
Selain lekat dengan tradisi halal bi halal, Hari Raya Idul Fitri juga lekat dengan menu wajib. Dua menu yang seolah tak dapat dipisahkan yakni, opor ayam dan ketupat kerap digunakan untuk menjamu tamu yang berkunjung.
Rupanya di balik hidangan wajib Lebaran ini ada cerita menarik yang melingkupinya. Sosiolog sekaligus dosen di Universitas Nasional (Unas), Sigit Rochadi opor ayam sudah ada sejak masa kerajaan, sebelum Islam masuk ke Nusantara.
Masakan ayam dengan kuah santan yang kemudian disebut opor ayam ini menjadi persembahan rakyat pada raja.
Sigit bercerita, perjalanan ke pelosok untuk syiar agama Islam begitu panjang. Alhasil diperlukan makanan yang awet seperti ketupat. Sementara, ketupat dalam bahasa Jawa 'kupat' yang berarti 'kula ndherek lepat', saya mengaku bersalah.
"Kemudian ketupat menjadi simbol makanan ketika semua orang mengaku bersalah dan saling memaafkan," pungkasnya.