

Ketika melewati Jalan Raya Hada, mobil berjalan perlahan dan berhenti di sebuah pom bensin. Sopir tak mau kehabisan bahan bakar saat mobil mendaki bukit Thaif nanti. Pom bensin pinggir jalan ini bersanding sejumlah toko dan kios di kawasan Hada.

Sejurus kemudian, mobil kembali berlari kencang menembus jalanan yang mulai menanjak. Thaif, kota pegunungan nan sejuk itu tak begitu jauh lagi. Tak sampai setengah jam, tim diperkirakan tiba di sana. Ketika mobil mulai mendaki jalan perbukitan, nampak sejumlah kendaraan berjalan pelan di depan.

Dari kaca depan mobil, terlihat beberapa kendaraan berhenti dan membentuk antrean mengular tepat di sebuah tikungan. Hanya bergerak maju dalam jarak beberapa meter, mobil yang kami tumpangi benar-benar berhenti total.

Sementara di jalur sebelah, hanya tampak dua tiga mobil dari arah Thaif, menuruni perbukitan dengan kecepatan sedang. Mobil-mobil itu nampak basah, pertanda hujan tengah mengguyur Thaif. Di atas bukit terlihat gumpalan-gumpalan awan hitam nan tebal bergerak pelan ke arah tenggara.

Tak betah menunggu di mobil, tim MCH lantas turun dan menanyakan apa yang terjadi. Ternyata jalanan ini memang ditutup total untuk sementara waktu karena hujan deras yang terjadi di puncak bukit. “Demi keselamatan, terpaksa jalanan ditutup. Kita tak bisa ke Thaif saat ini. Menunggu hingga keadaan aman,” demikian keterangan salah seorang pengendara.

Menurut warga Thaif itu, jalanan ke kotanya memang kerap ditutup jika terjadi hujan deras seperti saat ini. “Kita terpaksa berhenti di sini untuk sementara waktu,” sambungnya.

Ketimbang menunggu terlalu lama hingga jalan dibuka kembali, Tim MCH terpaksa putar haluan, langsung berangkat menuju Mekkah. Tiba di kawasan pertokoan Hada, mobil berhenti, memberi kesempatan pada penumpang untuk shalat Ashar di sebuah masjid mungil.

Di pinggiran pertokoan Hada, jauh di ujung, terdapat sebuah warung teh ‘Badui’. Basyir yang pernah mampir di warung itu mengajak kami mencoba kehangatan teh mint ala Badui. Kami pun mampir di warung Harits, seorang pria Badui warga setempat.

Warga Saudi yang tinggal di Al-Kur, tak jauh dari kawasan Hada itu tiap hari berjualan teh di pinggiran jalan raya. Harits buka lapak sejak pukul 16.00 hingga 24.00 WAS. Segelas teh dibanderol murah, hanya 2 riyal Arab Saudi.

Warung teh Harits ramai dikunjungi pembeli. Mereka merasa puas menikmati sensasi teh yang diracik si pria Badui. Tak terkecuali Koen Ismoyo, sang Kepala Sektor 1 Daker Airport. “Rasanya memang beda. Wilayah Thaif kan dikenal dingin, minum teh ini cukup menghangatkan tubuh. Apalagi ditemani sebungkus biskuit Arab," ia memuji.

Menikmati secangkir teh 'Badui' atau teh mint ini di sore atau malam hari memang nikmat.  Jika Anda berkesempatan berkunjung ke Thaif melalui Jalan Raya Hada, terutama menjelang sore atau malam hari, jangan lupa mampir di warung Harits.

Nikmatilah racikan teh pria Badui ini dengan sebungkus biskuit Ulger buatan Turki. Sebuah kombinasi sempurna ngeteh sore sembari menatap Bukit Thaif di kejauhan.

Puas menikmati teh mint ala Badui di Hada, kami pun melanjutkan perjalanan menuju Kota Suci Makkah.*

 

Cek informasi menarik lainnya di Google News

Bantu kami agar dapat mengenal kalian lebih baik dengan mengisi survei di sini