icon-category Auto

Kenapa Yamaha Masih Belum Bernyali Jualan Motor Listrik? Ini Jawabannya

  • 20 Jan 2023 WIB
Bagikan :
Foto: Yamaha

Uzone.id - Maraknya motor-motor listrik yang terus diperkenalkan dan diluncurkan sejumlah merek, gak membuat Yamaha ikut tergiur untuk segera menghadirkan motor listrik pertamanya untuk Indonesia.

Padahal, Yamaha sejak tahun lalu sudah rajin memamerkan E01. Tapi sampai sekarang motor listrik tersebut hanya sebatas dipinjamkan ke beberapa pihak untuk pengujian dan riset.

Bahkan Yamaha dengan tegas mengatakan kalau tahun ini belum akan meluncurkan motor listriknya secara resmi karena sejumlah pertimbangan, seperti dikatakan President Director dan CEO Yamaha Indonesia Motor Manufacturing (YIMM), Dyonisius Beti.

BACA JUGA: Perdana di Dunia, Inilah Dia Toyota Kijang Innova Zenix

"Apakah future jadi EV atau tidak. Pasti Yamaha sudah memikirkan EV roadmap, karena di Indonesia sudah ada roadmap, dan supporting dari pemerintah luar biasa," ujarnya.

Dyon sendiri menganggap kalau Yamaha E01 adalah penerus Yamaha NMax di masa depan. Saat ini Yamaha E01 saat ini masih dalam tahap Proof of Concept (PoC).

Pengujian skuter listrik E01 saat ini dilakukan di 6 negara berbeda. Hal ini dilakukan agar dapat mengetahui berbagai masukan, mengingat setiap wilayah pengujian memiliki karakteristik berbeda-beda, baik dari segi kondisi cuaca, jalan, termasuk juga kebiasaan pengendaranya.

Yamaha Indonesia telah melakukan tes pasar skuter listrik E01 sejak akhir tahun 2022 lalu. Pada bulan November, Yamaha Flagship Shop telah memulai kegiatan market test untuk Yamaha E01.

Yamaha menyediakan 3 unit yang dapat digunakan oleh masyarakat untuk test ride di jalan raya. Pada tahap awal market test ini akan berlangsung di 4 kota besar di Indonesia, meliputi Jakarta, Bandung, Bali, dan Medan dengan total target peserta sebanyak 4.000 orang.

BACA JUGA: Yamaha Luncurkan Grand Filano, Suzuki Avenis Menangis

Namun menurut Dyon, Yamaha gak mau terburu-buru dalam memasarkan motor listriknya di Indonesia. Terutama karena memikirkan ketersediaan baterai dan infrastruktur pengecasan.

“Yang kita lihat itu adalah ketersediaan baterai saat ini dan charging, kalau mendadak ribuan atau puluhan ribu. Satu bulan di Jakarta itu demand-nya bisa 30-40 ribu motor. Kalau itu terjadi, charging itu ada di mana gitu lho, kalau charging tidak tersedia," kata dia.

 

Cek informasi menarik lainnya di Google News

Bantu kami agar dapat mengenal kalian lebih baik dengan mengisi survei di sini