
Penyebaran Kekristenan di tanah Jawa memang unik. Dengan seabrek kebudayaan dan kepercayaan lokal berbalut mistisisme pra-Islam, menuntut para penginjil untuk mampu memahami kondisi sosial budaya masyarakat Jawa tersebut.
Pun begitu, pihak Belanda memang tak begitu berminat mengkristenkan tanah Jawa. Intensitas ajeg Belanda dalam mengirim para penginjil baru terlihat sejak 1848, ketika tiga misionaris masuk ke Jawa. Dari tiga orang tersebut, hanya Jellesma yang tampaknya benar-benar menjalankan tugas keagamaan di sebuah desa Kristen Mojowarno yang sudah eksis sebelumnya.
Tetapi toh peran Jellesma justru sebagai pemertebal iman orang-orang Kristen Mojowarno dibanding berdakwah mendapatkan pemeluk Kristus yang baru. Begitu pula dengan para penginjil dari Barat selanjutnya, peran mereka banyak melayani jemaat Kristen dari kalangan Eropa maupun bumiputera yang sudah ada sebelumnya.
Kedatangan para misionaris meningkat antara 1860-1870. Bersamaan dengan itu, muncul pula tokoh-tokoh Kristen dari kalangan bumiputera yang mendapuk pemuka agama Kristen.
Baca juga: Abang Tokoh Islam, Adik Pendeta Kristen
Rata-rata adalah para tokoh masyarakat dengan wawasan ngelmu yang mumpuni. Pengajarannya soal Kekristenan bercampur dengan narasi mistisisme Jawa. Para penginjil dari Barat mengkritik mereka, bahkan tak jarang melabeli para tokoh Kristen Jawa ini sebagai orang yang dangkal ilmunya.
Tetapi dari merekalah justru agama Kristen mendapat di tengah-tengah masyarakat Jawa yang beragam. Para pendakwah Kristen Jawa jelas boleh balik menyerang bahwa para penginjil Barat ini tak paham apa-apa soal mistisisme Jawa dan segenap struktur sosial budaya masyarakat Jawa.
Dari sederet tokoh pendakwah Kristen Jawa yang menonjol, salah satunya adalah kemunculan seorang dari Jepara bernama Ngabdullah, yang belakangan setelah menjadi pendakwah Kristen Jawa memiliki nama Ibrahim Tunggul Wulung.
Versi lain datang dari Jellesma, misionaris pertama yang datang ke Jawa pada 1848 dan melayani orang-orang Kristen Jawa di Mojowarno. Betapapun rekan misionaris lainnya menilai Tunggul Wulung dengan kacamata Kristen ala Barat, Jellesma justru paham tentang kekhasan Kristen Jawa—bisa melihat Tunggul Wulung dengan cara berbeda.
Lagipula, Jellesma sudah punya kesan baik akan Tunggul Wulung sejak ia mengaku mendapat wahyu berupa Sepuluh Perintah di bawah tikar tidurnya. Apalagi Tunggul Wulung telah menemui Jellesma, Coolen, dan Penginjil Barat bernama Emde.
Sejak itu, Tunggul Wulung berkelana ke berbagai tempat sambil mengajarkan Injil.
Laporan Komite Jawa (Java Comite) mencatat soal semangat Tunggul Wulung ini. “Walaupun usianya sudah 60 tahun, dengan semangat dan ketekunan yang meluap-luap demi bangsanya, ia berjalan kaki dari kota ke kota, dari desa ke desa, untuk mengabarkan Injil, tanpa menerima bantuan keuangan sedikitpun dari siapapun.”
Jellesma pun membaptis Tunggul Wulung bersama istrinya, Endang Sang Purnawati pada 6 Juli 1857 dengan nama baptis Ibrahim. Jadilah nama lengkapnya menjadi Ibrahim Tunggul Wulung. Selama dua puluh tahun berikutnya, Ibrahim Tunggul Wulung berkelana ke banyak tempat di Pulau Jawa mengajarkan agama Kristen.
Meski Tunggul Wulung senang bertemu dengan para misionaris Belanda, namun ia tak setuju dengan sistem perwalian zending yang menempatkan penginjil bumiputera di bawah asuhan penginjil Barat.
Baca juga: Minoritas Kristen dalam Kancah Pergerakan Nasional
Setelah dibaptis Jellesma, Tunggul Wulung memilih mendirikan komunitas jemaat Kristen yang mandiri dari Belanda. “Kristen Jowo”, demikian komunitas itu dikenal, akhirnya bersaing dengan kaum “Kristen Londo”. “Tidaklah baik bagi orang-orang Jawa berkumpul di kediaman misionaris Belanda” kata Tunggul Wulung.
Tunggul Wulung membuka Hutan Bondo dan menamainya Desa Banyutowo, menyusul pendirian desa Kristen lainnya seperti Tegalombo. Sama seperti Coolen, peran Tunggul Wulung di desa-desa tersebut sebagai pendiri, kepala desa, sekaligus pengkhotbah tentang Ratu Adil Isa Rohallah.
Saat berada di Bondo, Tunggul Wulung ditemui oleh Radin Abas, seorang santri yang tengah keluar berkelana mencari ilmu dan jati diri. Belakangan Radin Abas masuk Kristen dengan nama Kiai Sadrach, yang kelak diingat sebagai figur intelektual Kristen Jawa dengan latar belakang pengetahuan agama dan kebudayaan Jawa.
Baca juga: Pribumisasi Kristen dan Warisan Kiai Sadrach
Misionaris Semarang F.L. Anthing suatu ketika menawari Tunggul Wulung untuk menyebarkan agama dari rumah ke rumah. Imbalannya, ia akan mendapat upah. Karena merasa segan mengingat ia sudah tinggal di rumah Anthing, akhirnya Ibrahim mengerjakan tugas tersebut selama lima bulan, berkelana di sekitar Batavia, Bogor, dan Tangerang. Setelah berhenti dari pekerjaan itu, Ibrahim melanjutkan perjalanannya sendiri ke Purbalingga, Banyumas, dan Purwokerto.
Ibrahim Tunggul Wulung meyakini ada kesamaan baik isi ajaran maupun tujuan antara Islam dan Kristen. Karena itu melarang para pengikutnya menghina Nabi Muhammad barang sedikitpun. Konsep Ratu Adil dan Messiah Jawa pada akhirnya mendominasi pengajarannya tentang agama Kristen.
Namun cibiran para penginjil Barat tak pernah berhenti. Bagi misionaris Barat seperti Hoezoo, Ibrahim “memiliki pengetahuan yang luas tentang Islam Kawa dan dia pergunakan ungkapan-ungkapan Arab, yang menurut dia sesuai dengan pengajaran Kristen, baik makna maupun tujuannya.”
Poensen, misionaris Barat yang melayani Kediri menyebut, “Dia memang sarat dengan ngelmu. Saya yakin bahwa yang diajarkan kepada murid-muridnya lebih banyak ngelmu yang berasal dari Hindu-Budha daripada Kristen.” Sementara misionaris Ganswijk menyebut pengetahuan Tunggul Wulung tentang Injil “sangat dangkal.”
Baca juga: 500 Tahun Setelah Martin Luther Mengkritik Gereja
Diketahui pula Tunggul Wulung punya keahlian lain. Sambil merapal jampi-jampi, ia bisa menyembuhkan orang sakit hanya dengan hembusan atau menggosok daerah yang sakit. Kata orang, ia kebal dan dapat mengusir roh jahat.
Sikap lainnya yang bikin jengkel orang-orang Belanda adalah keengganan Tunggul Wulung duduk bersila dan berlutut ketika ] berkomunikasi dengan para pejabat pemerintah termasuk misionaris. Ia memilih tetap berdiri dalam balutan busana Eropa. Sedangkan di hadapan para pengikutnya, ia menempatkan dirinya bak sosok pangeran Jawa yang memimpin jemaatnya dengan penuh percaya diri.
Bagaimanapun juga, adalah kerja-kerja Tunggul Wulung menyebar ajaran Kristus lewat jalan kebudayaan, ngelmu dan kearifan lokal yang justru membuat jemaat Kristen Jawa jauh lebih besar jumlahnya dibanding jemaat Kristen Londo yang dihimpun oleh para penginjil Barat.
Seiring usianya yang kian senja, sejak 1875 Ibrahim Tunggul Wulung tinggal di sekitar Gunung Muria sampai tutup usia pada 1885. Ketika ia wafat, jumlah pengikut Kristen di desa tersebut mencapai 1.058 orang. Pasca kematiannya, tak semua jemaat mengikuti warisan pemikiran Ibrahim Tunggul Wulun.
Jansz menyebut, beberapa dari mereka mulai membelot dengan mendekati orang-orang Belanda untuk belajar kekristenan di bawah naungan Gereja Mennonite.
Baca juga artikel terkait KRISTEN JAWA atau tulisan menarik lainnya Tony Firman