
-
Kamis sore, langit Pandeglang sedikit cerah, hembusan angin pun tak begitu kencang. Windi Cahya Untung memutuskan rehat sejenak dari tugasnya mengamati aktivitas Gunung Anak Krakatau.
Sambil bersantai, matanya tak lepas dari Anak Krakatau yang mengeluarkan abu.
Windi sudah 3 tahun bertugas di Pos Pemantauan Gunung Anak Krakatau di Pasauran, Serang. Ia bekerja sebagai pengamat gunung api yang memiliki tugas memantau, menganalisis, dan melaporkan kegiatan vulkanis.
Dia berbagi cerita tentang dirinya yang rela menyetor nyawa demi selamatkan puluhan ribu warga di tepi Selat Sunda.
Sialnya, saat itu Anak Krakatau dalam status Waspada atau Level II. Lontaran lava pijar bisa sewaktu-waktu menghantam Windi.
"Suara dentumannya cukup menyakitkan. Pas kita pasang alat, kita hanya berjarak kurang lebih 900 meter dari kawah. Padahal lontaran sudah mencapai 1 kilometer," tutur Windi.
Beruntungnya, Windi dan rekannya bisa menyelesaikan tugas dengan cepat dan selamat. Padahal mereka sudah ada di 'jarak tembak' Anak Krakatau.
|
Krakatau tertutup awan. (Foto: ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja)
|
Pria asal Bandung itu menjelaskan tugas sehari-hari pengamat gunung api adalah memantau aktivitas vulkanik. Biasanya dalam satu pos terdiri dari tiga hingga lima personel.
Mereka biasanya dibantu alat seperti seismograf, pengukur arah angin, dan citra satelit. Dalam kondisi normal, pengamat gunung api akan menganilis dan membuat laporan setiap 12 jam atau 24 jam.
Laporan Setiap 3 Jam
Namun dalam kondisi genting seperti di Anak Krakatau saat ini, analisis dan laporan dilakukan setiap 3 jam hingga 6 jam. Windi dkk bekerja hampir 24 jam untuk memantau Anak Krakatau yang masih muda.
"Mungkin orang kira kerjaan pengamat gunung api enak, kerjanya hanya bisa santai, nongkrongin alat, corat-coret. Di balik itu kita punya tanggung jawab besar, di sekitar gunung api itu ada puluhan ribu jiwa," Windi bercerita.
Ia berujar tim pengamat gunung api bekerja hampir 24 jam dalam tujuh hari. Biasanya dua orang bertugas di pagi hingga malam hari. Lalu satu orang akan jaga malam.
Windi bahkan harus meninggalkan istri dan tiga anak laki-lakinya di Bandung. Ia hanya bisa pulang ke Bandung dua hingga tiga minggu sekali. Itu pun hanya sekitar tiga hari libur.
"Ya jauh dari keluarga, kalau senggang bercocok tanam. Atau berenang di pinggir pantai kalau ombak normal," kata Windi sambil tertawa.
Dalam kondisi Anak Krakatau yang sedang siaga seperti ini, Windi semakin minim memiliki kesempatan bersua keluarga. Meski demikian, Windi rela mengorbankan waktu untuk keluarga demi menjaga sang Anak Krakatau.
"Kita harus harmoni dengan alam karena gunung api punya hak bererupsi," katanya.