
Asap pekat berhawa panas membumbung tinggi bak jamur raksasa di Hiroshima dan Nagasaki, Jepang, pertanda bom atom telah dijatuhkan oleh Sekutu pada awal Agustus 1945. Tragedi perang itu adalah sinyal bahwa Perang Dunia ke-II yang telah menghancurkan hampir separuh dunia telah berakhir.
Namun, pernahkah Anda membayangkan Nazi Jerman menjatuhkan bom atom di Amerika Serikat dan menghancurkan Sekutu?
Skenario tak kesampaian itu sebetulnya nyaris jadi kenyataan, seandainya Joachim Ronneberg dan timnya tidak melakukan serangan rahasia ke sebuah pabrik di belantara Telemark, Norwegia.
BBC melaporkan, Gunnerside, misi yang dipimpin Ronneberg, punya satu tujuan: melumpuhkan sebuah pabrik hidroelektrik di Vermok, Telemark. Oleh Special Operations Executive—organisasi operasi khusus Inggris pada PD II—Ronneberg diperintahkan mengumpulkan enam orang pria untuk diterjunkan dalam misi tersebut.
Kala itu, Ronneberg tak tahu apa tujuan misi yang hendak dijalankannya itu. Satu hal yang pasti, ia dan timnya membawa kapsul sianida untuk menghabisi nyawa mereka sendiri seandainya tertangkap musuh.
Berdasarkan laporan badan intelijen Inggris, pabrik di Vermok dijaga ketat oleh pasukan Jerman karena memproduksi ‘air berat’ atau deuterium oxide yang dapat digunakan untuk memproduksi bom atom. Air tersebut berfungsi memperlambat neutron sehingga memudahkan reaksi fisi nuklir.
Ronneberg bersama timnya diterjunkan dari sebuah pesawat pada tengah malam 16 Oktober 1943. Hari itu, musim dingin masih menyelimuti Norwegia. “Semuanya masih tertutup oleh salju,” jelas Ronneberg, masih dilansir dari BBC.
Sialnya, mereka mendarat di tempat yang salah, puluhan kilometer dari tempat pendaratan yang direncanakan. Usaha untuk masuk ke dalam pabrik pun tidak mudah karena harus menuruni tebing yang curam serta melewati barak prajurit Jerman.
Ketika akhirnya berhasil meledakkan bom di pabrik Norsk Hydro tersebut, Ronneberg dan tim masih harus kabur menyelamatkan diri. Dengan bermodal alat ski, mereka menempuh jarak sekitar 322 kilometer sembari dikejar oleh satu divisi pasukan Jerman dan unit pencarian udara yang berputar-putar di langit. “Ski akhir pekan terbaik yang pernah kulakukan,” jelas Ronneberg, sembari tersenyum kecut.
Meski hanya menghasilkan ledakan kecil, operasi tersebut mampu membuat pabrik itu berhenti beroperasi selama beberapa bulan.
Ronneberg baru menyadari pentingnya misi yang ia jalankan setelah Amerika Serikat membom Hiroshima dan Nagasaki pada 6 dan 9 Agustus 1945. Sekitar 140.000 orang tewas dalam sekejap dihantam bom atom.
“Pertama kali saya mendengar tentang bom atom dan air berat setelah Amerika menjatuhkan bom di Hiroshima dan Nagasaki,” terang Ronneberg, seperti dikutip dari New York Times “Setelahnya, kami mulai memahami [makna] serangan kami.”
Ia melanjutkan, jika misi itu gagal, London mungkin akan bernasib sama seperti Hiroshima.
Berkat jasa-jasanya, Ronneberg menerima penghargaan tertinggi militer, War Cross with Sword, dari almarhum Raja Norwegia King Haakon VII; Distinguished Service Order dari Inggris; Legion of Honor dan Croix de Guerre dari Perancis; dan Medal of Freedom with Silver Palm dari AS, seperti dilaporkan New York Times.
Dari seluruh anggota timnya, Ronneberg adalah orang terakhir yang masih hidup—hingga akhirnya pada Senin (22/10), di usia 99 tahun, Ronneberg menjadi sejarah, menyusul rekan-rekannya.
Baca juga artikel terkait NUKLIR atau tulisan menarik lainnya Ign. L. Adhi Bhaskara