
Sekitar 10 tahun lalu, ketika kita bertanya ke anak-anak soal cita-cita, jawaban yang muncul mungkin jawaban yang itu-itu saja: pilot, dokter, hingga tentara. Tidak ada orang, atau pun anak-anak, yang pernah menempatkan profesi "YouTubers" sebagai cita-cita utama mereka.
Namun, keadaan dan zaman berubah. Kini berprofesi sebagai seorang pembuat video dalam platform YouTube, atau YouTubers, seolah telah menjadi hal yang wajar. Dalam riset yang pernah dilakukan Tirto kepada Generasi Z di Pulau Jawa dan Bali, ada sebagian kecil pelajar sekolah dasar dan sekolah menengah pertama yang memiliki cita-cita bekerja sebagai YouTubers.
Dengan dukungan miliaran pemirsa, bekerja menjadi seorang YouTuber memang hal yang menjanjikan. Hootsuite mencatat bahwa di tahun 2019 ini saja ada sekitar 1,9 miliar pengguna YouTube setiap bulannya. YouTube bukan hanya menjadi tempat arsip video bagi khalayak luas, tapi juga memungkinkan meraih pundi-pundi uang. Hal ini pula yang menjadi alasan utama mengapa YouTubers top dan populer terus menjaga produksi konten mereka.
Pertanyaannya: Siapa sajakah YouTubers yang populer dan top di Indonesia?
Melalui informasi dari laman Social Blade, Tirto mengolah daftar peringkat 100 YouTubers di Indonesia, yang diurut berdasarkan jumlah subscriber-nya (pelanggan tontonan suatu saluran di YouTube). Sedikit catatan: akun YouTube resmi saluran televisi, program televisi, dan label rekaman musik dikecualikan dari daftar tersebut.
Jika dicermati, dari 100 besar YouTubers di Indonesia dalam studi ini, hanya delapan YouTubers yang sebelumnya memiliki latar belakang selebritas.
Mereka adalah Rans Entertainment (5), Raditya Dika (8), Baim Paula (10), Deddy Corbuzier (15), dunia Manji (47), Sule Channel (55), The Sungkars family (78), dan Salshabilla TV (99).
Artinya, untuk dapat meraih popularitas di dalam ekosistem YouTube, seseorang tidak harus populer sebagai selebritas terlebih dahulu. Fenomena masuknya 10 saluran vlog dari keluarga Halilintar ke dalam daftar 100 besar YouTubers di Indonesia mempertegas argumen ini.
Sebagai catatan, keluarga Halilintar memang tidak datang dari dunia selebritas. Mereka mulai mendapat perhatian khalayak setelah sang ibu, Lenggogeni Faruk, menulis buku berjudul Kesebelasan Gen Halilintar: My Family My Team (2015).
Saat masuk ke dunia YouTube, keluarga Halilintar bahkan sanggup memasukkan tiga akun atau saluran YouTube anggota keluarga mereka pada daftar 10 besar: Atta Halilintar; SAAIHALILINTAR; serta satu akun keluarga, yakni Gen Halilintar.
Atta Halilintar bahkan menduduki posisi puncak dalam daftar tersebut. Tercacat akun Atta memiliki "pelanggan" sebanyak 17 juta pengguna, atau hampir 10 persen dari jumlah penduduk di Indonesia.
Mengapa genre Vlog Keluarga memikat? Jika anda adalah generasi X atau Y awal dan pernah mengenal MTV (Music Television), tentu akan ingat sebuah program reality show bernama The Osbournes.
Tayangan yang menampilkan kehidupan sehari-hari keluarga penyanyi heavy metal Ozzy Osbourne itu muncul perdana di MTV pada 5 Maret 2002. Konon, The Osbournes adalah program paling laris di MTV pada masa itu.
Tapi tidak hanya The Osbournes yang menyandang predikat reality show berkonsep "keluarga" yang populer. Dua dekade sebelumnya, terdapat pula serial "An American Family" yang diluncurkan PBS Amerika untuk kali pertama pada 11 Januari 1973.
Padahal konsep acara tersebut sederhana, yakni cerita soal Bill, Pat Loud, dan lima anak mereka yang pindah rumah ke Santa Barbara. Lika-liku hidup mereka ditampilkan dalam drama dokumenter televisi. Ceritanya berkisar mulai dari soal perkawinan yang akan berakhir, Bill yang sedang menghadapi krisis dalam bisnis, hingga soal pengakuan jati diri "gay" salah satu anaknya.
Melalui konsep itu, "An American Family" disebut-sebut sebagai salah satu tayangan reality show pertama. Yang menarik, acara ini laris ditonton khalayak Amerika pada saat itu.
Adegan-adegan yang terlihat "spontan" dalam video-video Raffi Ahmad dan Nagita Slavina di YouTube, atau bagaimana anak-anak keluarga Halilintar membelikan orang tua mereka hadiah mobil tentu tidak jauh beda dengan The Osbournes atau reality show sejenis. Bedanya hanya di medium penyalur. Dulu di televisi, sekarang di YouTube.
Sama seperti Marcel Boneff yang membahas mengapa komik silat dan roman remaja yang tidak realistis begitu disukai khalayak luas, reality show maupun konten bergenre vlog keluarga yang dibuat YouTubers adalah tayangan menghibur, penuh drama, dan sesekali keluar dari kenyataan sehari-hari. Potret inilah yang mungkin dicari sebagian besar penonton YouTube hari ini.
Baca juga artikel terkait PERIKSA DATA atau tulisan menarik lainnya Frendy Kurniawan