
-
Sukarno adalah penikmat setia film bioskop, khususnya film Amerika. Kepada Cindy Adams dalam Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat (2007: 67), ia mengisahkan bahwa sejak indekos di rumah Tjokroaminoto pada awal 1920-an, dirinya sudah menggemari aktor-aktor Amerika.
Hal itu ditunjukkan oleh keinginan si Bung untuk meniru kumis tipis melengkung ala Norman Kerry. Di lain waktu, ia mengajari anak-anak menggambar karikatur dengan memulas kapur putih pada sebuah tembok membentuk wajah bintang film kesayangannya, Francis Ford.
Sejak diasingkan ke Ende, Flores pada 1930-an, Sukarno tidak lagi sekadar menjadi penggandrung film, tetapi juga sandiwara. Di sana, untuk pertama kalinya Sukarno mendirikan grup sandiwara bernama Kelimutu. Ketika dipindahkan ke Bengkulu, Sukarno kembali mendirikan kelompok serupa bernama Monte Carlo.
Alih-alih menjadi bintang panggung, Sukarno lebih menikmati perannya sebagai penulis naskah, sutradara, produser, sekaligus manajer grup-grup tersebut. Seperti dipaparkan Rhien Soemohadiwidjojo dalam Bung Karno Sang Singa Podium (2013: 36), kelompok asuhan Sukarno biasanya manggung di gedung bioskop setempat dengan mementaskan naskah-naskah sandiwara yang terinspirasi dari film-film Amerika.
Setelah menjabat presiden pada 1945, Sukarno tidak meninggalkan hobi lawasnya itu. Dalam autobiografinya, Sukarno pun mengakui dalam seminggu ia bisa nonton film sampai tiga kali di sebuah “bioskop kecil” di dalam Istana Negara. Sebagian besar film yang ditonton Sukarno adalah film Amerika yang disediakan khusus oleh American Motion Pictures Association of Indonesia (AMPAI).
“Bill Palmer, kepala AMPAI adalah kawan dekat Sukarno dan saya. Sukarno sangat menyukai film dan Bill akan mengatur jadwal setidaknya sekali dalam seminggu untuk memutar dua buah film di istana,” tulis Benjamin Higgins, ahli ekonomi asal Kanada yang pernah bertugas di Indonesia, dalam All the Difference: A Development Economist's Quest (1992: 54-55).
Beberapa hari sebelum tenggelam dalam gemerlap pesta Hollywood yang bertabur bintang, Sukarno sudah menggelar pertemuan diplomatik dengan Presiden Eishenhower. Akan tetapi, berdasarkan catatan Tony Day dalam makalah “Honoured Guest: Indonesian-American Cultural Traffic, 1953-1957”, pertemuan itu sangat mengecewakan.
Perbincangan Sukarno dengan Eisenhower di Gedung Putih pada akhirnya tidak jauh-jauh dari obrolan film dan para bintang lantaran keduanya tidak memiliki persamaan pandangan dalam hubungan kenegaraan. Sebelumnya, Sukarno malah sempat dibiarkan menunggu Eisenhower yang seolah-olah sengaja menyembunyikan diri.
Menurut Day, kebijakan luar negeri Eisenhower terhadap Indonesia memang banyak dieksekusi melalui jalur penetrasi film Amerika. Sejak akhir 1954, para pembuat kebijakan AS dalam pemerintahan Eisenhower telah sependapat tentang niat mereka untuk menyebar propaganda ke Indonesia lewat film agar negara yang belum genap berusia 10 tahun itu tidak jatuh ke tangan komunis.
Amerika dalam manuver Hollywoodnya, lanjut Day, berusaha mengatur penyebaran informasi tentang cara hidup orang Amerika ke seluruh Indonesia. Hal ini ditunjukkan melalui penemuan dokumen Dewan Keamanan Nasional tertanda Juni 1954 yang melaporkan bahwa United States Information Agency (USIA) berusaha mengambil keuntungan dari popularitas dan kecintaan Sukarno kepada Hollywood.
Summers dalam biografi Marilyn Monroe seolah-olah berhasil melengkapi catatan Day dengan menunjukkan adanya upaya CIA memanfaatkan sex symbol Hollywood untuk menaklukkan Sukarno. Summers mengutip pengakuan mantan anggota CIA bernama Joseph Smith yang pernah bertugas di Asia.
“Ada sebuah percobaan untuk mendekatkan Sukarno dengan Monroe. Pada pertengahan 1958, saya mendengar rencana untuk membuat mereka tidur bersama. Saya ingat seseorang dari Washington datang dan membicarakan rencana gila tentang Marilyn Monroe yang akhirnya tidak terlaksana,” kata Smith kepada Summers.
Baca juga artikel terkait SEJARAH INDONESIA atau tulisan menarik lainnya Indira Ardanareswari