icon-category Auto

Komparasi Beli Mobil Listrik vs Mobil Konvensional, Siapa Paling Untung?

  • 13 Sep 2022 WIB
  • Bagikan :
    Test drive Hyundai Ioniq 5 dengan rute Senayan Park Jakarta-Cikole Bandung PP. (Foto: Hyundai)

    Uzone.id - Masyarakat Indonesia sekarang lagi sangat antusias sama mobil listrik. Tengok saja Hyundai Ioniq 5 yang penjualannya laris manis hingga konsumen harus inden selama 8 bulan untuk menunggu pengiriman unit sampai di rumah.

    Padahal, harga Ioniq 5 paling murah Rp748 juta (tipe Prime Standard Range), dan paling mahal Rp859 juta (tipe Signature Long Range).

    Untuk sebagian masyarakat yang kantongnya gak bisa sampai membeli Ioniq 5 yang harganya paling murah Rp748 juta (tipe Prime Standard Range), Wuling sudah bikin kejutan dengan menjual mini EV murah.

    Mobil listrik buatan Wuling bernama Air ev dijual dengan harga jauh lebih terjangkau. Paling murah Rp238 juta (tipe Standard Range), sedangkan paling mahal dijual Rp295 juta (tipe Long Range).

    VIDEO: Test Drive Hyundai Stargazer, Surabaya Solo

    Sebetulnya, ada pilihan mobil listrik kelas medium seperti Ioniq 5, yakni Nissan Leaf yang saat ini dijual di Indonesia mulai Rp728 juta.

    Tentu saja, semakin banyak brand yang bermain di mobil listrik akan menguntungkan masyarakat karena akan semakin beragam pula model-model yang ditawarkan dengan harga kompetitif.

    Lalu, apakah membeli mobil listrik akan memberikan keuntungan lebih kepada konsumen dibandingkan membeli mobil mesin pembakaran internal atau internal combustion engine (ICE)?

    1. Biaya Operasional Lebih Irit

    Harga Pertamax yang saat ini dijual Rp14.500 per liter, tentu saja membuat biaya operasional mobil ICE makin membengkak.

    Oleh sebab itu, membeli mobil listrik di era harga BBM mahal jadi opsi yang menarik.

    Jika kamu punya bujet yang bisa menebus unit Hyundai Ioniq 5 di dealer misalnya, akan lebih menguntungkan di sisi biaya operasional dibandingkan mobil ICE di kelasnya, seperti Honda CR-V 1.5 Turbo Prestige yang saat ini dijual Rp653.400 juta.

    Pengalaman kami menggunakan Ioniq 5 ketika test drive dari Senayan Park Jakarta ke Cikole, Bandung menggunakan varian Signature Long Range, saat itu cuma menghabiskan biaya cuma Rp129 ribu (asumsi harga per 1kWh di SPKLU Pertamina = Rp2.475).

    Rata-rata konsumsi listrik yang digunakan 14,6 kWh/100 km. Untuk perjalanan Jakarta-Bandung PP sejauh 357 km berarti butuh 52,122 kWh.

    Dengan catatan, baterai telah terisi 98 persen saat berangkat ke Cikole dan ketika sampai di Senayan Park, baterai masih tersisa 20 persen.

    Tak perlu ngecas di tengah jalan saat menempuh perjalanan sejauh 357 km (Senayan Park-Cikole Pulang Pergi).

    Nah, kami coba komparasi dengan Honda CR-V 1.5 Turbo Prestige yang punya kapasitas tangki bensin 58 liter.

    Untuk isi full tank bensin Pertamax pada CR-V menghabiskan dana Rp841 ribu.

    Ada catatan konsumsi CR-V mesin 1.5L turbo menghabiskan 12,5 km/liter (luar kota).

    Kalau saja CR-V melakukan perjalanan Senayan Park-Cikole PP sejauh 357 km maka membutuhkan biaya Rp414.120 atau Rp116 ribu/100 km.

    2. Biaya Service 0-50 Ribu Km

    Melansir lifepal, untuk biaya service Honda CR-V 1.5 Turbo Prestige menghabiskan biaya Rp4.777.100 untuk 1.000-50.000 km.

    Bandingkan dengan service mobil listrik Hyundai Ioniq 5. Head of Service Planning and Strategy Department PT Hyundai Motors Indonesia (HMID) Suprayetno mengatakan total biaya servis berkala Ioniq 5 hingga 75.000 km (5 tahun) berkisar Rp3,9 juta.


    3. Pengalaman Berkendara yang Senyap

    Pengalaman berkendara saat kami mengendarai mobil listrik begitu menyenangkan karena mesinnya nyaris senyap, dan begitu nyaman.

    Torsi instan yang dihasilkan EV juga bisa bikin pengendara kecanduan untuk memainkan pedal akselerator.

    BACA JUGA: Wuling Serahkan 100 Unit Air ev Pertama ke Konsumen

    4. Target Pemerintah RI Dalam Penggunaan Kendaraan Listrik

    Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arifin Tasrif mengatakan bahwa pemerintah memiliki target 400 ribu mobil listrik dan 1,7 juta motor listrik sudah beroperasi dalam kurun 2021 - 2025.

    Target tersebut bagian dari proses transisi energi di Indonesia dalam mencaapai netral karbon (net zero emission) di tahun 2060.

    Di tahun 2030, Indonesia diharapkan sudah ada 5,7 juta unit mobil listrik dan 46,3 juta motor listrik pada 2035.

    Selanjutnya, di tahun 2040, pemakaian mobil listrik di Indonesia ditargetkan 12,3 juta unit dan motor listrik 105 juta unit.

    Di tahun 2050 penggunaan mobil listrik ditargetkan naik jadi 38,2 juta unit sedangkan motor listrik jadi 205 juta unit.

    Bantu kami agar dapat mengenal kalian lebih baik dengan mengisi survei di sini